Hati-hati dengan “PEMUJA NAMA YAHWEH”
By GK on May 21, 2009 in Umum, Kehidupan Kristen
Saya tersentak ketika membaca brosur yang diterbitkan oleh YABINA (Yayasan Bina Awam - www.yabina.org), yang begitu mendiskreditkan “Pemuja Nama Yahweh”. Bahwa sebagian yang ditulis di brosur itu adalah fakta, tetapi kesimpulan yang dituliskan bisa menyesatkan, dan akan membuat stigma negatif bagi orang-orang yang tidak lagi menggunakan kata Allah untuk menyebut Tuhan Yahweh.
Saya juga tidak habis pikir, mengapa yang kontra dengan ‘pemulihan nama Yahweh’, tidak dapat memahami argumentasi dari beberapa diantara kami, dan mereka mengambil kesimpulan sendiri, seperti halnya dalam brosur “PEMUJA NAMA YAHWEH” itu.
Ada diantara mereka yang menganggap kami ini memuja NAMA dan bukan lagi mementingkan “pribadi yang punya nama”, dengan berbagai istilah dibuat, misalnya “kaum namais”, “asal bukan Allah”, termasuk “Pemuja nama Yahweh” ini. (saya gunakan ‘kami’ bergantian dengan ’saya’ , karena saya termasuk salah satu orang Kristen yang MENGAMBIL KEPUTUSAN untuk menyebut nama Yahweh dan tidak lagi menggunakan kata Allah dalam doa kepadaNya).
Begitu bodohkah saya, sehingga saya memuja NAMA dan bukan memuja YANG PUNYA NAMA? Begitu lemahkah iman saya, sehingga hanya IKUT-IKUTAN meninggalkan Allah dan menyebut Yahweh? Saya MERASA tidak demikian. Keputusan meninggalkan Allah, terjadi jauh sebelum saya belajar tentang nama Yahweh. Tidak semua argumentasi/alasan dapat saya kemukakan, tetapi itu keputusan iman, keputusan pribadi saya, setelah melalui pergumulan yang serius, seperti halnya ketika saya dapat YAKIN bahwa Yesus (Yeshua) itu adalah Tuhan, itu melalui pencarian spiritual yang serius, sekalipun saya dilahirkan dalam keluarga Kristen dan sejak kanak-kanak sudah diperkenalkan doktrin Kristen. Saya tahu, beberapa teman yang saya kenal, keputusannya meninggalkan Allah dan menyebut Yahweh, dilakukan setelah melalui pergumulan iman yang “tidak asal-asalan”, jadi saya merasa perlu memberi komentar atas brosur “PEMUJA NAMA YAHWEH” itu.
Yang pertama, silakan baca tulisan “SURAT TERBUKA UNTUK PARA ‘PENGAGUNG’ YAHWEH” yang saya tulis tanggal 1 Januari 2008. Kedua, mohon baca juga tulisan saya “ADA, MENGADA DAN MENJADI ADA“. Prinsipnya saya menyebut nama YAHWEH, karena menurut pemahaman saya, di dalam nama “YAHWEH” itu terkandung MAKNA (arti) yang dapat menjelaskan SIAPA TUHAN saya. Jadi jangan asal tuduh, bahwa saya hanya memuja NAMA, saya mengakui PEMILIK nama itu, yaitu DIA YANG ADA dari kekal sampai kekal. (baca juga Kitab Wahyu 1:4 “.. Dia, Yang Ada, Yang Telah Ada dan Yang Akan Datang..” –KS-ILT ; lihat bahwa Dia di ayat itu dibedakan dari Yesus Kristus (ayat 5))
Berikutnya, mengapa NAMA menjadi begitu penting?
Ya.. memang penting, ini saya tangkap dari beberapa ayat di Kitab Suci, misalnya:
Yesaya 52:6 Sebab itu umat-Ku akan mengenal nama-Ku dan pada waktu itu mereka akan mengerti bahwa Akulah Dia yang berbicara, ya Aku!
Dan masih banyak lagi ayat yang menyatakan tentang “nama Tuhan” , misalnya Mazmur 91:14, Wahyu 14:1 dan lain-lain
Baca juga tulisan saya “Nama YHWH di seluruh BUMI”
Ada lagi ayat ini:
Yesaya 65:1 Aku telah berkenan memberi petunjuk kepada orang yang tidak menanyakan Aku; Aku telah berkenan ditemukan oleh orang yang tidak mencari Aku. Aku telah berkata: “Ini Aku, ini Aku!” kepada bangsa yang tidak memanggil nama-Ku.
(Bukankah dari ayat itu dapat dimengerti bahwa ada bangsa yang TIDAK memanggil nama Tuhan, tetapi Tuhan berkenan untuk ditemukan oleh mereka. Ketika kita tahu bahwa nama Tuhan adalah YHWH –jelas tertulis di Yesaya 42:8–, kita dapat memilih, menjadi ‘bangsa’ yang tidak memanggil namaNya, atau yang memanggil namaNya, — saya pilih memanggil namaNya)
Mengapa YHWH dan bukan Allah?
Apakah salah jika tidak memakai kata Allah untuk menyebut Tuhan saya? Apakah salah jika saya tidak mengikuti kebiasaan di Arab, yang menggunakan kata Allah untuk menyebut Tuhan? Dari beberapa literatur yang saya baca, hingga saat ini masih terjadi KONTROVERSI mengenai (asal usul) kata Allah, ada yang menganggap bahwa Allah itu cognate dengan El, Eloah dan Elohim, tapi ada yang menganggap bahwa yang cognate dengan El, Eloah dan Elohim itu “ilah”. Ada yang menganggap Allah itu dari Al + ilah, ada yang menganggap Allah itu BUKAN dari Al + Ilah. Ada yang tidak mau menggabungkan Al +Ilah menjadi Allah, karena menurutnya tidak sesuai dengan kaidah bahasa Arab, dan tetap menuliskannnya Al Ilah. Ada yang menganggap Allah itu nama diri (proper name), ada yang menganggap Allah itu hanya nama sebutan. Ada yang menganggap Allah itu Tuhan pencipta langit dan bumi, ada yang menganggap Allah itu dewa bulan, ada yang menganggap dewa air, ada yang menganggap salah satu berhala di Mekah, dan masih banyak lagi anggapan tentang Allah.
Salah satu alasan saya tidak lagi menggunakan kata Allah, adalah karena kata itu masih KONTROVERSIAL, artinya ketika saya bersikukuh bahwa Allah yang saya maksud ialah “begini”, itu akan akan berbeda dengan Allah yang dimaksud oleh orang lain. Artinya ketika menyebut “Allah”, saya MENGINGINKAN arti/makna Allah itu menjadi SEPERTI YANG SAYA MAU. Dan kalau demikian, artinya saya memaksakan diri memberi arti dari Allah yang saya sebut itu MENURUT KEMAUAN SAYA sendiri, sedangkan faktanya, ada banyak pendapat tentang Allah. Apakah pendapat saya yang paling benar, dan pendapat orang lain yang salah? Tentunya saya akan menjadi EGOIS jika memaksakan arti Allah menurut kemauan saya. Jadi bagi saya, lebih AMAN, saya tidak menggunakan kata ALLAH yang kontroversial itu. Ini salah satu alasan saya. Dan perlu diketahui, bahwa saya lebih dulu meninggalkan kata ALLAH, dan baru kemudian belajar tentang nama Tuhan (YHWH). (silakan baca tulisan saya “ALLAH YANG MANA?“)
Silakan baca juga “JANJI NIKAH 2 ALLAH“, sebagai contoh kerancuan penggunaan kata Allah. Dan karena rancu, ya saya pilih tidak menggunakan saja. Sederhana bukan?. Jadi jangan dikaitkan pilihan tidak menggunakan kata Allah ini, adalah karena sedang “keluar dari kerukunan beragama dengan sesama penganut umat beragama di Indonesia dan masuk dalam sikap eksklusif Yahudi yang besikap kontra dengan semua yang berbau Arab/Islam dan berbau Kristen” (lihat brosur). Hm.. sama sekali tidak demikian, saya menghargai rekan-rekan yang memilih Allah sebagai Tuhan/sesembahan. Itu adalah pilihannya, namun saya memilih be-Tuhan YHWH, sesuai dengan ajaran Kitab Suci yang saya percayai. Saya punya banyak teman Muslim, bahkan teman-teman yang tidak beragama, dan mereka tahu bahwa Tuhan saya adalah YHWH, bukan Allah.
Di kalangan Kristen (juga Islam) sampai sekarang masih ada beda pendapat, apakah Tuhan-nya orang Kristen itu itu sama atau berbeda dengan Tuhan-nya orang Muslim. Demikian juga dikalangan Muslim, ada beda pendapat apakah Allah SWT yang diajarkan oleh Nabi Muhammad , itu sama atau berbeda dengan Bapa yang diajarkan oleh Yesus. Kalau ada beda pendapat begitu, lantas saya harus memilih yang mana?
Misalnya, apakah saya harus tetap menggunakan kata Allah, dan Allah yang saya maksud itu bukan Allah SWT. Apakah saya harus dapat dimengerti bahwa Allah yang saya maksud adalah Allah Bapa, Allah Anak dan Allah Roh Kudus, sedangkan rekan-rekan Muslim percaya bahwa Allah itu tidak beranak dan diperanakkan? Apakah saya harus beradu argumentasi tentang Allah, bahwa Allah yang saya maksud adalah begini-begini, bukan Allah yang begitu-begitu.
Ya, karena saya memilih percaya pada Kitab Suci, dari pada saya pusing dengan kata Allah, apakah itu Allah Bapa atau Allah SWT, saya memutuskan tidak menggunakan kata Allah. Saya sebut Tuhan dengan kata “Tuhan” atau “Bapa” saja, tetapi saya tidak sebut Tuhan Allah, atau Bapa Allah, atau Allah Bapa. Sebab dalam Yesaya 64:8 tertulis: “Tetapi sekarang, ya TUHAN, Engkaulah Bapa kami! Kamilah tanah liat dan Engkaulah yang membentuk kami, dan kami sekalian adalah buatan tangan-Mu”.
(dari KAMUS Alkitab bagian belakang, TUHAN (huruf besar semua) adalah Yahweh., jadi ayat itu mestinya berbunyi: “Tetapi sekarang, ya YAHWEH, Engkaulah Bapa kami! …”). Bukankah jelas bahwa Bapa itu YHWH, bukan ALLAH. Ya… antara lain kemudian saya juga berani menyebut Bapa Yahweh, dan tidak lagi menyebut Bapa Allah atau Allah Bapa.
Jadi, kalau YABINA membuat brosur “PEMUJA NAMA YAHWEH” dengan kesan yang NEGATIF seperti itu, saya perlu bertanya, apa motivasi anda membuat brosur itu, karena KASIH, karena KETAKUTAN (kalau semakin banyak yang meninggalkan Allah dan menggunakan Yahweh) atau karena apa? Apakah salah jika seseorang meninggalkan Allah dan menggunakan nama Yahweh, dengan alasan PRIBADI, dan bukan karena sekedar ikut-ikutan mereka yang anda anggap perlu disadarkan karena “menjadi bagian dari sekte Yahudi yang fanatik dan meninggalkan agama Kristen” (lihat brosur). Saya SADAR dengan pilihan ini, saya orang Jawa (dan saya senang dengan filsafat Jawa) dan tidak akan menjadi sekte Yahudi, dan saya juga TETAP Kristen kok..dan tetap bergereja di Gereja Kristen Jawa, yang di Kitab Suci berbahasa Jawa ditulis YEHUWAH untuk nama Tuhan”
Beberapa argumentasi sudah saya tuliskan di website ini dalam beberapa topik tulisan dan komentar, menjawab komentar-komentar yang masuk. Walau masih ada juga alasan lain yang sangat pribadi yang tidak dapat saya kemukakan secara terbuka, ini berkaitan dengan “pengalaman iman” saya sendiri, dan hanya dapat saya share kepada beberapa orang saja secara lisan. Alasan saya tidak harus anda mengerti, dan kalau anda tidak mengerti .. ya jangan asal menuduh, “mereka juga tidak mencerminkan sifat Roh Kudus yang menyatukan, sebab mereka sendiri mudah sekali terpecah-belah” (lihat brosur). Apakah anda tidak melihat “balok” di depan mata, bahwa kekristenan juga terpecah-pecah tidak karuan, apakah itu sifat Roh Kudus? Lantas, apakah karena kekristenan terpecah-pecah, berarti kita tidak perlu jadi Kristen? Atau anda ingin menyatakan bahwa Kristen ‘ala’ anda yang paling benar, dan Kristen yang lain itu salah, menyimpang dan sesat?
Ingat Matius 7:21-23, tidak ada orang Kristen/kelompok Kristen yang akan dengan rela mengakui bahwa “itu saya” atau “itu kami”, pasti semua orang Kristen/kelompok Kristen yakin bahwa, yang dimaksud Yesus di ayat-ayat itu adalah “bukan saya”, “bukan kami” atau “bukan gereja kami”.
Terakhir, kalau di bagian akhir dari brosur, anda tulis “Kiranya damai sejahtera Allah menyertai Pemuja Nama Yahweh” (lihat brosur), hm… para “pemuja Yahweh” tidak perlu damai sejahtera Allah, mereka perlu damai sejahtera dari Bapa Yahweh. Anda itu bagaimana…malah akan memaksakan konsep Allah yang anda pahami itu pada ‘Pemuja Nama Yahweh’. Bukankah akan ‘netral’ kalau misalnya anda tulis saja: “Kiranya damai sejahtera Tuhan…..”
OK.., saya tidak mau berdebat dengan anda, jika anda menyebut beberapa dari kami: “mau benar sendiri, memaksakan pendapat dan kehendak sendiri” atau “orang-orang yang tidak dapat berdiskusi secara baik untuk meluruskan kebenaran” (lihat brosur), itu karena anda juga tidak mau mengerti argumentasi kami. Anda juga ingin memaksakan pemahaman bahwa MENURUT ANDA, kata Allah itu sudah TEPAT, sudah BENAR dan tidak perlu dikritisi, sudah ‘pas’ digunakan oleh orang Kristen, (dengan dasar bahwa orang Kristen Arab sudah menggunakan kata itu sejak dulu kala) tanpa mau tahu bahwa rekan-rekan Muslim memahami kata Allah itu BERBEDA dengan Allah yang anda pahami. Lalu, anda mungkin beralasan, khan Allah mereka itu Allah SWT, atau khan Allah mereka itu Auwloh.
Bukankah membingungkan ketika dalam Alkitab LAI ada allah, Allah dan ALLAH. Bayangkan betapa sulitnya saya mengajarkan kepada anak saya yang BALITA, untuk memahami allah, Allah dan ALLAH, atau Tuhan dan TUHAN. Bukan hanya BALITA, anda boleh uji berapa banyak orang Kristen yang paham bahwa dalam Alkitab terbitan LAI itu, allah berbeda dengan Allah dan berbeda juga dengan ALLAH, dan bahwa Tuhan berbeda dengan TUHAN. Berapa banyak orang Kristen yang memahami bahwa nama Tuhan itu YHWH?
Kalimat “Allah Israel ialah Allah” di Kejadian 33:20, tidak berarti apa-apa kecuali sebuah kerancuan bahasa. Juga kalimat di Mazmur 8:10 “Ya TUHAN, Tuhan kami, betapa mulianya nama-Mu di seluruh bumi!”, bukankah lebih mudah dijelaskan jika ditulis seperti bahasa ‘asli’ nya: “Ya YAHWEH, Tuhan kami…..”
Oh ya.. nampaknya anda juga perlu beradu argumentasi dengan pemerintah Malaysia yang melarang penggunaan kata Allah digunakan oleh non Muslim. Anda perlu membela artis penyanyi Agnes Monica yang pernah dilarang disana menyanyikan lagu yang ada kata “Allah”-nya. (dan.. mestinya anda MERASA bahwa argumentasi anda yang paling benar khan….?!)
Saya menyayangkan adanya brosur seperti itu, akan membuat ’stigma negatif’ bagi orang-orang yang menyebut Yahweh dan meninggalkan Allah. Brosur semacam itu akan menimbulkan salah mengerti dan dapat memancing ‘ketidaksenangan’ terhadap orang-orang yang menyebut nama Yahweh. Saya sudah mengalaminya, ada orang yang langsung “antipati” dengan saya, bahkan menuduh saya tidak percaya kepada Tuhan Yesus, ada yang menganggap saya Saksi Yehuwa, hanya karena saya percaya kepada Tuhan YHWH.
Salam dari saya, (bukan hamba Allah).
090520
(setelah pulang dari kebaktian ‘ulang tahun’ kenaikan Tuhan Yesus –hm.. kalau Tuhan Yesus ‘naik’ ke surga, berarti surga itu di’atas’, karena bumi itu BULAT dan ‘atas’ itu bisa ke segala arah langit, lalu surga itu tepatnya dimana? ha ha ha..bercanda… )
NB. Ada sedikit pertanyaan:
Apakah Tuhan anda adalah
(ini ALLAH (Tuhan) dalam huruf Arab lho… )
atau (ini YHWH (Tuhan) dalam huruf Ibrani)
atau menurut anda, =
(toh hanya bahasa dan huruf saja)
Bagaimana?


Jika anda ingin terbebas dari kuasa kegelapan (kuasa Setan), mungkin Tim dari

dikelola seorang awam, bukan aktivis
gereja.

Jika Allah hanya masalah BAHASA dan HURUF Arab saja, mengapa orang Kristen tidak menyebut “Allahuakbar” (Allah Maha Besar, Tuhan Maha Besar, God is Great) sebagai “pengakuan akan kebesaran Tuhan” ?

Inilah Allahuakbar itu:
Apakah anda yang Kristen, memasang kaligrafi semacam itu? Jika tidak mengapa? Toh hanya masalah BAHASA dan HURUF saja…(tanya kenapa ?!)
GK | May 21, 2009 | Reply
Terimakasih Bapa YAHWEH, karena kini kami mengenal nama-Mu yang mulia. Setelah berabad-abad karena Septuaginta namaMu disembunyikan dalam Alkitab kami.
cqs | May 22, 2009 | Reply
Amin.. terimakasih,Bapa Yahweh…
jack | May 22, 2009 | Reply
Terpuji nama Bapa YAHWEH karena firman Mu dalam Zephaniah 3:9 “Tetapi sesudah itu Aku akan memberikan bibir lain kepada bangsa-bangsa, yakni bibir yang bersih, supaya sekaliannya mereka memanggil nama YHWH, beribadah kepada-Nya dengan bahu-membahu”, mulai digenapi
cqs | May 23, 2009 | Reply
Wah saya sekilas sangat terkesan dengan kata-kata apakah kita memiliki kaligrafi nama Allah bahasa arab ? jika tidak mengapa?
jawabanku sederhana: aku tidak punya karena itu nama Allah yang berbeda dengan Allahku kareana boleh anda cek ke mereka konsep keTuhanannya pasti berbeda mereka menyakini tidak ada konsep keselamatan melalui YESUS, ok nama boleh beda tetapi kalao konsepnya beda ya menurut saya ya jadi beda tetapi bila Nama berbeda tetapi konsep keselamatannya sama ya saya oke oke saja…
demikian pendapat saya kiranya menjadikan kita semakin dikasihi TUHAN….
Yakub | May 27, 2009 | Reply
Saya percaya bahwa yang menentang akan Nama Yahweh hanya memandang dari sudut nama saja.Padahal Yahweh adalah Elohim yang menciptakan langit dan bumi yang menyatakan diriNya kepada manusia melalui Yeshua.HaleluYah
Kurniady Barus | May 29, 2009 | Reply
Great..sekarang justru yg perlu di injili org2 kristen itu sendiri..
masa hal sesimple ini sulit bgt untuk di terima..
simple aja lah..kalo emang nama BAPA di surga itu YAHWEH..gunakan itu..
toh emang TUHAN ingin nama-NYA di sebut..
allah itu sangat kontroversi..malahan bisa jadi itu adalah salah satu dewa baal yg menyebabkan kejatuhan Israel..hemmmm…
GOD is YAHWEH
YAHWEH is not allah..
and JESUS the son of YAHWEH..
not the son of allah..
YAHWEH adalah ROH..
allah adalah zat..
itu jauh berbeda..
Be bless all
Robin | Jun 5, 2009 | Reply
@Pro ALLAH,
Berarti benar kata temen2 saya yang Muslim, bahwa negara Indonesia sudah selayaknya menjadi negara Islam karena hampir seluruh penduduk Indonesia menyebut dan menyembah Tuhan ALLAH!! Mereka bilang, alhamdulillah .. asma/nama ALLAH disebut, dimuliakan, disanjung dan disembah oleh banyak orang Indonesia (yg non Muslim).
Waduh, .. gimana tuh, .. berarti kita boleh dong di gereja menyanyikan, lagu How Great is Our GOD —— menjadi ALLAHU AKBAR .. sing with me ALLAHU AKBAR … ALLAHU AKBAR!!
@Semuanya:
Saya jemaat biasa, hanya saja saya senang baca dan suka meneliti. Dari pada saya bingung dengan banyak pendapat (ada cacian, makian, ada yg ngotot dsb … ada yang bawa akar2 bahasa bahwa ini itu akarnya dari ini dan itu — pusing), saya lebih baik BACK TO THE BIBLE!! Jika di dalam Alkitab (bahasa asli — bukan terjemahan, karena terjemahan bisa salah) ada kata/nama ALLAH —- ya mari kita puja ALLAH! Namun jika di dalamnya tidak ada nama ALLAH tetapi ada YHWH ya harus percaya dong, bahwa Tuhan kita adalah YHWH .. KALAU MENGAKU KRISTEN JIKA TIDAK PERCAYA PADA KITAB SUCI (BIBILE:PB DAN PL) ya jangan jadi orang Kristen!!
Halelluyah! Terpujilah nama YAHWEH!
Red Tomato | Jun 5, 2009 | Reply
kasian yach Tuhan YESUS.Jadi perantara manusia dengan ALLAH BAPA/YHWH tapi bingung mau ngirim ke ALLAH, BAPA, atau YHWH yach?
Kalau Tuhan YESUS aja salah kirim,lalu sia-sia donk YESUS jadi perantara kita?
Ah ndak lah.YESUS paket Express tanpa salah kirim.Amin
Setiap manusia dihakimi oleh perkataannya sendiri.
pinokio | Jun 8, 2009 | Reply
@pinokio,
yang bingung bukan Yesus, tapi pengikutnya, karena nggak tahu nama Bapa, sehingga diganti menjadi Tuhan eh..TUHAN (huruf besar semua), bingung juga membedakan ‘allah’ ‘Allah’ dan ‘ALLAH’, coba anda sebut allah, Allah dan ALLAH apa ada bedanya? coba sebut Tuhan dan TUHAN, apa ada bedanya?
Menurut anda, Allah dan YHWH itu sama atau tidak? Apakah Allah yang dimaksud Nabi Mohammad adalah YHWH? Apakah Allah yang dimaksud orang Arab pra Islam adalah YHWH?
GKmin | Jun 8, 2009 | Reply
Ini adalah apa kata Pdt. Daniel Alexander, seorang missionaris yang diurapi Tuhan yang mengabdikan diri melayani Tuhan di Papua!
http://www.youtube.com/watch?v=Zsl2A_KfHgc
Gbu!
Red Tomato | Jun 8, 2009 | Reply
Ini adalah apa kata Pdt. Daniel Alexander, seorang missionaris yang diurapi Tuhan yang mengabdikan diri melayani Tuhan di Papua, mengenai Pemulihan Nama TUHAN:
http://www.youtube.com/watch?v=Zsl2A_KfHgc
Gbu!
Red Tomato | Jun 8, 2009 | Reply
yah mungkin anda bingung nyebut Allah,ALLAH,TUHAN,Tuhan.Saya gak tuh.
ALLAH disandingkan dengan agama ISLAM? Gak salah om….Emang nama ALLAH ada yang punya hak paten?Sama seperti NATAL? Ada-ada saja.
ALLAH mungkinkah sama dengan Al-illah?
Saya ma jawabnya sepele aja,IYA.YESUS TUHAN diatas tuhan, RAJA diatas raja.
Bukankah jelas….Saya kalau berdoa selalu DIDALAM NAMA TUHAN YESUS…doa saya nyasar atau TIDAKKKKK? Gampang kan…gitu aja dibuat rumit2an. NYASAR atau TIDAK?
pinokio | Jun 10, 2009 | Reply
@pinokio,
pertanyaannya,
apakah Allah yang anda maksud sama dengan Allah yang dimaksud orang lain?
jika tidak sama, mana Allah yang benar?
bukankah masing2 penyebut Allah akan mengklaim bahwa ‘definisinya’ yang paling benar? atau semua benar? benar menurut maunya sendiri-sendiri?
bagi saya, karena Allah itu kontroversial, ya tinggalkan saja..
coba baca (misalnya) http://www.beholdthebeast.com/islam__quran_and_666.htm
juga http://www.66619.org/thequran.htm
masih banyak lagi pendapat tentang Allah
coba baca http://gkmin.net/?p=85
GKmin | Jun 10, 2009 | Reply
gara2 kontroversial kita tinggalkan.ck.ck.ck.Case closed.
pinokio | Jun 11, 2009 | Reply
@pinokio,
kalau masih kontroversial, artinya kebenaran anda, itu bagi anda sendiri, bukan bagi orang lain, pertanyaannya, mana yang betul-betul benar? kebenaran anda atau kebenaran orang lain?
GK | Jun 11, 2009 | Reply
wah om anda tu cuma mbulet2..bukankah penggunaan YHWH juga kontroversial.Anda itu makai standard ganda.Pakai standard tengah aja pak,gak bakalan jatuh koq kalau diparkir…
pinokio | Jun 11, 2009 | Reply
^
betul, si om nya lagi bingung. Dia tunjuk orang lain, tiga jari nunjuk diri sendiri. Kayaknya si om ini lagi mencari kebenaran.
bobohok | Jun 12, 2009 | Reply
@bobohok,
anda sudah menemukan kebenaran? kebenaran yang seperti apa? menurut anda atau menurut siapa?
@pinokio,
apa saja kontroversial penggunaan YHWH ?
GK | Jun 12, 2009 | Reply
anda menulis
@pinokio,
apa saja kontroversial penggunaan YHWH ?
aduh..aduh…bukankah tulisan/atau blog ini sendiri sudah membuktikan adanya kontroversi?
Nyerah dech pak..Case closed.really…really closed for me in this site
Salam aja buat cik Lusi di UKSW.
PS: jangan pakai standard ganda pak.Gak konsisten.GBU.eh YHWH Bless U.
pinokio | Jun 13, 2009 | Reply
@pinokio,
apakah yang anda maksud dengan kontroversi YHWH itu karena ada banyak cara penyebutan?
silakan baca penjelasannya di http://www.revelations.org.za/NotesS-Name.htm
GKmin | Jun 13, 2009 | Reply
hobi iblis adalah bila tidak bisa menarik kita, maka mereka akan mendorong kita.
breadwine | Jun 28, 2009 | Reply
saya heran, YHWH kan ada di kamus alkitab.
kenapa disalahkan ?
berarti mau bunuh diri ?
breadwine | Jun 28, 2009 | Reply
Maaf betapa dangkal cara berpikir mengenai lagu tersebut.
Bukankah sudah selayaknya dinyanyikan how great is our GOD oleh “bule”
Dinyanyikan besarlah Tuhan oleh orang Indonesia.
Bukankah tepat jika dinyanyikan Allah hu akbar olleh orang Kristen arab.
Menyedihkan cara argumen tersebut.
Belajarlah tentang bahasa lebih baik.Jangan mempermalukan diri.
Setiap manusia dihakimi oleh perkataannya sendiri
pinokio | Jun 30, 2009 | Reply
@pinokio
dangkal?
coba baca dulu http://gkmin.net/?p=126
baca juga http://www.revelations.org.za/NotesS-Name.htm
GKmin | Jun 30, 2009 | Reply
to ALL
“Carilah dahulu kerajaan surga dan kebenaranNya maka semua akan ditambahkan”
Sebenarnya kalau saja semua orang yang mengaku kristen melakukan kehendak dan firman TUHAN TANPA KOMPROMI dan PILIH-PILIH,kita semua tidak akan terpecah,tapi sayangnya banyak orang kristen di akhir jaman yang sebenarnya tidak mengetahui dasar kekristenan itu sendiri yaitu PERTOBATAN DAN KELAHIRAN KEMBALI dan tentang hakekat KETUHANAN YESUS KRISTUS yang justru berusaha mengaburkan injil menurut pengertian mereka sendiri.
Lihat bagaimana kehidupan jemaat mula-mula,mereka tidak terpecah karena hanya ada Roh Kudus yang adalah Roh TUHAN YESUS sendiri yang memimpin mereka (Kisah Para Rasul) dan apakah Roh Kudus itu ada berbagai macam versi ? dan bukankah Roh Kudus sendiri adalah Roh yang membawa semua dalam keteraturan bukan perbantahan ? (1Korintus 4:39-40).
Mari kita lihat kembali kekristenan sebagai sesuatu yang paling dasar yaitu berbicara tentang YESUS dan KEHENDAKNYA yang menjadi satu dan satu-satunya untuk SEMUA UMAT MANUSIA.
Bertobatlah dan beri dirimu dibabtis dalam air dan Roh dan TUHAN sendiri yang akan memberikan pengertian YANG BENAR tentang siapa diriNya (2Korintus 4:2-4) !!!
Saya tidak menyoroti penggunaan nama mana yang benar dan saya sendiri SUDAH DIBUKAKAN secara pribadi tentang mana yang benar dalam hal ini.
Akan percuma kalau kita hanya membawa masalah ini dalam forum tanpa ada dasar penundukan diri terhadap FIRMAN TUHAN YANG BENAR,karena nantinya ini hanya akan membawa kita dalam PERDEBATAN untuk mencari kebenaran MENURUT PENGERTIAN KITA SENDIRI bukan lagi menurut KEBENARAN FIRMAN TUHAN dan kalaupun kita membawa-bawa FIRMAN TUHAN itu hanya sebagai SEBUAH ALAT ARGUMENTASI semata.
So,untuk GK,luar biasa TUHAN memakai anda untuk memberitakan kabar ini tapi lebih dari itu semua silahkan anda CEK KEMBALI kehidupan pribadi anda dengan TUHAN karena anda tentu tahu bahwa bukanlah orang yang berseru padaNya TUHAN-TUHAN yang akan masuk dalam kerajaan surga tapi orang yang MELAKUKAN KEHENDAKNYA (hakekat YESUS sebagai TUHAN dan juru selamat) dan tidak ada yang TERSEMBUNYI dihadapan TUHAN.
Bahkan untuk seorang nikodemus pun yang notabene seorang yang BANYAK MENGERTI TENTANG (ILMU) TUHAN,YESUS mengatakan bahwa dia harus mengalami PERTOBATAN DAN KELAHIRAN KEMBALI.
Untuk yang lain,
apakah anda semua menganggap bahwa TUHAN YESUS yang kita sembah tidak mampu untuk membela namaNYA sehingga kita harus membawa ini semua dalam sebuah perbantahan tidak berujung?
Lagipula APA GUNANYA apabila anda mengetahui SEMUA tentang TUHAN tapi toh pada akhirnya anda RAGU akan keselamatan anda atau bahkan anda TIDAK DISELAMATKAN (baca di MATIUS 7:22-23).
Sekali lagi untuk semua,
Bertobatlah dan beri dirimu dibabtis dalam air dan Roh dan TUHAN sendiri yang akan memberikan pengertian YANG BENAR tentang siapa diriNya (2Korintus 4:2-4) !!!
Mikha Surya Atmaja | Jul 3, 2009 | Reply
Saya dulu seorang muslim yang sangat kuat memegang doktrin Islam, dan kemudian Tuhan Yesus menjamah saya sehingga saya mengikut Yesus sejak tahun 2000.
Saudara2 ku umat Kristiani, perlu anda fahami bahwa bagi umat Islam adalah amat sangat penting menyebut nama Tuhan yang mereka sembah dengan benar.
Contoh nama ALLAH harus diucapkan “AWLOH”. Jadi saya memang sempat berfikir mengapa orang2 Kristen juga menyembah ALLAH tetapi menyebutnya dengan ucapan “ALAH”. Bagi umat Islam ini sangat dilarang karena dapat dianggap melecehkan nama Tuhan. Sehingga apabila orang2 Nasrani beranggapan bahwa ALLAH yang mereka sembah adalah sama dengan ALLAH yang disembah oleh saudara2 kita Islam maka anda bisa dikategorikan melecehkan nama Tuhan bagi umat Islam.
Setelah sekian tahun lamanya saya mencari dan mencari pengetahuan tentang nama Tuhan Sang Pencipta Alam Semesta ini, bahwa Yahweh itulah namaNYA sesuai yang tertulis di kitab suci Kristen aslinya.
Dan berarti menurut saya ALLAH yang disembah oleh saudara kita Islam adalah berbeda dengan Tuhan Chalik langit dan bumi yang diberitakan oleh kitab suci Kristen yang dengan jelas tertulis namaNYA sebagai YHWH.
Kalau Tuhan selalu meminta kita untuk menyembah, memuji, mengagungkan, memuliakan ” namaNYA ” maka apakah kita sudah benar melakukannya?
Bahkan kita malah meminjam nama lain yang tidak ada dalam kitab suci kita, sungguh ini mendukakan DIA.
Bahwa NAMA DIRI tidak dapat diterjemahkan atau disetarakan dengan yang lain.
Contoh :
Nama saya Tri Utomo, kemudian karena kehebatan prestasi saya dalam salah satu bidang olah raga serta merta orang Jakarta memuji muji nama saya dengan ” Hidup Tiga Utama….Hidup Tiga Utama……” ya semua orang tidak tahu siapa yang bernama “Tiga Utama” itu meskipun Tiga Utama itu berarti Tri Utomo ( bahasa Jawa ), dan yang lebih parah lagi saya tidak mengetahui kalau saya dipuji-puji orang Jakarta itu, pujian mereka tidak saya rasakan. Dan amat sangat lebih parah lagi bila mereka menyetarakan nama saya dengan nama lain misalnya “Benjol” dan dipujilah, diagungkanlah saya dengan “Hidup Benjol!…..Hidup Benjol!…….”, maka saya akan semakin bengong siapa si Benjol itu.
Bahkan saya malah bergumam : ” Orang2 itu aneh, lha wong saya yang berprestasi yang dipuji kok orang lain yang bernama “Tiga Utama” atau si “Benjol” itu?. Saya malah penasaran kayak apa sih tampang orang yang bernama “Tiga Utama” ataupun si “Benjol”itu? mau saya tantang dia!!!
Nah dengan berpegang perumpamaan tersebut diatas saya menjadi yakin bahwa ALLAH yang disembah oleh saudara kita Islam adalah berbeda dengan Tuhan Chalik langit dan bumi yang diberitakan oleh kitab suci Kristen yang dengan jelas tertulis namaNYA sebagai YHWH.
Kalau ada yang berargumen bahwa dengan menyebut nama ALLAH kenyataannya diberkati melimpah, maka perlu difahami bahwa berkat-berkat duniawi tidak dapat dipakai sebagai tolok ukur akan kebenaran hubungan dengan Tuhan. Banyak manusia hidupnya berlimpah ruah meskipun mereka tidak mengenal Tuhan.
Ok saya bersyukur bahwa Tuhan telah memberikan hikmat akan kebenaran namaNYA yang wajib kita muliakan, kita agungkan, kita puji.
Biarlah kebenaran itu akan tetap menjadi kebenaran.
Tuhan Yesus memberkati.
Yons | Sep 2, 2009 | Reply
Bukankan sudah diperingati olehNya bahwa akan banyak yang membenci bila kita memberitakan kebenaran.
And, YAHWE adalah kebenaran.
nn | Oct 4, 2009 | Reply
Yehshuah is the Son of Yahweh..
Yehshuah Ho Moshiach..
Keep in the name of Yahweh, Yeshuah Ho Moshiach is coming..
Yahweh bless you, boy !!
Naaman | Oct 4, 2009 | Reply
Menanggapi tulisan2 diatas, sudah lama sekali saya cari hal ini. Benar yang tertera dapat dilihat. (Yesaya 52:6. Sebab itu Umat-Ku akan mengenal nama-Ku dan pada waktu itu mereka akan mengerti bahwa Akulah Dia yang berbicara,ya Aku!.) Bukankah ada tertulis “Selidiki-lah” kebenaran itu? siapa yang meminta akan diberikan? Kesiapan setiap individu untuk mencerna akalpikir yang cukup terbuka amat sangat dibutuhkan mulai dari NOL.
maka akan didapat pengertian itu. Yang penting Jangan adalagi PEMBUNUHAN, ANARKIS, ataupun segala sesuatu yang Negative bagi setiap Orang
hanya karena Pembenaran keyakinan semata.
dengan BANGGA berbuat ANARKIS, MEMBUNUH, MEMPERKOSA,Dll. Jika hal itu dilakukan berarti secara tidak langsung sudah menyatakan bahwa Nama yang disembah itu adalah “SETAN”IBLIS atau
Lucifer. mengesahkan memberi berkat untuk berperang membunuh JIWA-JIWA manusia yang mau hidup DAMAI. renungkanlah…! mohon maaf jika adakata-kata yang tidak berkenan.
dari HAMBA yang Bodoh.
shendra | Oct 26, 2009 | Reply
@shendra: kata-kata ini cocok utk orang islam yg memang suka arogan dan suka perang atas nama Allah-nya..
Coil | Oct 26, 2009 | Reply
Kalau kita mengacu pada yang salah, kita akan tetap dalam kesalahan, ttp kalau kita mau mengacu kepada yang benar maka kita akan mengenal yang benar. Elohim YAHWEH dalam YESHUA HAMASHIAKH memberkati orang yang mau mengacu pada yang benar.
cqs | Oct 26, 2009 | Reply
Syalom,
Sy sbg pengikut Kristus yg concern akan masalah ini berusaha memandang dr kacamata ke-2 belah pihak.
Motivasi sy bkn utk tahu mana yg cocok buat sy, atau sy hrs memihak kpd yg Pro atau Kontra kata “Allah, tapi utk mengetahui manakah sebenarnya yg lbh berkenan di hati Bapa.
Stlh punya alasan2 yg cukup kuat, barulah sy membuat keputusan. Dan keputusan pribadi sy itu adalah meninggalkan pemakaian kata “Allah.” Anda bisa lihat alasan2 sy itu di http://www.kristenemasmurni.com/?page_id=654
Tuhan Yesus memberkati.
Budiman Lee | Nov 3, 2009 | Reply
Kita semua tidak dipaksa memanggil Yahweh atau Allah, begitu juga pilih surga atau neraka tidak ada pemaksaan dan yg lebih penting jangan hakimi saudaramu bila kamu anggap dia salah mari kita tetap mengasihi sesama umat kristen yang mungkin ada yg masih di level 1, 2, 3 atau level kesekian yg penting mari kita saling mengasihi namun mari tanya hati nurani masing masing untuk progress pengenalan kita akan Dia dg merenung dalam-dalam utk suatu kesimpulan.
marthin | Nov 8, 2009 | Reply
aduh aneh2 aja semua..begitu aja bikin ribut hati2 nanti bisa ada perpecahan padahal tuhannya kan sama..btw menurut gw si dari hati lo aja.logikanya gini di brazil kan banyak pemain bola latin yg namanya jesus siapa lah nah kalo misalnya lo kesulitan terus minta tolong berdoa sama jesus masa yg dtg jesus yg pemain bola?pasti yg dtg tuhan yesus.sama aja kyk kita kesulitan berdoa Allah tolong saya,masa yg tolongin kita Allah nya orang islam khan pasti yesus yg tolong.lagi nih misalnya anda panggil ayah anda Daddy saya panggil ayah saya Daddy juga lalu saya kesulitan atau dalam keadaan bahaya dan teriak Daddy tolong masa yang tolongin saya daddy anda,bukan khan?tuhan yesus kan pernah bilang Aku mengenal domba2ku.Jadi jangan yg aneh2 deh yg bikin pecah gereja intinya satu yesus itu pencipta dan dia mati dikayu salib dan bangkit pada hari ke 3 kalo percaya ini udah selamat itu inti dari injil bahkan inti dari alkitab itu sendiri..alkitab adalah buku yg menuntun kita untuk beriman pada yesus,gitu aja kok repot,,tuhan yesus sedih tu liat kita ada2 aja orang
riki | Jan 31, 2010 | Reply
@riki,
sejak jaman dulu gereja sudah pecah-pecah lho..
kalau soal tahu, Tuhan maha tahu, kita nggak usah berdoa, nggak usah sebut nama apapun, Tuhan tahu kok..
Pepatah Cina: Awal kebijaksanaan adalah menyebut sesuatu dengan namanya yang benar.
GKmin | Jan 31, 2010 | Reply
@Riki,
adakalanya logika Tuhan bertentangan dengan logika manusia. Dan sy kira dlm urusan dg Tuhan sebaiknya lbh utamakan firman Tuhan yg sudah tertulis drpd persangkaan manusia semata.
Pd zaman skrg, sy temukan ada bnyk org Kristen yg lbh berpegang pd persangkaan manusia ttg Tuhan drpd firman Tuhan itu sendiri shg muncullah berbagai ajaran2 yg rada aneh dan tdk sesuai dg prinsip2 Firman Tuhan.
Ada jga org Kristen yg sy temukan terlalu mengandalkan rasa “damai sejahtera”, shg kalu ada ajaran yg mbwt mrk mrasa gk “damai sejahtera”, mrk anggap itu bkn dri Tuhan YESUS. Sy kira itu prinsip smcm itu mirip sebuah ajaran d agama buddha sekte maitreya yg menekankan pd “kebenaran hati nurani”.
Tok | Feb 1, 2010 | Reply
Saya melihat-lihat dokumentasi lama tentang artikel dan komentar2, saya menemukan yang ini, dan rasanya baik artikel dan komentar, temperaturnya panas sekali. Saya membaca brosur dari yayasa yabina itu, pernahkah ada teman2 yang mengecek kebenaran secara historis??? Sepertinya, tidak sukar untuk memperoleh kebenaran historis, apakah gerakan pemulihan nama Yahwe ini murni? Terus terang saya bukan orang yang menentang penggunaan nama YHWH, namun bagi saya, suatu nama tidaklah sepenting dari pribadi itu sendiri. Dan ini dapat dilihat dari komentar2 saya pada artikel2 lain. Salah satu yang harus teman2 periksa adalah tentang kemurnian motivasi gerakan ini, saya tidak menghakimi teman2 karena saya yakin bahwa teman2 mempunyai kemurnian motivasi terhadap Tuhan kita, namun apakah penggagas gerakan ini demikian? Yang saya tahu bahwa ada sekte golongan agama yang dapat digolongkan bidat menurut kekristenan, menggunakan nama YHWH ini dengan tujuan tidak murni. Demikian tanggapan saya, sekali lagi saya tidak bermaksud sedikitpun dalam komentar2 saya untuk menyudutkan teman2 yang menggunakan nama YHWH sebagai nama sebutan bagi Tuhan kita. Salam kasih.
Santo | Apr 9, 2010 | Reply
@Santo;
yang perlu diketahui adalah bahwa ada banyak orang yang meninggalkan Allah dan berani menyebut YHWH, tanpa tahu “history” dari “gerakan YHWHism” seperti yang ditulis dalam bukunya Ir. Herlianto. Orang-orang ini hanya berbekal “logika” memahami Kitab Suci, bahwa nama seharusnya tidak diterjemahkan. Ada juga beberapa teman yang meninggalkan Allah karena peristiwa supranatural. Misalnya pak Daniel Nur Aziz (Jogjakarta), yang meninggalkan Allah sejak tahun 1972 karena pernyataan ilahi.
Kesaksian:
Penyingkapan bahwa Allah itu adalah nama Berhala sebenarnya bukan sekarang2 yang dimotori oleh pak Suradi, tetapi beberapa tahun yang lalu tepatnya 12 April 1972 seorang pendeta yang bernama Nur Aziz Antono (Gembala Sidang Gereja Isa Almasih Jl. Muja-muju Yogyakarta)
Saat dia akan membuat KKR Lapangan diYogyakarta pada suatu malam dia didatangi oleh Tuhan Yesus sendiri yang meminta untuk pak Nur tidak lagi menyebut Allah, dalam KKR dilapangan, waktu itu pak Nur ketakutan sebab ini akan menjadi bahan tertawaan orang Kristen (pasti dianggap aneh, karena melawan arus) untuk itulah pak Nur minta tanda dari Tuhan pada pukul 14.00 siang dia berkata: Kalau memang ini dari Tuhan buktikan adanya hujan dan petir (padahal waktu itu sedang panas terik) dan tiba2 awan langsung menjadi gelap dan hujan datang selama 15 menit. Sejak saat itulah pak Nur Aziz tidak lagi mau menyebut kata Allah. Jika anda ingin dengar langsung kesaksiannya silahkan telpon 0274-371102. Pak Nur Aziz akan dengan senang hati akan menceritakan kisahnya pada anda semua.
Baca selengkapnya di http://groups.yahoo.com/group/islam-kristen/message/2259
(nomor telepon ytersebut masih valid, silakan dihubungi, jika menginginkan konfirmasi beliau)
GKmin | Apr 9, 2010 | Reply
Bersangkutan dengan peristiwa spiritual pribadi, saya tidak bisa berkomentar. Namun jika ingin dinyatakan sebagai kebenaran, haruslah diuji melalui Firman Tuhan yang telah dinyatakan dalam kitab suci. Sebelumnya saya telah menyatakan bahwa Abraham, bapak orang beriman, meletakkan imannya lebih didasarkan pengenalan atas pribadi dibandingkan pengenalan atas nama. Nama YHWH belum dinyatakan Tuhan kepada Abraham, Ishak, dan Yakub (Kel 6:3 Aku telah menampakkan diri kepada Abraham, Ishak dan Yakub sebagai Allah Yang Mahakuasa, tetapi dengan nama-Ku TUHAN Aku belum menyatakan diri), demikian pula dengan Musa, dibandingkan pengenalan nama, imannya lebih didasarkan pada pengenalan pribadi karena Allah menampakkan diri kepadanya (Kel 3:2,16, 4:1,5). Bahkan awal perkenalan Musa dengan YHWH dimulai bukan dengan perkenalan nama, Tuhan menyebut dirinya Allah ayahmu, Allah Abraham, Allah Ishak, dan Allah Yakub (Kel 3:6 Lagi Ia berfirman: “Akulah Allah ayahmu, Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub.” Lalu Musa menutupi mukanya, sebab ia takut memandang Allah). Kalau saja Musa tidak menuntut Tuhan menyatakan suatu nama, apakah Tuhan akan menyatakan nama? (Kel 3:13 Lalu Musa berkata kepada Allah: “Tetapi apabila aku mendapatkan orang Israel dan berkata kepada mereka: Allah nenek moyangmu telah mengutus aku kepadamu, dan mereka bertanya kepadaku: bagaimana tentang nama-Nya? –apakah yang harus kujawab kepada mereka?”). Jawaban Tuhan pada Musa pada waktu itu lebih menyatakan tentang penegasan arti bahwa Ia adalah Allah Abraham, Allah Ishak, dan Allah Yakub yang pada masa nenek moyang Israel dan sekarang mengutus Musa adalah Allah yang sama. (Kel 3:14 Firman Allah kepada Musa: “AKU ADALAH AKU.” Lagi firman-Nya: “Beginilah kaukatakan kepada orang Israel itu: AKULAH AKU telah mengutus aku kepadamu.”
Kel 3:15 Selanjutnya berfirmanlah Allah kepada Musa: “Beginilah kaukatakan kepada orang Israel: TUHAN, Allah nenek moyangmu, Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub, telah mengutus aku kepadamu: itulah nama-Ku untuk selama-lamanya dan itulah sebutan-Ku turun-temurun). Pada waktu itu, apa arti YHWH bagi orang Israel? Pasti yang bangsa Israel mengerti itu bukan nama diri Tuhan (karena mereka belum mengenal nama itu), namun YHWH bagi mereka mengandung arti Allah yang sama disembah oleh Abraham, Ishak, dan Yakub). Memang setelah beberapa waktu setelah pembebasan Israel dari Mesir, Allah menegaskan YHWH menjadi nama diri dan Musa menyatakan kepada bangsa Israel bahwa YHWH adalah nama diri dari Tuhan yang mereka sembah. Berdasarkan penjelasan saya, saya harap teman2 dapat melihat manakah yang lebih penting. Nama atau Pribadi yang menyebutkan? Jangan hanya persoalan nama, menggeser hakekat iman kristen. Salam Kasih.
Santo | Apr 9, 2010 | Reply
@Santo;
bagaimana dengan ayat ini:
Kejadian 4:26 Lahirlah seorang anak laki-laki bagi Set juga dan anak itu dinamainya Enos. Waktu itulah orang mulai memanggil nama YHWH.
Kitab Kejadian 4:26 itu sebelum jaman Abraham lho…
GKmin | Apr 9, 2010 | Reply
@ Santo
“Berdasarkan penjelasan saya, saya harap teman2 dapat melihat manakah yang lebih penting. Nama atau Pribadi yang menyebutkan? Jangan hanya persoalan nama, menggeser hakekat iman kristen. Salam Kasih.”
————–
Memang benar ketika hanya berkutat pada masalah NAMA tanpa mengetahui MAKNA dan ESENSI dari NAMA tersebut hanya akan menjadi sesuatu kemunduran dalam perjalanan iman kita. Sama halnya ketika kita menjalankan dan mengikuti berbagai ajaran dan ritual dalam kekristenan tanpa mengetahui esensi dari hal-hal tersebut, yang beberapa diantaranya ketika kita selidiki lebih lanjut ternyata BUKAN berasal dan berakar dari iman kristen.
Saya memutuskan meninggalkan nama allah dan dengan yakin menggunakan nama YHWH untuk menyebut (yang saya yakini sebagai) TUHAN, BUKAN karena saya mendengar, membaca dan atau dipengaruhi oleh (what so called) gerakan YHWHism (apapun bentuk dan namanya). Bahkan, sejarah dari YHWHism dan pernak pernik nya baru saya ketahui kemudian dan sampai saat ini masih menjadi bahan “bacaan” saya untuk menambah wawasan saya.
Terlepas dari kontroversi masalah nama “allah” yang sampai saat ini pun masih menjadi perdebatan apakah nama itu sudah benar mewakili penyebutan nama “Tuhan”, keputusan saya menyebut (yang saya percayai sebagai) TUHAN dengan nama YHWH karena nama tersebut mewakili PEMAHAMAN saya tentang (yang saya percayai sebagai) TUHAN dan pemahaman ini saya dapatkan setelah proses belajar, mencari dan bertanya yang (mungkin) dalam bahasa “rohani” disebut sebagai upaya “pengenalan akan Tuhan”.
Dalam perjalanan iman saya (yang sejak kecil terdidik ala kristen), saya sampai pada pemahaman bahwa (so called) TUHAN adalah DIA YANG ADA, yang menjadi SUMBER DAN AWAL dari segala yang ada, PENCIPTA ALAM SEMESTA. Saya tak lagi “mendefinisikan” Tuhan sebagai Yang begini begitu, Yang Maha ini itu,… dan sebagainya, (bagi saya definisi yang demikian adalah KONSEP tentang Tuhan), sebagaimana ungkapan Jawa tentang Tuhan “tan kena kinaya apa, tan kena winirasa”. Saya sepakat dengan pemahaman sederhana orang Jawa (dulu) yang memahami TUHAN sebagai SANKAN PARANING DUMADI.
Ketika saya mempelajari Alkitab, beberapa literatur dan sumber lain (termasuk website ini) serta dari hasil diskusi dengan beberapa teman, saya menemukan bahwa Alkitab SUDAH mengkonfirmasi pemahaman saya tersebut didalam nama YHWH yang artinya AKU ADA YANG AKU ADA (yang sama dengan pemahaman saya akan SANG ADA, DIA YANG ADA). Sayangnya, nama ini tidak pernah disebutkan dalam Alkitab terbitan LAI sehingga sekian lama saya tidak menemukannya.
Nah, setelah saya mengetahui hal ini, maka saya dengan mantap menyebut (yang saya percayai sebagai) TUHAN Semesta Alam dengan nama YHWH, dan meninggalkan nama “allah”. Mengapa demikian? Jika saya sudah menemukan satu nama yang secara tepat menerjemahkan pemahaman saya akan (yang saya percayai sebagai) TUHAN, mengapa saya harus menggunakan nama yang lain, kecuali jika nama tersebut pun memiliki makna yang sama dengan pemahaman saya tersebut. Saya pribadi menganggap nama “allah” adalah nama diri, bukan sebutan, meskipun hal ini masih menjadi perdebatan. Daripada memilih yang masih menjadi perdebatan, dan MAKNA nya tidak mewakili apa yang saya pahami tentang TUHAN, saya memilih yang sudah PASTI ada dasar penjelasan yang kuat karena terkonfirmasi dalam KITAB SUCI.
Jadi, bagi saya YHWH BUKAN SEKEDAR NAMA, karena NAMA YHWH MEREPRESENTASIKAN DIA YANG ADA, TUHAN PENCIPTA ALAM SEMESTA. Dan nama YHWH ini secara langsung menghubungkan saya kepada pemahaman saya tentang TUHAN; hal ini membawa saya pada pemahaman mengapa tentang pentingnya NAMA ini banyak disebutkan dalam Alkitab, bahkan dalam doa yang diajarkan Yeshua, bagian pertama menyebutkan pengagungan terhadap NAMA BAPA.
Jika kita memahami esensi di dalam nama itu, maka kita akan tahu bahwa ini BUKAN SEKEDAR NAMA, tapi SEBUAH NAMA YANG MEMBAWA KITA KEPADA KESADARAN AKAN DIA YANG ADA, TUHAN PENCIPTA ALAM SEMESTA.
Namun demikian, saya percaya sepenuhnya bahwa apa yang saya pahami ini bukan semata-mata hasil usaha saya, tetapi karena kasih Tuhan Yeshua yang berkenan membuat saya bisa memahaminya (Lukas 10:22).
YHWH Bless Us in Yeshua Name
citta | Apr 9, 2010 | Reply
Saya yakin bahwa pernyataan langsung TUHAN pada Musa merupakan kebenaran mutlak. TUHAN menyatakan bahwa Dia belum memberitahukan nama-Nya pada Abraham, Ishak, dan Yakub adalah suatu kebenaran. Waktu itu tentang , saya pernah menjelaskan tentang Kej 14, peristiwa pertemuan Abraham dengan Melkisedek, seorang imam El Elyon (Allah yang Maha Tinggi). Nama/gelar Melkisedek ini mengacu pada Allah yang ia sembah (yang bukan Elohiym ataupun YHWH). Melkisedek memberkati Abraham dalam nama El Elyon (Pencipta Langit dan Bumi) di mana ia menunjuk El Elyon sebagai Allah Yg Maha Tinggi (ay. 19-20). Raja Sodom memberikan harta bendanya kepada Abraham dan Abraham menolak sambil mengangkat tangannya kepada YHWH, El Elyon, Pencipta Langit dan Bumi (Kej 14:22). Abraham berkata dan bermaksud bahwa Ia juga menyembah Allah Yg Maha Tinggi, Allah yang sama (karena memang hanya ada satu Allah saja), tetapi ia mengenal-Nya dengan nama YHWH. Sepertinya bertentangan dengan pernyataan TUHAN sendiri, yang menyatakan bahwa Ia belum memperkenalkan nama-Nya pada Abraham, lalu mengapa Abraham dapat menjawab Raja Sodom bahwa Ia menyembah YHWH? Tentu ada maksud ketika Musa menuliskan demikian. Dalam Kej 14:22, Musa menuliskan YHWH untuk membuat perbedaan identitas/pengenalan antara Allah disembah Abraham dengan Allah yang disembah Melkisedek dan Raja Sodom, tetapi juga menyatakan persamaan hakekat bahwa Allah yang mereka (Abraham, Melkisedek, maupun Raja Sodom) sembah yaitu Allah Pencipta Langit dan Bumi, Allah Yang Maha Tinggi adalah Allah yang sama. Bukan berarti Abraham menyebut YHWH di kala itu. Saya belum tahu maksud Musa menuliskan YHWH dalam Kej 4:26, tentu ada maksudnya. Namun yang harus kita jadikan pegangan adalah bentuk pernyataan langsung TUHAN pada Musa. Itu pasti otentik. Dan Kel 6:3, merupakan pernyataan langsung TUHAN dan pengalaman yang dialami Musa sendiri.
Untuk Citta, saya bersyukur Anda mempunyai iman demikian. Anda menyebutkan yang paling penting dalam sebuah nama adalah makna/arti. Ketika LAI menterjemahkan YHWH dengan TUHAN, terlampirkan pernyataan makna/artinya, bahkan di dalam setiap terjemahan apapun bahasanya terlampirkan makna/arti dari YHWH (Kel 3:14). Sekarang mengenai pentingnya nama, Anda tahu Abraham disebut Bapak Orang Beriman, jika Abraham yang merupakan Bapak kita, panutan dalam iman, imannya tidak didasarkan kata/sebutan “YHWH”, mengapa kita harus bersikeras tentang nama bahkan tidak dapat mentoleransi terjemahan sebutan nama? Kalau Yesus dan murid2-Nya, serta penulis PB menganggap nama YHWH suatu harga mati harus disebutkan dan dituliskan. Saya rasa akan ditemukan kata YHWH di dalam tulisan asli PB. Bahkan di dalam pengajaran Yesus, percakapan Yesus, doa Yesus, tidak ada penyebutan YHWH (Anda boleh cek sendiri). Janganlah kita mengurangi atau menambah apa yang dinyatakan dalam Kitab Suci, karena penambahan dan pengurangan dari apa yang dimaksud fIRMAN Tuhan, hanya merupakan ajaran manusia belaka yang dibuat seolah-olah kehendak Tuhan, dan bukan kehendak Tuhan sesungguhnya. Salam Kasih.
Santo | Apr 9, 2010 | Reply
@ Santo
“Bahkan di dalam pengajaran Yesus, percakapan Yesus, doa Yesus, tidak ada penyebutan YHWH (Anda boleh cek sendiri)”
——-
Benar, memang Yeshua tidak menyebutkan NAMA YHWH, akan tetapi dalam pengajaranNYA tentang Doa, bagian pertamanya menunjuk pada NAMA BAPA (Matius 6:9). Apakah BAPA yang disebutkan pada bagian ini tidak penting..? Bagaimana dengan Rumah BAPA yang disebutkan dalam Yohanes 14:1-6). Saya teringat ketika Yeshua berdoa di taman Getsemani, DIA berdoa kepada BAPA. Dan dibanyak bagian yang lain dalam pengajaranNYA, Yeshua banyak menyebut tentang BAPA.
Hm.. lalu siapa BAPA yang dimaksud oleh Yeshua, dan siapa NAMA-NYA..? Karena Yeshua sendiri banyak mengajarkan dan menyebutkan tentang BAPA, maka saya pun merasa perlu untuk menyelidiki lebih lanjut tentang siapa BAPA ini, dan sampai hari ini saya meyakini bahwa BAPA yang diajarkan oleh Yeshua adalah SANG PENCIPTA ALAM SEMESTA, THE ALMIGHTY GOD.
Selain itu, sekalipun Alkitab tidak menceritakan Yeshua secara langsung mengajarkan tentang NAMA YHWH, tetapi Yeshua menyatakan bahwa kehadiran-Nya TIDAK untuk MENIADAKAN hukum Taurat dan Kitab para nabi, tetapi untuk menggenapinya. (Matius 5:17). Dan dalam kitab Taurat dan Kitab para Nabi dengan jelas banyak menyaksikan tentang NAMA TUHAN (YHWH).
Jadi, saya memahaminya bahwa sekalipun Yeshua tidak secara eksplisit mengajarkan tentang NAMA YHWH tetapi itu tidak berarti bahwa NAMA YHWH menjadi hilang dan tidak penting lagi.
== namun demikian, sekali lagi, saya tidak menyembah NAMA, iman saya kepada TUHAN SANG PENCIPTA ALAM SEMESTA (pun) tidak terbangun karena NAMA itu, tetapi saya memilih dan menggunakan NAMA YHWH untuk menyapa dan mengagungkan TUHAN SANG PENCIPTA ALAM SEMESTA karena NAMA itu sesuai dengan MAKNA-nya mewakili pemahaman dan pengakuan saya akan DIA YANG ADA. ==
dan menurut saya, NAMA (diri) tidak untuk diterjemahkan, kecuali jika itu adalah (nama) “sebutan”.
== YHWH Bless Us in the name of Yeshua Hamasiakh ==’
citta | Apr 9, 2010 | Reply
@Santo;
Janganlah kita mengurangi atau menambah apa yang dinyatakan dalam Kitab Suci, karena penambahan dan pengurangan dari apa yang dimaksud fIRMAN Tuhan, hanya merupakan ajaran manusia belaka yang dibuat seolah-olah kehendak Tuhan, dan bukan kehendak Tuhan sesungguhnya
Mengganti nama YHWH menjadi “TUHAN” dan “ALLAH” itu kehendak Tuhan atau kehendak manusia?
GKmin | Apr 9, 2010 | Reply
@citta;
tks penjelasan anda,
YHWH memang tidak sekedar nama, tapi itu yang banyak disalah mengerti rekan-rekan yang lain,
dipikirnya kita hanya berkutat soal nama.
Ya.. memang ada tahap dimana YHWH dimengerti sebagai nama belaka, namun ke tingkat yang selanjutnya, YHWH itu “makna”.
dan jelas makna YHWH adalah “DIA YANG ADA”
yang di Perjanjian Baru, dikonfirmasi di Wahyu 1:4.
ketika saya menyebut “YHWH” itu adalah sebuah pengakuan akan keberadaan ilahi, dan bagi saya, YHWH (DIA YANG ADA) itu tidak perlu dipersonifikasi begini-begitu, karena personifikasi YHWH sudah cukup dalam (diri) YESHUA.
ya semoga hal ini dapat dimengerti.
lha kalau Allah? artinya apa? -> http://gkmin.net/?p=85
ada banyak makna dari kata “allah” dan rekan-rekan Kristen yang menggunakan kata Allah untuk menyebut Tuhan (YHWH), pasti akan MERASA bahwa “definisi”nya yang paling benar, sedangkan FAKTA-nya ada “definisi” yang lain, jadi SESUNGGUNYA, definisi yang mana yang benar? Apakah kita tahu?
ya daripada bertahan dengan kata yang definisinya macam-macam, bagi saya lebih baik tidak gunakan kata itu.
GKmin | Apr 9, 2010 | Reply
Saya bersyukur bahwa saudari/saudara? Citta telah meletakkan imannya pada dasarnya yang benar, iman yang berpusat pada pribadi Tuhan bukan sekedar nama. Tapi tambahan Citta, kadang kala orang Kristen sering keliru, menganggap bahwa YHWH merupakan nama pribadi oknum Bapa, adakah ayat Kitab Suci yang menyatakan hal tersebut? Allah dalam Perjanjian Lama menyatakan diri sebagai YHWH, sedangkan dalam Perjanjian Baru, Allah menyatakan diri melalui 3 oknum yakni Bapa, Anak, dan Roh Kudus. Kesatuan Bapa, Anak, dan Roh Kudus adalah YHWH dalam Perjanjian Lama sehingga bukan oknum Bapa saja yang bernama YHWH. Ada pengajaran yang tergolong bidah/bidat, yang menganggap bahwa YHWH merupakan nama diri dari Bapa. Semoga Citta dapat membedakannya. Salam Kasih.
Santo | Apr 9, 2010 | Reply
Saudaraku Petrus, sekarang saya tanya Kalau YHWH diganti Adonai, kehendak Tuhan atau bukan? Kok, tidak ada nabi yang sekeras orang2 yang seperti Anda / teman2 Anda, yang berseru kepada bangsa Yahudi/Israel pada masa itu yang menyerukan bahwa bangsa Israel telah tersesat / berdosa / bersalah terhadap nama YHWH karena mengganti penyebutannya dengan Adonai? Saya tanya lagi, ketika para penulis kitab PB, mengganti YHWH dengan Theos dan Kurios adakah para rasul lain, selain penulis kitab, berkomentar bahwa penterjemahan tersebut keliru, ataukah dari jemaat mula2 yang menyatakan bahwa penterjemahan ini melanggar perintah Tuhan, ataukah dari orang2 percaya keturunan Yahudi yang juga menyatakan bahwa ini salah / tidak benar / tidak sesuai kehendak Tuhan karena nama pribadi Tuhan adalah YHWH dan nama diri tidak boleh diterjemahkan? Lalu mengapa gerakan nama YHWH ini adanya sekarang, bukan terjadi pada masa itu? Anda bisa merenungkannya mana yang menjadi kehendak Tuhan, penterjemahan namaNya atau memaksakan pemakaian kata YHWH.
Santo | Apr 9, 2010 | Reply
@Santo;
Siapa yang membagi menjadi Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru?
Apakah Tuhan di PB berubah/berbeda dengan Tuhan di PL?
Bagaimana anda mengartikan Yesaya 64:8 ? bukankah di ayat itu jelas bahwa BAPA adalah YHWH?
GKmin | Apr 9, 2010 | Reply
@Santo;
Lalu mengapa gerakan nama YHWH ini adanya sekarang, bukan terjadi pada masa itu? Anda bisa merenungkannya mana yang menjadi kehendak Tuhan, penterjemahan namaNya atau memaksakan pemakaian kata YHWH.
Apakah orang YAHUDI mengganti nama YHWH? Bukankah Adonai, Elohim, itu hanya sebutan, sehingga di KS tetap ada frasa Adonai YHWH, juga YHWH Elohim.
siapa yang memaksa menggunakan kata YHWH? yang saya tekankan adalah tidak menyebut YHWH dengan “Allah”.
Kalau kita pakai kata “Allah”, bukankah allah itu punya banyak makna? baca http://gkmin.net/?p=85
MENURUT anda, mana ‘definisi’ dari kata “allah” yang benar? Mana definisi yang SESUNGGUHNYA benar?
Apakah “Allah” yang dimaksud oleh Nabi Mohammad adalah YHWH ?
GKmin | Apr 9, 2010 | Reply
Siapa yang membagi perjanjian lama dan perjanjian baru?
Saudaraku, yang membagi Alkitab menjadi 2 bagian adalah Westminster Confession of Faith, yang mendaftarkan 39 kitab untuk PL dan 27 kitab untuk PB. Apakah pembagian kitab ini sesuai dengan kehendak Allah? Yer 31:31 sudah menubuatkan adanya perjanjian baru yang akan mengganti perjanjian lama yang dibuat YHWH dengan bangsa Israel. 2Kor3:14 menuliskan tentang perjanjian lama, para penulis PB melihat penggenapan nubuat tentang perjanjian baru itu dalam keadaan baru yang dimulai dengan karya Kristus sewaktu Ia mengadakan perjamuan kudus 1Kor 11:25. Ibr 8:13, menyatakan bahwa perjanjian lama telah menjadi tua dan usang. Kitab2 PL disebut demikian karena hubungannya erat dengan sejarah perjanjian tua dan usang itu. Kitab2 PB disebut demikian karena merupakan dokumen2 dasar dari “perjanjian yang baru”.
Apakah Tuhan di PB berubah/berbeda dengan PL?
Pengenalan kita kepada Tuhan harus didasarkan apa yang Tuhan nyatakan pada kita. (Matius 11:27 Semua telah diserahkan kepada-Ku oleh Bapa-Ku dan tidak seorangpun mengenal Anak selain Bapa, dan tidak seorangpun mengenal Bapa selain Anak dan orang yang kepadanya Anak itu berkenan menyatakannya). Firman Tuhan menyatakan bahwa Allah Israel adalah YHWH, namun Allah di dalam perjanjian yang baru menyatakan diri melalui 3 oknum: Bapa, Anak, dan Roh Kudus. Perlu diingat bahwa Alkitab bersifat progresif, artinya adanya penggenapan dan penyingkapan yang lebih jelas dari waktu yang lebih lama ke waktu yang lebih baru. Jelas Tuhan di PB tidak berubah ataupun berbeda, tetapi perlu diketahui bahwa Tuhan telah membuat suatu perjanjian yang baru, YHWH merupakan nama diri Allah bagi orang Israel, tetapi dalam perjanjian yang baru tidak ada satupun nats tulisan yang menyatakan nama diri YHWH. Allah telah menyatakan dirinya melalui 3 oknum, yaitu : Bapa, Anak, dan Roh Kudus. Berarti YHWH, Allah Israel dalam PL = (Bapa, Anak, dan Roh Kudus) dalam PB.
Bagaimana anda mengartikan Yesaya 64:8 ? bukankah di ayat itu jelas bahwa Bapa adalah YHWH?
Sebenarnya tidak aneh bahwa YHWH disebut Bapa, karena Tuhan menganggap Israel sebagai anak-Nya Kel 4:22 Maka engkau harus berkata kepada Firaun: Beginilah firman TUHAN: Israel ialah anak-Ku, anak-Ku yang sulung, Hosea 11:1. Ketika Israel masih muda, Kukasihi dia, dan dari Mesir Kupanggil anak-Ku itu. Tetapi perlu diingat juga bahwa sebutan Bapa akan disandang oleh mesias (Kristus), bukan hanya YHWH. Yesaya 9:6 Sebab seorang anak telah lahir untuk kita, seorang putera telah diberikan untuk kita; lambang pemerintahan ada di atas bahunya, dan namanya disebutkan orang: Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai.
Saya tidak ingin berdebat apakah Bapa adalah YHWH, karena dalam Perjanjian Baru, Tuhan menyatakan diri melalui 3 oknum ; Bapa, Anak, dan Roh Kudus, bukan atas nama YHWH. Jika Anda berpegang pada Yes64:8, saya hanya bisa mengartikan melalui Ibr8:13, suatu perjanjian yang telah tua/usang. Bukankah Tuhan sudah tidak lagi mengadakan perjanjian eksklusif dengan bangsa Israel tetapi perjanjian baru dengan bangsa-bangsa lain di luar Israel? Adakah istilah YHWH dalam dokumen2 dasar dari “perjanjian yang baru”. Apakah Tuhan memperkenalkan diri sebagai YHWH dalam perjanjian yang baru? Apakah Tuhan minta bahwa YHWH harus dituliskan/disebutkan dalam perjanjian yang baru? Jelas, Tidak.
Apakah orang YAHUDI mengganti nama YHWH? Bukankah Adonai, Elohim, itu hanya sebutan, sehingga di KS tetap ada frasa Adonai YHWH, juga YHWH Elohim.
Yang saya maksud mengganti adalah mengganti sebutan YHWH dengan Adonai. Istilah kasarnya adalah plesetan, dan bagaimanapun ini suatu bentuk penyimpangan, membaca tidak sesuai dengan tulisan. Karena bukan yang diganti tulisannya atau ditambah frase kata, tetapi orang Yahudi setiap menemukan kata YHWH, jika harus membacanya maka kata tersebut dibaca Adonai. Anda tidak bisa bilang bahwa tulisan benar diperbenarkan, tidak masalah dengan pengucapan. Bagaimana dengan Kel 20:7 Jangan menyebut nama TUHAN, Allahmu, dengan sembarangan, sebab TUHAN akan memandang bersalah orang yang menyebut nama-Nya dengan sembarangan. Di situ dibilang yang tidak boleh sembarangan adalah penyebutan bukan penulisan!
siapa yang memaksa menggunakan kata YHWH? yang saya tekankan adalah tidak menyebut YHWH dengan “Allah”.
Saya rasa saya tidak pernah menuduh Anda memaksa menggunakan kata “YHWH,” walau saya tahu Anda menekankan untuk tidak menggunakan kata “Allah.” Sedangkan saya merasa kita keliru jika meng-anti-kan istilah Allah. Keluaran 23:13 (Dalam segala hal yang Kufirmankan kepadamu haruslah kamu berawas-awas; nama allah lain janganlah kamu panggil, janganlah nama itu kedengaran dari mulutmu. Yosua 23:7 (dan supaya kamu jangan bergaul dengan bangsa-bangsa yang masih tinggal di antaramu itu, serta mengakui nama allah mereka dan bersumpah demi nama itu, dan beribadah atau sujud menyembah kepada mereka) shem acher elohiym = nama (identitas pribadi yang berimplikasi pada penghormatan, otoritas, dan karakter) allah/tuhan/ dewa/ilah asing /lain. Kedua ayat itu tidak meng-anti-kan istilah dewa/illah/allah, namun meng-anti-kan nama identitas diri dari dewa/illah/allah asing tersebut.
Contoh : Imamat 18:21 (Janganlah kauserahkan seorang dari anak-anakmu untuk dipersembahkan kepada Molokh, supaya jangan engkau melanggar kekudusan nama Allahmu; Akulah TUHAN) dan I Raja Raja 18:24 (Kemudian biarlah kamu memanggil nama allahmu (Baal)dan akupun akan memanggil nama TUHAN. Maka allah yang menjawab dengan api, dialah Allah!” Seluruh rakyat menyahut, katanya: “Baiklah demikian!)
Walaupun orang Islam menganggap bahwa Allah adalah nama diri Tuhannya, namun sesungguhnya bukan, dijelaskan bahwa dikalangan penutur bahasa Arab, istilah ini merupakan kata baku/kata umum yang dipergunakan oleh bangsa Arab,untuk menyebut Tuhan. Bukankah ada artikel yang Anda sampaikan bahwa istilah Allah jauh lebih dulu keberadaannya sebelum munculnya agama Islam? Mengapa kita harus mengikuti kebodohan mereka yang menyetujui klaim istilah Allah adalah eksklusif bagi mereka?
Dalam Kej 14, peristiwa pertemuan Abraham dengan Melkisedek, seorang imam El Elyon (Allah yang Maha Tinggi). Nama/gelar Melkisedek ini mengacu pada Allah yang ia sembah (yang bukan Elohiym ataupun YHWH). Melkisedek memberkati Abraham dalam nama El Elyon (Pencipta Langit dan Bumi) di mana ia menunjuk El Elyon sebagai Allah Yg Maha Tinggi (ay. 19-20). Raja Sodom memberikan harta bendanya kepada Abraham dan Abraham menolak sambil mengangkat tangannya kepada YHWH, El Elyon, Pencipta Langit dan Bumi (Kej 14:22). Abraham berkata dan bermaksud bahwa Ia juga menyembah Allah Yg Maha Tinggi, Allah yang sama (karena memang hanya ada satu Allah saja), tetapi ia mengenal-Nya dengan nama YHWH.
Belajar dari kasus Abraham, keliru jika kita meng-anti-kan istilah Allah, bukankah istilah Allah saat ini kurang lebih sama permasalahannya seperti istilah El Elyon yang dipakai Melkisedek dan Raja Sodom?
Kalau kita pakai kata “Allah”, bukankah allah itu punya banyak makna?
Saya tidak tahu deskripsi Anda tentang Allah darimana? Orang Yahudi ketika menyebut TUHAN dengan Elohiym, El, atau Eloah, yang dapat berarti dewa atau illah. Tidak menjadi masalah, bagi orang Yahudi dan bagi YHWH. Yang paling penting dan menjadi perbedaan adalah rujukannya.Yang jadi masalah jika Allah adalah nama identitas diri dari Tuhan orang Islam, tapi secara sejarah telah dibuktikan bahwa Allah bukanlah nama diri Tuhan orang Islam.
Apakah “Allah” yang dimaksud oleh Nabi Mohammad adalah YHWH ?
Saya tidak tahu apakah Allah yang dimaksud Nabi Muhammad merujuk pada YHWH, yang saya tahu Allah orang Kristen merujuk pada YHWH. Istilah boleh sama, tetapi rujukan dapat berbeda! Tapi bukan berarti istilah Allah tidak boleh / tidak dapat digunakan.
Santo | Apr 10, 2010 | Reply
Dan lagi setahu saya LAI tidak menterjemahkan YHWH menjadi ALLAH tapi TUHAN. Kata Tuhan, bukan nama sesembahan satu agamapun, bahkan saya rasa kata Indonesia “Tuhan,” dipengaruhi oleh kekristenan, yang berasal dari kata “Lord,” yang berarti “Tuan” berubah menjadi “Tuhan”.
Santo | Apr 10, 2010 | Reply
Mengenai Kej 4:26 (Lahirlah seorang anak laki-laki bagi Set juga dan anak itu dinamainya Enos. Waktu itulah orang mulai memanggil nama TUHAN) dan juga Kej 12:8 (Kemudian ia pindah dari situ ke pegunungan di sebelah timur Betel. Ia memasang kemahnya dengan Betel di sebelah barat dan Ai di sebelah timur, lalu ia mendirikan di situ mezbah bagi TUHAN dan memanggil nama TUHAN), Kej 13:4 (ke tempat mezbah yang dibuatnya dahulu di sana; di situlah Abram memanggil nama TUHAN), dan Kej 26:25 (Sesudah itu Ishak mendirikan mezbah di situ dan memanggil nama TUHAN. Ia memasang kemahnya di situ, lalu hamba-hambanya menggali sumur di situ), merupakan gaya bahasa Musa, bukan berarti mereka menyebut kata YHWH! Yang menarik adalah apapun kata sebutan yang dipakai jaman Enos, Abraham, Ishak, dan Yakub untuk menyebut Tuhan, Musa meyakini bahwa rujukannya adalah YHWH. Jadi jelas YHWH, bukan hanya sekedar masalah terjemahan, bahasa, dan istilah, yang paling penting adalah rujukan yang dikenal melalui pengenalan pribadi! Apakah istilah Tuhan dalam bahasa Indonesia atau Allah dalam bahasa Indonesia yang diucapkan orang Kristen Indonesia bukan YHWH?
Santo | Apr 10, 2010 | Reply
@Santo;
Dan lagi setahu saya LAI tidak menterjemahkan YHWH menjadi ALLAH tapi TUHAN. Kata Tuhan, bukan nama sesembahan satu agamapun, bahkan saya rasa kata Indonesia “Tuhan,” dipengaruhi oleh kekristenan, yang berasal dari kata “Lord,” yang berarti “Tuan” berubah menjadi “Tuhan”
ya hampir semua YHWH di KS, oleh LAI diganti menjadi TUHAN, tapi jangan lupa, ketika ada frasa “YAH YHWH”, LAI menuliskannya “TUHAN ALLAH”
Carilah kata ALLAH (huruf besar semua di Alkitab LAI), itu ‘pentererjemahan’ dari YHWH.
GKmin | Apr 10, 2010 | Reply
Itu ada di ayat berapa? Kalau di Obaja 1:1 Beginilah firman Tuhan ALLAH tentang Edom–suatu kabar telah kami dengar dari TUHAN, seorang utusan telah disuruh ke tengah bangsa-bangsa: “Bangunlah, marilah kita bangkit memeranginya!”. Tuhan ALLAH di situ adalah Adonay Yhovih. Adonay adalah sebutan umum untuk Tuhan yang berarti My Lord, sedangkan Yhovih merupakan Allah diucapkan oleh orang Yahudi sebagai Elohiym. Demikian pula di Zakharia 9:14, Tuhan ALLAH (Adonay Yhovih).
Santo | Apr 10, 2010 | Reply
@ Santo
tentang ayat Obaja 1:1, berikut referensi yang saya dapatkan dengan menggunakan software BibleWork :
Versi Hebrew Transliterated (BHT
BHT Obadiah 1:1 Házôn `ö|badyâ Kò|-´ämar ´ádönäy yhwh(´élöhîm) le´édôm šümû`â šämaº`nû më´ët yhwh(´ädönäy) wücîr BaGGôyìm šulläH qûºmû wünäqûºmâ `älʺhä lammilHämâ
Versi Vietnamese (VIE)
VIE Obadiah 1:1 . Söï hieän thaáy cuûa Aùp-ñia. Chuùa Gieâ-hoâ-va phaùn veà EÂ-ñoâm nhö vaày: chuùng ta coù nghe lôøi rao töø Ñöùc Gieâ-hoâ-va, vaø moät söù giaû ñöôïc sai ñi giöõa caùc nöôùc raèng: Caùc ngöôi haõy daáy leân! Chuùng ta haõy daáy leân nghòch cuøng daân naày ñaëng ñaùnh traän vôùi noù!
Sedangkan dari versi LAI
1:1 Penglihatan Obaja. Beginilah firman Tuhan ALLAH tentang Edom — suatu kabar telah kami dengar dari TUHAN, seorang utusan telah disuruh ke tengah bangsa-bangsa: “Bangunlah, marilah kita bangkit memeranginya!” –
– Artinya, dari perbandingan ini kita melihat ada ketidak sesuaian penterjemahan.–
Dalam ayat tersebut ada Tuhan ALLAH, dan TUHAN. Jika mengacu pada terjemahan pembanding diatas, Tuhan ALLAH mengacu kepada “ádönäy yhwh(´élöhîm)” atau “Chuùa Gieâ-hoâ-va” ; sedangkan TUHAN mengacu pada “yhwh(´ädönäy)” atau “Ñöùc Gieâ-hoâ-va”
jadi, kata ALLAH dalam alkitab berlaku sebagai nama diri atau nama sebutan? jika LAI konsisten mengganti YHWH dengan TUHAN, bukankah ayat itu seharusnya menjadi Tuhan TUHAN? atau, jika kata ALLAH bisa disetarakan dengan YHWH, mengapa LAI harus menggunakan kata TUHAN untuk menggantikan kata YHWH? bahkan dalam 1 ayat, terjadi penggunaan 2 kata yang berbeda untuk merujuk pada maksud yang sama? bukankah ini menjadi rancu?
Tentang frasa “TUHAN ALLAH”, saya menemukannya di ayat berikut ini :
== YESAYA 12:2 ==
Versi LAI :
Sungguh, Allah itu keselamatanku; aku percaya dengan tidak gementar, sebab TUHAN ALLAH itu kekuatanku dan mazmurku, Ia telah menjadi keselamatanku.”
Versi KJV :
Behold, God is my salvation; I will trust, and not be afraid: for the LORD JEHOVAH is my strength and my song; he also is become my salvation.
Versi Hebrew Transliterated :
hinnË ´ël yüšû`ätî ´eb†aH wülö´ ´epHäd Kî|-`ozzî wüzimrät yäh yhwh(´ädönäy) wa|yühî-lî lî|šû`â
== YESAYA 26:4 ==
Versi LAI :
Percayalah kepada TUHAN selama-lamanya, sebab TUHAN ALLAH adalah gunung batu yang kekal.
Versi KJV :
Trust ye in the LORD for ever: for in the LORD JEHOVAH is everlasting strength:
Versi Hebrew Transliterated :
Bi†Hû byhwh(ba|´dönäy) `ádê-`ad Kî Büyäh yhwh(´ädönäy) cûr `ôlämîm
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
jadi, lepas dari “sekedar” masalah penulisan (jika ini hanyalah masalah kerancuan penulisan dan pembahasaan dalam penerjemahan alkitab oleh LAI), kata/nama Allah/ALLAH itu apakah nama diri atau nama sebutan..? Bagi saya ini penting supaya tidak rancu dalam memahami esensi dari nama itu sebelummemutuskan untuk menggunakannya.
:: YHWH Bless us in the name of YESHUA HAMASIAKH ::
citta | Apr 10, 2010 | Reply
@ Santo :
Jadi jelas YHWH, bukan hanya sekedar masalah terjemahan, bahasa, dan istilah, yang paling penting adalah rujukan yang dikenal melalui pengenalan pribadi!
Selaras dengan apa yang dikatakan oleh Yeshua dalam Lukas 10:22 “Segala sesuatu telah diserahkan kepada-Ku oleh Bapa-Ku, dan tidak seorang pun mengetahui siapakah Putra itu, selain Bapa, dan siapakah Bapa itu, selain Putra, dan siapa saja yang kepadanya Putra itu kehendaki untuk menyingkapkannya.”, pengertian akan YHWH memang berangkat dari pengenalan pribadi, dan atas perkenan dari Yeshua, Sang Putra.
Apakah istilah Tuhan dalam bahasa Indonesia atau Allah dalam bahasa Indonesia yang diucapkan orang Kristen Indonesia bukan YHWH?
Saya memahaminya demikian, justru karena ini bukan sekedar masalah nama tetapi juga esensi dalam nama tersebut, maka apakah nama (atau kata) Tuhan dan Allah sudah mewakili apa yang terkandung dalam esensi nama YHWH (DIA YANG ADA)..?
:: YHWH Bless us in the name of YESHUA HAMASIAKH ::
citta | Apr 10, 2010 | Reply
Saudaraku Citta, entah saudara yang salah atau saya yang salah, Tuhan ALLAH dalam Obaja 1:1, bukanlah Adonay YHWH namun adalah Adonay Yhovih atau Adonay Elohiym, Anda perlu tahu bahwa biasanya YHWH diterjemahkan atau jika ada tulisannya, dibaca sebagai Adonay, bukan Elohiym yang diganti/diterjemahkan sebagai Adonay. Perlu juga diketahui bahwa munculnya kata Adonay dikarenakan orang yahudi tidak ingin mengucapkan kata YHWH secara sembarangan, sehingga pengucapan ataupun penulisan diusahakan diganti dengan Adonay. Yang dihindarkan bukan kata Elohiym melainkan YHWH. Jelas ádönäy yhwh(´élöhîm) pasti keliru. Sedangkan Yhovih memang variasi tulisan yang digunakan orang Yahudi untuk menulis YHWH, namun kebiasaan mereka membaca dan mengartikannya sebagai Elohiym. Jelas LAI, dalam Obaja1:1, tidak menerjemahkan YHWH sebagai ALLAH, karena memang tidak ada kata YHWH, yang ada adalah Yhovih, variasi penulisan dari YHWH namun diartikan dan dibaca orang Yahudi sebagai Elohiym. Setahuku memang LAI menterjemahkan Elohiym sebagai Allah. Anda lihat sendiri tanda kurung pada ádönäy yhwh(´élöhîm) yang Anda tulis. Cuma saja, sayang Anda tidak mengerti maksudnya.
Untuk Yesaya12:2, saya setuju yang Anda ungkapkan bahwa bahasa asliya Yahh Yhovah, Yahh merupakan bentuk penyusutan atau singkatan dari Yhovah, dan memiliki makna sama dengan Yhovah. Apakah harus ditulis dengan TUHAN TUHAN? Jelas penerjemahannya menjadi aneh sekali. Kasus Yes 12:2 dan Yes 26:4 adalah kasus yang sama dan ini merupakan pengecualian karena Yahh dan Yhovah sebenarnya adalah kata yang sama. Karena terlalu aneh diterjemahkan sebagai TUHAN TUHAN, lalu LAI menterjemahkan sebagai TUHAN ALLAH. Tetapi apakah ini masalah? Teman2, kalau Anda memandangkangnya bahwa Adonay Yhovih diterjemahkan sebagai TUHAN Allah, Yahh Yhovah diterjemahkan sebagai TUHAN ALLAH, Yhovah diterjemahkan sebagai TUHAN, Elohiym diterjemahkan sebagai Allah. Apa yang bingung dan tidak konsisten? Contoh Yahh Yhovah janganlah dipandang berlainan (karena memang sebenarnya dari 1 kata saja, yang satu singkatan dari yang lain) tapi dilihat satu kesatuan, TUHAN ALLAH pun harus dilihat sebagai satu kesatuan kata, bukan dilihat secara terpisah.
Saudaraku Citta, sekarang saya tanya kepada Anda, apakah istilah Tuhan dalam bahasa Indonesia atau Allah dalam bahasa Indonesia yang diucapkan orang Kristen Indonesia bukan YHWH? Apakah Tuhan atau Allah saya bukan YHWH?
Santo | Apr 10, 2010 | Reply
Untuk kasus TUHAN ALLAH (Yahh Yhovah), saya kasih ilustrasi gini: ada seseorang yang mempunyai nama Joko, kadang-kadang teman2nya memanggil si Joko ini dengan Jo, singkatan dari nama Joko. Si Joko ini punya nama sebutan si maling, karena waktu kecil saat SMP kelas 1 ketahuan mencuri uang teman sekolahnya. Waktu berjalan, ketika semua telah dewasa, SMP tempat sekolah Joko mengadakan reunian. Seorang teman akrab Joko tidak melihat si Joko waktu di reunian tersebut. Lalu dia tanya kepada teman2 yang lain yang hadir di sana. Kalian ada yang kenal si “Jo Joko?” Teman2nya pada gak ngerti, siapa yang di maksud? Lalu yang bertanya menegaskan, “Itu si Jo”, masih belum ngerti juga, “Itu si Joko”, sebagian sudah ada mengerti, sebagian masih belum. Lalu yang bertanya kembali menegaskan, “Itu si Joko Maling”, Oh, barulah semua temannya mengerti. Maksud dari ilustrasi di atas adalah sama halnya kata TUHAN ALLAH tidak mengaburkan makna, arti, essensi, bahkan yang paling penting adalah rujukan pribadi yang dituju.
Santo | Apr 10, 2010 | Reply
Catatan : Kasus Yahh Yhovah (TUHAN ALLAH) bukan sebutan dan penulisan yang umum, dari seluruh tulisan kitab suci hanya ditemukan 2 saja pemakaian Yahh Yhovah (TUHAN ALLAH) yaitu pada Yes 12:2 dan Yes 26:4, bukan suatu hal yang adil untuk menentukan pembenaran terjemahan dari sebutan dan penulisan yang tidak umum. Kata Indonesia saja, si Jo Joko, bukanlah sebutan yang umum (ilustrasi saya di atas) tampaknya demikian pula dengan Yahh Yhovah.
Santo | Apr 10, 2010 | Reply
Nama Allah tidak terdapat di dlm Kitab Sucinya bangsa Yahudi; jadi Allah itu nama elohim bang-sa lain.
YHWH berfirman, elohim segala bangsa itu berha-la.(Mzm 96:5)atau(1Taw 16:26)
YHWH adalah Bapa yang di Sorga.(Yes 64:8)
YHWH harus dikuduskan. (Mat 6:9)
ALLAH dilarang disebut.(Kel 23:13)
Mengganti YHWH menjadi ALLAH berarti dua kali melanggar ketetapan Tuhan. Awas! Hati-hati!!!
abigail | Apr 12, 2010 | Reply
Sepertinya Anda harus banyak belajar Kitab Suci supaya tidak salah dan sembarangan berucap, apakah istilah LORD dan GOD ada di kitab suci orang Yahudi? Bahkan Theos dan Kurios di Perjanjian Baru pun tidak ada di kitab Taurat Yahudi. Apakah terjemahan bahasa terjemahan YAHWEH, YEHUWA, JEHOVAH, YHWH ada di kitab suci orang Yahudi? (bahasa tulisan mereka bukan abjad latin) Elohiym adalah berhala? Anda tahu bahwa YHWH, salah satu nama sebutannya adalah Elohiym, apakah YHWH berhala? Dan kata ini banyak dijumpai dalam PL yang digunakan pada pribadi YHWH dan Anda ingin mengatakan YHWH berhala? YHWH adalah Bapa Israel dalam Yes64:8 (saya rasa Anda bukan orang Israel, kan?), apakah di PB ada yang tulisan yang mengatakan bahwa YHWH adalah nama oknum Bapa semata? Apakah di dalam PB, Tuhan menyatakan diri sebagai YHWH? Apakah ada tulisan YHWH di PB? Apakah Anda pernah membaca, Yesus menyebut nama YHWH dalam tulisan2 Injil? Saya sepakat bahwa nama YHWH harus dikuduskan, tapi pemakaian nama secara sembrono, konyol, punya motivasi tertentu, tidak jujur, sia-sia (seperti halnya sekte ajaran bidat tertentu yang menggunakan nama YHWH dengan motivasi tertentu untuk mendukung doktrin ajaran mereka yang menyesatkan), YHWH akan memandang bersalah orang tersebut karena menggunakan dan menyebut nama-Nya secara sembarangan. Aturan mana yang menyatakan penterjemahan nama YHWH ke dalam bahasa manusia sehari-hari dalam berbagai bahasa bangsa2 merupakan pelanggaran ketetapan YHWH, jangan sembarangan berucap! Allah dilarang disebut? Saya rasa Anda tidak dapat membaca dengan benar, yah? Ayat itu bilang yang dilarang disebut adalah nama (nama identitas) dari allah asing, seperti Baal, Molokh, dan bukan pelarangan pada istilah allah. Melanggar ketetapan YHWH? saya rasa jika demikian semua penulis kitab PB dan rasul2 Yesus adalah orang2 durhaka patut kena murka YHWH karena mengganti semua sebutan YHWH dengan Theos dan Kurios. Firman Tuhan janganlah ditafsirkan menurut kehendak hati sendiri! Awas dan Hati2? Justru saya makin yakin bahwa teman2 dari gerakan mesianik ini harus semakin berhati2 dengan orang2 yang punya motivasi tertentu atas doktrin ajaran mereka yang menyesatkan. Saya bukan menghakimi seseorang atau ajaran dari suatu kelompok tertentu namun kita harus berani menyatakan siapakah penyesat2 ajaran Kristus itu dan menyatakan kebenaran Firman Tuhan. Apakah nama YHWH tidak boleh disebut atau digunakan? Tentu saja boleh, saya termasuk yang mendukung hal tersebut, namun saya mengingatkan kepada teman2 bahwa penggunaan nama YHWH bukanlah kebenaran mutlak, sehingga saudara2 seiman kita (Kristen) yang menggunakan kata Tuhan dan Allah sesungguhnya sama dengan teman2, menyatakan iman mereka kepada YHWH dalam sebutan Tuhan dan Allah! Salam Kasih!
Santo | Apr 13, 2010 | Reply
Dalam Kitab Perjanjian Baru, hakekat YHWH menyatakan diri-Nya melalui 3 oknum pribadi, yakni Bapa, Anak, dan Roh Kudus.
Saya mengoreksi beberapa pengertian, terutama pengertian ajaran2 yang menyimpang dari iman Kristen, yang menyatakan bahwa hanya oknum pribadi Bapa saja dalam kitab PB yang merupakan YHWH dan hanya oknum pribadi Bapa saja yang adalah satu2-nya Allah yang benar , sementara Anak (Yesus Kristus) hanya sebagai ciptaan, dan Roh Kudus bukanlah oknum pribadi dari YHWH.
(Satu2-nya Allah yang benar adalah YHWH dan dalam Kitab PB, YHWH menyatakan diri-Nya melaui 3 oknum pribadi, yakni Bapa, Anak, dan Roh Kudus)
Kalau kita melihat Filp2:9, bahwa Yesus diberikan nama di atas segala nama.
Nama apakah yang dikatakan di atas segala nama?
Kalau Anda termasuk pemuja nama YHWH, pasti tahu bahwa nama di atas segala nama adalah nama YHWH, bukan nama Yesus.
Filp2:11, yang nantinya (saat kedatangan Kristus ke-2 kali) bahwa Kristuslah yang akan menyandang nama YHWH tersebut, dan seluruh manusia tidak dapat menyangkal dan mengaku bahwa Kristuslah YHWH (segala lidah akan mengaku bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan).
Tepat apa yang dikatakan Nabi Yesaya tentang nubuatan Kristus,
Yesaya 9:6 Sebab seorang anak telah lahir untuk kita, seorang putera telah diberikan untuk kita; lambang pemerintahan ada di atas bahunya, dan namanya disebutkan orang: Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai.
Demikian pula dalam Yesaya 63:16 Bukankah Engkau Bapa kami? Sungguh, Abraham tidak tahu apa-apa tentang kami, dan Israel tidak mengenal kami. Ya TUHAN, Engkau sendiri Bapa kami; nama-Mu ialah “Penebus kami” sejak dahulu kala.
Walau di Kitab Perjanjian Baru, tidak terdapat sebutan nama YHWH, namun sebenarnya essensi dan makna nama YHWH yang bermakna eksistensi keberadaan dan eksistensi keabadian bukanlah tidak dinyatakan.
Gelar Alfa dan Omega dalam Kitab Wahyu yang merupakan pernyataan Kristus tentang diri-Nya merupakan essensi dan makna dari nama YHWH sesungguhnya.
Yesaya 44:6 Beginilah firman TUHAN (YHWH), Raja dan Penebus Israel, TUHAN semesta alam: “Akulah yang terdahulu (Alfa) dan Akulah yang terkemudian (Omega); tidak ada Allah selain dari pada-Ku.
Yesaya 48:12 “Dengarkanlah Aku, hai Yakub, dan engkau Israel yang Kupanggil! Akulah yang tetap sama (Aku adalah Aku/YHWH), Akulah yang terdahulu (Alfa), Akulah juga yang terkemudian (Omega)!
Wahyu 1;8 Aku adalah Alfa dan Omega, firman Tuhan Allah, yang ada dan yang sudah ada dan yang akan datang, Yang Mahakuasa
Wahyu 1:17, 2:8, Aku adalah Yang Awal (Alfa) dan Yang Akhir (Akhir)
Wahyu 22:13 Aku adalah Alfa dan Omega, Yang Pertama dan Yang Terkemudian, Yang Awal dan Yang Akhir.
Santo | Apr 13, 2010 | Reply
Santo : Allah dilarang disebut? Saya rasa Anda tidak dapat membaca dengan benar, yah? Ayat itu bilang yang dilarang disebut adalah nama (nama identitas) dari allah asing, seperti Baal, Molokh, dan bukan pelarangan pada istilah allah. Melanggar ketetapan YHWH? saya rasa jika demikian semua penulis kitab PB dan rasul2 Yesus adalah orang2 durhaka patut kena murka YHWH karena mengganti semua sebutan YHWH dengan Theos dan Kurios.
TID : Sdr.Santo, apa Anda belum tahu bhw masih ada perdebatan ttg istilah “allah”, sebagian pihak dg berbagai bukti menyatakan bhw allah itu hny sebutan, sedangkan menurut pihak lain dg bukti2 tertulis menyatakan bhw allah itu dulunya adlh nama diri salah satu dewa bangsa Arab.
Dan sy pribadi memperhatikan bhw kata “allah” yg bila dipake ke dlm bhs inggris oleh umat Islam Orthodoks tdk diterjemahkan melainkan tetap ditulis allah.
Coba kalu seandainya suatu ketika ada org Kristen luar negeri yg berbhs inggris menulis utk membandingkan tuhan umat Islam dg Tuhan org Kristen kira2 spt ini : Allah and our God is two different person, lalu ntar org Kristen Indonesia terjemahkan menjd apa? Apa menjd begini : Allah dan Allah kita adalah 2 pribadi yg berbeda?? (Ket: Mayoritas Kristen Indonesia menterjemahkan God mnjd Allah.)
Bukankah akan jd membingungkan sekali?
Bila begitu jdnya, apakah pemakaian kata “allah” yg mbwt bingung tsb msh dpt dipercaya sbg “inspirasi” dri Roh Kudus dan dikehendaki oleh Tuhan?
Dan mgk sdh mnjd pengetahuan umum bhw pemakaian kata allah dlm KS (Kitab Suci/Alkitab) kerap menimbulakn prasangka umat Islam bhw Tuhannya org Kristen sm dg tuhannya umat Islam, pdhl bila kita bandingkan KS dg Alquran, maka dpt ditarik kesimpulan bhw Tuhannya org Kristen itu berbeda karakternya dg tuhannya umat Islam..sehingga tdk mgk “satu” pribadi yg sama. Dan mrk cenderung tersinggung bila kita menyebut istilah allah bapa, allah anak dan allah roh kudus, bahkan sebagian dri mrk nekad menggunakan kekerasan thd gereja.
Cobalah pikir baik2,setahu sy Tuhan YESUS dan para rasul mengajar agar kita berusaha mencari perdamaian dg semua org (tanpa melanggar firman), dan kita tahu bhw pemakaian kata allah sering menimbulkan konflik dg pihak Islam, apa itu tdk mengingkari ajaran Tuhan dan para rasul? Atau org Kristen Indonesia udh terlalu kepepet shg tdk ada kata lain yg bsa d pake lagi utk memuliakan Tuhan tanpa menimbulkan konflik yg sebenarnya bsa dihindari? apa Tuhan YESUS mengajar para pengikut-Nya sengaja cari mslh yg tdk perlu dg umat agama lain dan berkeras memakai sbh kata yg sebenarnya msh bsa diganti dg kata yg lain yg lbh netral? Bukankan kita bsa mengalah sja, biarkan allah mnjd hak eksklusif mrk, org Kristen pke kata lain sja yg tdk menimbulkan konflik dg mrk. Bukankah itu lbh baik?
Mengenai pemakaian kata Kurios dan Theos olh para penulis KS PB, setahu sy kedua istilah tsb adlh murni nama sebutan, sejauh ini blm pnh sy dgr ada dewa Yunani yg bernama Theos maupun Kurios.
TID | Apr 13, 2010 | Reply
Saudaraku TID,
(el, eloah, elohim), sebutan el berakar pada suatu kata yang berarti kekuatan atau tenaga. Dengan arti ini el digunakan dalam PL untuk manusia, dan secara abstrak digunakan untuk benda, selain untuk Allah. Kata el yang mengacu kepada Allah sering dirangkai dengan julukan misalnya, “Yg Mahakuasa” (El-shaddai/Allah yang Mahakuasa). Kata Eloah, jarang digunakan kecuali dalam puisi. Sedangkan Elohim merupakan bentuk jamak dari El, dan lazim digunakan. Elohim dapat berarti, mengarah kepada politheisme (dewa-dewa), tetapi dalam kekristenan Elohim berarti tanda yang mengacu kepada Trinitas dan mempunyai makna kepenuhan Ilahi yang kekal. El dalam Alkitab terjemahan bahasa Inggris dipakai kata God atau god (Allah atau dewa). Kata padanan ini mempunyai bentuk yang sama asalnya dalam bahasa2 Semitis lainnya, dan berarti suatu allah atau dewa dalam pengertian yg paling luas. Bahkan dapat berarti suatu patung yang diperlakukan seperti dewa (Kej 35:2). Karena sifatnya yang umum ini maka kata ini sering dihubungkan dengan kata sifat dan sebutan predikat tertentu. Mis: Ul 5:9 Aku, TUHAN (YHWH), Allahmu (Elohim), adalah Allah (El) yang cemburu, atau Kej 31:13 Allah (El) yang di Betel. Tapi dalam lembaran2 naskah Ras Syamra, El adalah kata benda nama diri, nama dari “allah akbar” orang Kanaan yang mempunyai anak yang namanya Ba’al.
Saudaraku istilah El, saja yang digunakan oleh YHWH sebagai sebutan nama-Nya, ditemukan bahwa adalah nama diri dari Bapa Dewa Ba’al, allah orang Kanaan. Mengapa kita tidak dapat menerima istilah Allah? Terlebih lagi, secara historis, istilah ini digunakan oleh orang Kristen Arab dan orang Yahudi Arab untuk menyebut YHWH, jauh sebelum agama Islam hadir.
Dalam Kej 14, peristiwa pertemuan Abraham dengan Melkisedek, seorang imam El Elyon (Allah yang Maha Tinggi). Nama/gelar Melkisedek ini mengacu pada allah yang ia sembah (yang bukan Elohiym ataupun YHWH). Melkisedek memberkati Abraham dalam nama El Elyon (Pencipta Langit dan Bumi) di mana ia menunjuk El Elyon sebagai Allah Yg Maha Tinggi (ay. 19-20). Raja Sodom memberikan harta bendanya kepada Abraham dan Abraham menolak sambil mengangkat tangannya kepada YHWH, El Elyon, Pencipta Langit dan Bumi (Kej 14:22). Abraham berkata dan bermaksud bahwa Ia juga menyembah Allah Yg Maha Tinggi, Allah yang sama (karena memang hanya ada satu Allah saja), tetapi ia mengenal-Nya dengan nama YHWH.
Belajar dari bapa iman kita Abraham:
1. yang mau menerima berkat bukan dalam nama YHWH, tapi El Lyon (allah yang dianut Melkisedek dan Raja Sodom).
2. yang menerima kesamaan Allah yang disembah adalah Allah yang Maha Tinggi, Pencipta Langit dan Bumi.
3. tetapi menyatakan perbedaan bahwa Ia mengenal Allah Maha Tinggi itu dengan nama YHWH.
Walaupun Musa menuliskan adanya perbedaan sebutan nama Allah namun sebenarnya Abraham tidak menyebutkan nama YHWH karena Abraham belum mengenal nama YHWH ((Kel 6:3 Aku telah menampakkan diri kepada Abraham, Ishak dan Yakub sebagai Allah Yang Mahakuasa, tetapi dengan nama-Ku TUHAN Aku belum menyatakan diri). Lebih tepatnya adalah harusnya Abraham menyebut El Shaddai bukan YHWH. Ini menandakan bahwa apapun sebutan/istilah nama yang diperuntukkan untuk menyebut YHWH, rujukan itu dapat diketahui dari Tuhan sendiri yang menyatakan diri pada orang tersebut dan perkenalan pribadi orang tersebut terhadap Tuhannya. Istilah boleh sama tetapi rujukan dapat berbeda. Apakah iman orang Kristen walaupun menyebut dengan istilah Allah atau Tuhan, tidak merujuk kepada YHWH? Dari ayat2 dan latar yang saya kemukakan di atas, saya tetap tidak setuju bila kita meng-anti-kan istilah Allah. Demikianlah saudaraku, saya berharap kita bijak dalam menilai kebenaran dan kehendak Allah sesungguhnya. Salam Kasih.
Santo | Apr 13, 2010 | Reply
Saudaraku TID, Theos bukanlah nama diri dari dewa manapun, tapi theos digunakan orang Yunani saat itu yang berarti dewa atau kekuatan ilahi.
Para penulis PB, menggunakan kata “Theos” ini untuk menyatakan El, Elohim, atau Adonai. Saya percaya bahwa pada kebudayaan saat jaman Yesus, tidak ada orang kalangan Yahudi yang mengucapkan dan menuliskan nama YHWH. Demikian pula Yesus, murid2-Nya, dan para penulis kitab PB tidak menggunakan sebutan YHWH. Kata Theos digunakan untuk pengganti El, Elohim, dan Adonai dalam penulisan PB oleh penulis2 Kitab Suci. Apakah perbedaan istilah Theos dan Allah yang digunakan orang Indonesia. Saudaraku, dapatkah Anda mencari satu padanan kata Indonesia yang dapat berarti: YHWH, dewa, berhala, dan manusia (Yoh 10:34, Maz 82:6)? Jelas kata allah yang memungkinkan. Mengapa tidak dipakai kata bahasa aslinya? Apakah penulis kitab PB memakai kata Ibrani aslinya?
Mengenai kata Kurios yang dapat berarti Tuan, Bapak, dan Pemilik. Yang sangat penting khususnya bagi sejarah agama dinyatakan bahwa Nama pribadi Allah yang membuat perjanjian telah diperluas menjadi nama yang bukan pribadi dengan pemakaian sebutan yang boleh diterapkan kepada YHWH maupun kepada manusia yang mempunyai derajat tinggi dan kuasa.
Para penerjemah LXX dalam menentukan pilihannya dipengaruhi 2 unsur, yakni:
1. Kurios mengandung arti: wibawa yang sah, kekuasaan berdasarkan hak bukan kelaliman.
2. Kurios terlepas dari arti keagamaan lainnya. Sejauh yang dapat diketahui, belum pernah ada yang memakai istilah “Kurios” sebagai nama Allah (walau kata sifat yang seakar, berarti sah, berkuasa, telah lama dipakai). Dalam bahasa Indonesia, Kurios diterjemahkan sebagai Tuhan dan YHWH sebagai TUHAN.
Kecocokan penerapan kata Kurios pada YHWH dan manusia sangat penting bagi perkembangan gereja Kristen purba. Kata itu menjadi jembatan bagi kekristenan untuk memasuki dunia orang kafir, dunia yang berbahasa Yunani, dan dunia proselit (orang2 yang bukan Yahudi tapi menganut agama Yahudi). Bagi orang Kristen yang tinggal di Palestina, yang sangat giat mempertahankan monotheisme, Adonai - Kurios, dapat mengungkapkan imannya kepada Kristus tanpa merusak keyakinan monotheismenya. Apabila murid2 yang baru terpilih, menyebut Yesus dengan Kurios, maka sangat mungkin artinya adalah tuan yang lebih dari manusia. Sesudah kebangkitan Kristus, murid2 menyebut-Nya, Kurios dalam arti penuh secara Kristen. Lalu setelah turunnya Roh Kudus, murid2 yang telah dihidupi dan diajar oleh Roh itu, memandang Yesus sebagai Kurios dengan pengertian; tidaklah menghujat menyebut Dia sebagai YHWH.
Seperti yang diketahui dalam sejarah pada abad ke-2 dan ke-3, kaisar2 Romawi menuntut untuk disebut Kurios. Tuntutan ini ditentang mati2-an oleh gereja Kristen yang percaya bahwa Yesus adalah satu2-nya Kurios Kurion, Tuan di atas Tuan (Why 19:16). Masalah padanan kata ini paling nyata terasa dalam ke-4 Injil. Jelas bahwa bagi iman Kristen, kata Tuhan merupakan padanan yang tepat untuk diterapkan pada Yesus sesudah kebangkitan-Nya, namun padanan ini kurang tepat dipakai dalam pembicaraan sehari2 yang dicatat oleh Matius, Markus, Lukas, dan Yohanes.
Andaikata perempuan Samaria (Yoh4:1-42) berbahasa Indonesia maka pasti ia tidak akan memakai sebutan Tuhan terhadap Yesus melainkan Tuan atau Bapak karena orang Samaria menganut monotheisme.
Dan perempuan Kanaan/Siro-Fenesia (Mat15:21-28, Mrk7:24-30) yang menyembah berhala, pasti memakai kata Kurios terhadap Yesus dalam pengertian Dewa, maka berlebihan kalau dalam hal itu diterjemahkan sebagai Tuhan.
Hanya Lukas dari antara penulis Injil yang menyebut Yesus dengan Kurios (di luar
percakapan sehari2 Yesus yang dicatatnya) yang mempunyai arti dan dimengerti sebagai Tuhan dalam arti Kristen sepenuhnya.
Tidak mungkin menentukan apa arti Kurios bila dipakai dalam percakapan sehari2, apakah si pemakai menyapa Yesus demikian dalam arti Tuan atau ia beriman kepada Yesus sebagai Tuhan.
Catatan:
Pemilihan kata Kurios sebagai padanan kata Allah oleh penerjemah LXX merupakan pilihan penuh pertimbangan dan menggambarkan apa yang dipercayai oleh gereja awal pada abad ke-2, termasuk kepercayaan Yesus adalah Allah. Karena jika tidak, mereka tidak akan mencarikan padanan kata untuk Adonai dengan Kurios. Jika mereka meyakini bahwa Yesus hanya sebagai Tuan atau penguasa, atau sebutan umum bapak, mereka akan menggunakan sebutan yang umum dalam bahasa Yunani, yakni Despotes yang artinya tuan, yang umum digunakan oleh orang yang berbahasa Yunani. Dan Despotes dalam bahasa Yunani memiliki arti yang sama dengan bahasa Ibrani, Adon.
LAI telah mempertimbangkan secara sungguh2 mengenai penerjemahan nama dan istilah sebutan bagi Tuhan. Perlu diketahui bahwa seperti halnya bapak2 gereja awal yang mempertimbangkan penyebaran injil kepada orang kafir dan bukan orang Yahudi, LAI juga mempertimbangkan penyebaran Injil kepada masyarakat Indonesia. Sejak awal dan dalam sejarah, Tuhan memakai bahasa manusia yang umum sebagai media penyampaian Firman-Nya, demikian pula dengan nama, istilah sebutan yang diperuntukkan bagi-Nya. El, Eloah, Elohim, Adonai, Theos, dan Kurios telah membuktikan hal tersebut. Demikian apula istilah Allah dan Tuhan bagi orang Indonesia.
Salam Kasih.
Santo | Apr 13, 2010 | Reply
Sdr. Santo, tulisan Anda agak panjang jadi saya kira perlu waktu lama bagi saya utk membahasnya 1 per 1,
Mengenai pemakaian kata “el” dlm KS PL bhs Ibrani, itu menunjukkan bhw kata tsb tdk bermasalah bagi Tuhan YHWH dan sy kira itu tdk dpt disamakan dg kata allah yg sejak mulanya tdk pnh dpakai dlm KS PL bhs Ibrani. Mungkin sja, kata el pada mulanya hnylah sebuah istilah nama gelar yg kemudian diadopsi olh para penyembah berhala utk nama dewa mrk, sebgai mana Nama YESUS bisa pula disalahgunakan oleh para penyembah berhala untk membenarkan ajaran mrk.
Dan kata allah itu sekalipun pnh dipakai olh Kristen Arab dan Yahudi Arab itu tdk menjadi jaminan bhw mereka tidak salah, coba lht Katolik Roma sebelum Reformasi Martin Luther, mrk selama ratusan tahun melakukan kesalahan bahkan ada kesalahan-kesalahan yang masih dipertahankan sampai hari ini.
Mengenai pemakaian kata allah dlm Alkitab bhs Indonesia, setahu saya pada mulanya para penerjemah Alkitab itu kan tdk tahu bhw allah itu adlh nama diri tuhan dlm agama islam/Alquran, seandainya mrk tahu dri awal…sy rasa mrk tdk mgk akan memakainya krn sekiranya mrk adlh org2 yg bnr2 takut Tuhan mrk tdk akn sudi memakai nama diri tuhan agama lain. Coba seandainya, ada bangsa yg menyebut dewa tertinggi mrk bernama satan, apakah nantinya Tuhan mau dipanggil dg sebutan satan demi agar Alkitab bisa lbh diterima bangsa tsb?
TID | Apr 13, 2010 | Reply
Santo : Walaupun Musa menuliskan adanya perbedaan sebutan nama Allah namun sebenarnya Abraham tidak menyebutkan nama YHWH karena Abraham belum mengenal nama YHWH.
TID : Benarkah Abraham belum pernah menyebutkan Nama YHWH?
Sy kira itu tdk benar. Bukti bhw Abraham mengenal bahkan menyebut Nama YHWH:
And Abram said, Lord GOD, what wilt thou give me, seeing I go childless, and the steward of my house is this Eliezer of Damascus? (Genesis 15:2 KJV)
And Abram said, Lord Jehovah, what will You give to me since I am going childless and the son of the inheritance of my house is Eleazar of Damascus? (Genesis 15:2 LITV)
Frasa Lord GOD dlm nas diatas diterjemahkan dari frasa Adonay YHWH. Sehingga menurut nas diatas terbukti bhw Abraham pnh memanggil Nama YHWH.
Bahkan jauh sebelum Abaraham, ada manusia yg tlh memanggil Nama YHWH.
And to Seth, to him also there was born a son; and he called his name Enos: then began men to call upon the name of the LORD (YHWH). (Genesis 4:26 KJV)
TID | Apr 13, 2010 | Reply
Saudaraku TID, saya rasa Anda perlu membaca apa yang tertulis secara lengkap, bukan untuk saudara setujui ataupun tidak disetujui, namun kadang kala pemikiran orang lain memperkaya pengetahuan kita. Saya bisa melihat dari komentar saudara bahwa saudara tidak membaca secara lengkap, sungguh disayangkan, bagaimanapun saya menganggap sudah memberikan jawaban yang terbaik yang bisa saya lakukan. Jelas dari pertanyaan2 saudara, saudara tidak mengikuti atau membaca apa yang saya tuliskan, terlebih tulisan komentar sebelum2-nya. Pertanyaan saudara sudah diulas ketika saya memberi jawaban kepada Saudara GKmin. Saya harap itu dapat menjawab, jika Anda ingin bertanya kepada Saya, ataupun memberi komentar, saya sungguh berharap saudara dengan sabar membaca apa yang telah saya tulis. Agak panjang, mungkin membosankan, namun menambah pengetahuan saudara di dalam mencari kebenaran.
Santo | Apr 13, 2010 | Reply
Mengenai pemakaian kata “el” dlm KS PL bhs Ibrani, itu menunjukkan bhw kata tsb tdk bermasalah bagi Tuhan YHWH dan sy kira itu tdk dpt disamakan dg kata allah yg sejak mulanya tdk pnh dpakai dlm KS PL bhs Ibrani. Mungkin sja, kata el pada mulanya hnylah sebuah istilah nama gelar yg kemudian diadopsi olh para penyembah berhala utk nama dewa mrk, sebgai mana Nama YESUS bisa pula disalahgunakan oleh para penyembah berhala untk membenarkan ajaran.
(Lalu kenapa YHWH tidak dapat diterjemahkan sebagai TUHAN, ingat LAI tidak menterjemahkan sebagai Allah. Allah terjemahan dari El, Eloah, dan Elohim yang Anda katakan sendiri tidak masalah dipakai oleh penyembah berhala. Apakah kata Allah tidak mencerminkan istilah El, Eloah, dan Elohim?)
Dan kata allah itu sekalipun pnh dipakai olh Kristen Arab dan Yahudi Arab itu tdk menjadi jaminan bhw mereka tidak salah, coba lht Katolik Roma sebelum Reformasi Martin Luther, mrk selama ratusan tahun melakukan kesalahan bahkan ada kesalahan-kesalahan yang masih dipertahankan sampai hari ini.
(Benar, namun reformasi itu tidak pernah mengubah dalam artian menambah atau mengurangi Firman Tuhan yang telah dinyatakan. Yang dilakukan adalah reformasi adalah praktek2 keagamaan. Memang kadang ada yang mempertahankan tradisi. Namun saya setuju terhadap saudara bahwa tradisi bukanlah kehendak Tuhan sesungguhnya! Namun masalah penterjemahan harus dimengerti bukan masalah tradisi dan praktek keagamaan karena lebih kepada kehendak Tuhan. (Sejak awal dan dalam sejarah, Tuhan memakai bahasa manusia yang umum sebagai media penyampaian Firman-Nya, demikian pula dengan nama, istilah sebutan yang diperuntukkan bagi-Nya. El, Eloah, Elohim, Adonai, Theos, dan Kurios telah membuktikan hal tersebut. Demikian pula istilah Allah dan Tuhan bagi orang Indonesia).
Mengenai pemakaian kata allah dlm Alkitab bhs Indonesia, setahu saya pada mulanya para penerjemah Alkitab itu kan tdk tahu bhw allah itu adlh nama diri tuhan dlm agama islam/Alquran, seandainya mrk tahu dri awal…sy rasa mrk tdk mgk akan memakainya krn sekiranya mrk adlh org2 yg bnr2 takut Tuhan mrk tdk akn sudi memakai nama diri tuhan agama lain. Coba seandainya, ada bangsa yg menyebut dewa tertinggi mrk bernama satan, apakah nantinya Tuhan mau dipanggil dg sebutan satan demi agar Alkitab bisa lbh diterima bangsa tsb?
(Saya rasa perlu belajar data2 otentik dan sejarah, istilah Allah tidak pernah terbukti merupakan nama diri orang Islam, walaupun orang Islam menganggapnya demikian. Pengadilan di Malaysia tidak memenangkan gugatan orang muslim karena terbukti istilah Allah bukanlah nama diri, terlebih istilah itu sudah dipakai oleh kalangan Kristen dan Yahudi Arab). Apakah Allah dalam pengertian saudara berarti Satan? Jika bukan kenapa Anda tidak menerima dan menggunakannya? Sedangkan pemakaian kata Allah digunakan dalam Quran, tidak masalah. Abraham saja menerima berkat bukan dalam nama YHWH, namun dalam nama Allah sesembahan Melkisedek dan Raja Sodom yang bukan YHWH!
Sy kira itu tdk benar. Bukti bhw Abraham mengenal bahkan menyebut Nama YHWH:
Abraham, bapak orang beriman, meletakkan imannya lebih didasarkan pengenalan atas pribadi dibandingkan pengenalan atas nama. Nama YHWH belum dinyatakan Tuhan kepada Abraham, Ishak, dan Yakub (Kel 6:3 Aku telah menampakkan diri kepada Abraham, Ishak dan Yakub sebagai Allah Yang Mahakuasa, tetapi dengan nama-Ku TUHAN Aku belum menyatakan diri)
(Yang harus kita jadikan pegangan adalah bentuk pernyataan langsung TUHAN pada Musa. Itu pasti otentik. Dan Kel 6:3, merupakan pernyataan langsung TUHAN dan pengalaman yang dialami Musa sendiri).
Mengenai Kej 4:26 (Lahirlah seorang anak laki-laki bagi Set juga dan anak itu dinamainya Enos. Waktu itulah orang mulai memanggil nama TUHAN) dan juga Kej 12:8 (Kemudian ia pindah dari situ ke pegunungan di sebelah timur Betel. Ia memasang kemahnya dengan Betel di sebelah barat dan Ai di sebelah timur, lalu ia mendirikan di situ mezbah bagi TUHAN dan memanggil nama TUHAN), Kej 13:4 (ke tempat mezbah yang dibuatnya dahulu di sana; di situlah Abram memanggil nama TUHAN), dan Kej 26:25 (Sesudah itu Ishak mendirikan mezbah di situ dan memanggil nama TUHAN. Ia memasang kemahnya di situ, lalu hamba-hambanya menggali sumur di situ), merupakan gaya bahasa Musa, bukan berarti mereka menyebut kata YHWH! Yang menarik adalah apapun kata sebutan yang dipakai jaman Enos, Abraham, Ishak, dan Yakub untuk menyebut Tuhan, Musa meyakini bahwa rujukannya adalah YHWH. Jadi jelas YHWH, bukan hanya sekedar masalah terjemahan, bahasa, dan istilah, yang paling penting adalah rujukan yang dikenal melalui pengenalan pribadi! Apakah istilah Tuhan dalam bahasa Indonesia atau Allah dalam bahasa Indonesia yang diucapkan orang Kristen Indonesia bukan YHWH?
Santo | Apr 14, 2010 | Reply
@Sdr. Santo, mohon maaf krn sy tdk membaca tulisan Anda secara lengkap, krn susunan nya membuat mata sy krg bsa membaca dg baik.
TID | Apr 14, 2010 | Reply
Santo : (Lalu kenapa YHWH tidak dapat diterjemahkan sebagai TUHAN, ingat LAI tidak menterjemahkan sebagai Allah. Allah terjemahan dari El, Eloah, dan Elohim yang Anda katakan sendiri tidak masalah dipakai oleh penyembah berhala. Apakah kata Allah tidak mencerminkan istilah El, Eloah, dan Elohim?)
TID : Sederhananya, YHWH itu Nama Diri dan TUHAN itu nama gelar. Dan LAI menulis di kamus Alkitab mrk bhw itu bukan diterjemahkan tapi disalin. Apakah benar menyalin Nama Diri menjadi Nama Gelar?
Mengapa menjadi bermasalah? Akibat penyalinan tersebut, sebagian besar orang Kristen di Indonesia (yg kurang terpelajar secara teologia) tidak mengenal Nama tersebut bahkan ada yang menganggap sesat Nama tersebut. Dan kita sepatutnya tidak menutup mata bahwa kata allah masih menjadi perdebatan, benarkah allah bukan nama diri salah satu dewa bangsa arab? Ada banyak bukti sejarah yang menunjukkan bahwa allah pernah menjadi nama diri salah satu dewa arab pra islam. Dan seperti yang pernah saya tunjukkan, bahwa pemakaian allah dalam Alkitab terjemahan LAI dan mayoritas Kekristenan Indonesia bisa menjadi rancu/kacau. Ingat analogi dalam bahasa inggris : Allah dan our God yang diterjemahkan menjadi Allah dan Allah kita. Contoh lain: Tuhan Allah, TUHAN ALLAH, TUHAN Allah, Tuhan ALLAH…saya dulu waktu masih awal-awal menjadi Kristen, bingung dg istilah2 tersebut sampai kemudian saya mendapatkan program Alkitab elektronik yg ada konkordans STRONGnya dan mengerti perbedannya dan saya kemudian tahu bahwa nama Tuhannya Israel itu bukan allah tapi YHWH.
Dan bila ditulis Tuhan Allah bisa muncul opini bahwa Tuhan yg namaNya Allah, dibandingkan dg frasa Tuhan YESUS artinya Tuhan yg namaNya YESUS. Orang yang gak ngerti bisa benar-benar bingung akibat kekacauan tata bahasa yg demikan rupa.
Bahkan dulu saya kira agama Kristen itu identik dengan agama Islam karena sama2 memakai allah. Bertolak dari contoh2 sederhana diatas, bukankah lebih baik kita cari kata lain yang lebih baik lagi?
TID | Apr 14, 2010 | Reply
Santo : (Benar, namun reformasi itu tidak pernah mengubah dalam artian menambah atau mengurangi Firman Tuhan yang telah dinyatakan. Yang dilakukan adalah reformasi adalah praktek2 keagamaan. Memang kadang ada yang mempertahankan tradisi. Namun saya setuju terhadap saudara bahwa tradisi bukanlah kehendak Tuhan sesungguhnya! Namun masalah penterjemahan harus dimengerti bukan masalah tradisi dan praktek keagamaan karena lebih kepada kehendak Tuhan.
TID : Inti saya menyinggung kesalahan yang pernah dilakukan Katolik Roma adalah bahwa sesuatu yang sudah ratusan tahun dianggap benar belum tentu mutlak benar. Demikian pula dalam hal penterjemahan Kitab Suci, tidak ada jaminan bahwa terjemahan KS tersebut bebas kesalahan pula.
Santo : (Sejak awal dan dalam sejarah, Tuhan memakai bahasa manusia yang umum sebagai media penyampaian Firman-Nya, demikian pula dengan nama, istilah sebutan yang diperuntukkan bagi-Nya. El, Eloah, Elohim, Adonai, Theos, dan Kurios telah membuktikan hal tersebut. Demikian pula istilah Allah dan Tuhan bagi orang Indonesia).
TID : Memang benar Tuhan memakai bahasa manusia. Namun perlu kita ingat pula bahwa Tuhan itu kudus dan tidak mgk mau dipersekutukan dengan nama diri berhala manapun. Penggunaan El, Eloah,Elohim, Adonai, Theos dan Kurios oleh para penulis PL dan PB membuktikan bahwa istilah2 tersebut tidak dipermasalahkan oleh Tuhan sebab istilah2 tersebut murni/sejak semula bukan nama diri berhala meskipun pernah dipakai oleh para penyembah berhala pula. Berbeda dengan Allah yang asal usulnya mencurigakan dan menurut berbagai ahli sejarah merupakan nama diri salah satu dewa Arab pra-Islam, yang kemudian dipakai pula menjadi nama diri tuhannya Islam. Sebuah kata yang sedemikian mencurigakan dan tidak pernah dipakai para penulis PL dan PB, sudah sewajarnya kita hindari pemakaiannya dalam terjemahan KS manapun juga, disamping itu pertimbangkan pula konflik yang kerap terjadi akibat umat Islam merasa orang Kristen menghujat tuhan mereka dengan istilah2 allah bapa,allah anak, allah roh kudus dan juga bunda allah. Jika kita sudah tahu bahwa sebuah kata menjadi pemicu konflik dan kata tersebut sudah ada pengganti yang lebih baik kenapa tidak kita ganti saja?
Jika orang Kristen dianiaya oleh karena Nama YESUS atau karena mengaku YESUS itu Kurios, itu anugerah Tuhan. Kalau orang Kristen dianiaya karena sebuah kata yang kontroversial dan sebenarnya bisa kita ganti dengan kata lain, itu namanya kebodohan yang tidak perlu.
TID | Apr 14, 2010 | Reply
TID :Sy kira itu tdk benar. Bukti bhw Abraham mengenal bahkan menyebut Nama YHWH
Santo : Abraham, bapak orang beriman, meletakkan imannya lebih didasarkan pengenalan atas pribadi dibandingkan pengenalan atas nama. Nama YHWH belum dinyatakan Tuhan kepada Abraham, Ishak, dan Yakub (Kel 6:3 Aku telah menampakkan diri kepada Abraham, Ishak dan Yakub sebagai Allah Yang Mahakuasa, tetapi dengan nama-Ku TUHAN Aku belum menyatakan diri).
TID : Sebuah nama mewakili pribadi dan keberadaan dibalik nama tersebut. Apalagi kalau Nama Tuhan, bandingkan dengan Nama YESUS, bila sebuah nama tidak penting, maka Nama YESUS tidak mutlak harus dipakai dalam “formula” pembaptisan. Namun pembaptisan diluar Nama YESUS apakah akan diterima oleh Bapa Surgawi?
Apakah benar Nama YHWH belum dinyatakan kepada Abraham, Ishak dan Yakub?
Bila belum dinyatakan, bagaimana mungkin Abraham dapat berseru : Adonai YHWH??
Kel 6:3 Aku telah menampakkan diri kepada Abraham, Ishak dan Yakub sebagai Allah Yang Mahakuasa, tetapi dengan nama-Ku TUHAN Aku belum menyatakan diri. TB1974 LAI
Coba bandingkan dengan terjemahan-terjemahan lain:
And I appeared unto Abraham, unto Isaac, and unto Jacob, by the name of God Almighty, but by my name JEHOVAH was I not known to them. (Exodus 6:3 KJV 1769)
I let myself be seen by Abraham, Isaac, and Jacob, as God, the Ruler of all; but they had no knowledge of my name Yahweh. (Exodus 6:3 BBE)
“And I appeared to Ab?raham, to Yitsh?aq, and to Ya?aqob?, as ?l Shaddai. And by My Name, ????, was I not known to them? (Exodus 6:3 The Scriptures 1998+)
Dan John Gill’s Expositor menjelaskan demikian:
but by my name Jehovah was I not known to them; which he had in the preceding verse called himself by. This is not to be understood absolutely; for it is certain that he had made himself known by this name, and this name was known unto Abraham, Isaac, and Jacob, Gen_15:6, and but comparatively, as some think; that is, he was not so much made known to them by the one name as the other; though it may be questioned whether the one was more used in speaking to them than the other; wherefore others think, as Saadiah Gaon, that the word only is to be supplied, as in Gen_32:28 and the sense to be, that by his name Jehovah he was not only made known to them, but by his name Elshaddai, and others also; and others reconcile the difficulty thus, that though the name Jehovah itself was known to the patriarchs, by which they were assured that God is eternal, immutable, and faithful to his promises; yet he was not known as to the efficacy of this name, or with respect to the actual performance of his promise, as he now would be by delivering the children of Israel out of Egypt, and bringing them into the land of Canaan;
Kesimpulan sederhananya : Abraham, Ishak dan Yakub tahu tentang Nama YHWH namun kepada mereka Tuhan belum pernah menyatakan makna dibalik Nama tersebut sebagaimana yang Dia lakukan kepada Musa yaitu : I Am Who I Am=Aku Ada Yang Aku Ada. Dan makna sederhana dari Nama YHWH adalah I Am/Aku Ada.
TID | Apr 14, 2010 | Reply
Bukti bahwa kepada Yakub Tuhan menyatakan Diri-Nya dengan Nama YHWH :
And, behold, the LORD (YHWH) stood above it, and said, I am the LORD (YHWH) God of Abraham thy father, and the God of Isaac: the land whereon thou liest, to thee will I give it, and to thy seed; (Genesis 28:13 KJV)
And, behold, Jehovah (YHWH) stood above it and said, I am Jehovah (YHWH) the God of your father Abraham, and the God of Isaac; the land on which you are lying, I will give it to you and to your seed. (Genesis 28:13 LITV)
And see, YHWH stood above it and said, “I am YHWH Elohim of Ab?raham your father and the Elohim of Yitsh?aq. The land on which you are lying, I give it to you and your seed. (Genesis 28:13 The Scriptures 1998+)
TID | Apr 14, 2010 | Reply
Maaf saya lupa membahas yang satu ini:
Santo : Saudaraku TID, Theos bukanlah nama diri dari dewa manapun, tapi theos digunakan orang Yunani saat itu yang berarti dewa atau kekuatan ilahi.
TID : Saya tidak pernah mengatakan bahwa Theos adalah nama diri dewa Yunani. Dan saya tidak mempermasalahkan pemakaian Theos dalam Manuskrip PB.
TID | Apr 14, 2010 | Reply
Santo: LAI telah mempertimbangkan secara sungguh2 mengenai penerjemahan nama dan istilah sebutan bagi Tuhan. Perlu diketahui bahwa seperti halnya bapak2 gereja awal yang mempertimbangkan penyebaran injil kepada orang kafir dan bukan orang Yahudi, LAI juga mempertimbangkan penyebaran Injil kepada masyarakat Indonesia. Sejak awal dan dalam sejarah, Tuhan memakai bahasa manusia yang umum sebagai media penyampaian Firman-Nya, demikian pula dengan nama, istilah sebutan yang diperuntukkan bagi-Nya. El, Eloah, Elohim, Adonai, Theos, dan Kurios telah membuktikan hal tersebut. Demikian apula istilah Allah dan Tuhan bagi orang Indonesia.
TID : Saya tidak mempertanyakan otoritas penulis PL dan PB yang memakai El, Eloah, Elohim, Adonai, Theos dan Kurios.
Otoritas yang diberikan Tuhan kepada para penulis PL dan PB, tentu sangat berbeda jauh dengan otoritas yang diberikan Tuhan kepada LAI. Sebagai contoh, oleh sebagian besar hamba Tuhan Injili dan Fundamental, Manuskrip PL dan PB dipercaya ineran/tidak dapat salah. Bagaimana dengan Alkitab terjemahan LAI, apa mungkin Alkitab terjemahan LAI itu juga tidak dapat salah? Saya yakin, tidak mungkin bebas kesalahan. Sejauh ini, saya belum pernah ketemu terjemahan KS yang bebas kesalahan, kalau Cuma sekedar self-proclaim bebas kesalahan mungkin ada.
Apabila LAI mencoba menyamakan diri dengan para penulis PL dan PB, saya kira itu bukan hal yang pantas.
Satu hal lagi, saya juga tidak memprotes pemakaian nama gelar Tuhan dalam terjemahan KS bahasa Indonesia karena kata Tuhan dapat diterima oleh semua agama di Indonesia, berbeda dengan kata “allah” yang sejauh ini hanya eksis dalam mayoritas Kekristenan Indonesia-Arab dan Islam + Arab pra-Islam.
TID | Apr 14, 2010 | Reply
Kesimpulan sederhananya : Abraham, Ishak dan Yakub tahu tentang Nama YHWH namun kepada mereka Tuhan belum pernah menyatakan makna dibalik Nama tersebut sebagaimana yang Dia lakukan kepada Musa yaitu : I Am Who I Am=Aku Ada Yang Aku Ada. Dan makna sederhana dari Nama YHWH adalah I Am/Aku Ada.
Sepertinya Anda kurang mengerti, di bolak-balik pun ayat itu menyatakan bahwa sebelum diperkenalkan nama YHWH kepada Musa, Allah belum bahkan tidak memperkenalkan dirinya dengan nama YHWH.
Perkenalan nama atau perkenalan makna nama YHWH lebih dulu?
Dalam kasus Musa, perkenalan nama atau perkenalan makna nama YHWH lebih dulu?
Demikian pula dengan Musa, dibandingkan pengenalan nama, imannya lebih didasarkan pada pengenalan pribadi karena Allah menampakkan diri kepadanya (Kel 3:2,16, 4:1,5). Bahkan awal perkenalan Musa dengan YHWH dimulai bukan dengan perkenalan nama, Tuhan menyebut dirinya Allah ayahmu, Allah Abraham, Allah Ishak, dan Allah Yakub (Kel 3:6 Lagi Ia berfirman: “Akulah Allah ayahmu, Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub.” Lalu Musa menutupi mukanya, sebab ia takut memandang Allah). Kalau saja Musa tidak menuntut Tuhan menyatakan suatu nama, apakah Tuhan akan menyatakan nama? (Kel 3:13 Lalu Musa berkata kepada Allah: “Tetapi apabila aku mendapatkan orang Israel dan berkata kepada mereka: Allah nenek moyangmu telah mengutus aku kepadamu, dan mereka bertanya kepadaku: bagaimana tentang nama-Nya? –apakah yang harus kujawab kepada mereka?”). Jawaban Tuhan pada Musa pada waktu itu lebih menyatakan tentang penegasan arti bahwa Ia adalah Allah Abraham, Allah Ishak, dan Allah Yakub yang pada masa nenek moyang Israel dan sekarang mengutus Musa adalah Allah yang sama. (Kel 3:14 Firman Allah kepada Musa: “AKU ADALAH AKU.” Lagi firman-Nya: “Beginilah kaukatakan kepada orang Israel itu: AKULAH AKU telah mengutus aku kepadamu.”
Kel 3:15 Selanjutnya berfirmanlah Allah kepada Musa: “Beginilah kaukatakan kepada orang Israel: TUHAN, Allah nenek moyangmu, Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub, telah mengutus aku kepadamu: itulah nama-Ku untuk selama-lamanya dan itulah sebutan-Ku turun-temurun). Pada waktu itu, apa arti YHWH bagi orang Israel? Pasti yang bangsa Israel mengerti itu bukan nama diri Tuhan (karena mereka belum mengenal nama itu), namun YHWH bagi mereka mengandung arti Allah yang sama disembah oleh Abraham, Ishak, dan Yakub). Memang setelah beberapa waktu setelah pembebasan Israel dari Mesir, Allah menegaskan YHWH menjadi nama diri dan Musa menyatakan kepada bangsa Israel bahwa YHWH adalah nama diri dari Tuhan yang mereka sembah.
JELAS BAHWA ARGUMEN DARI TEORI ALLAH LEBIH DULU MEMPERKENALKAN NAMA KEPADA ABRAHAM, ISHAK, DAN YAKUB DAN TIDAK MEMPERKENALKAN ARTI NAMANYA TIDAK BENAR! Karena di dalam urutannya YHWH LEBIH DULU MEMPERKENALKAN ARTI NAMA, BARU SETELAH ITU ISTILAH NAMANYA.
Jika nama YHWH sudah dikenal, dan telah dipakai oleh nenek moyang Israel, apakah Musa akan menuntut kepada YHWH mengenai siapakah nama-Nya? Padahal YHWH sudah memperkenalkan diri-Nya sebagai Allah ayah Musa, Allah Abraham, Allah Ishak, dan Allah Yakub.
Dalam perkenalan pada Musa pun YHWH terlebih dulu, menyatakan arti nama-Nya (Aku adalah Aku) bukan istilah nama-Nya (YHWH)!
Sesungguhnya bagi orang Israel saat itu, YHWH bukan menyebutkan nama-Nya, namun lebih dulu memperkenalkan makna-Nya. Yang berarti Allah yang sama dan tak pernah berubah dengan Allah yang disembah Abraham, Ishak, dan Yakub, nenek moyang mereka.
Yang pasti adalah, Abraham, Ishak, dan Yakub TIDAK MENYEBUT NAMA YHWH!
Apakah Alkitab, ayat saling bertolak belakang? Tidak mungkin! Maka yang harus dipegang sebagai kebenaran otentik adalah ayat yang mengandung pernyataan langsung YHWH! Sedangkan ayat lain harus dilihat sebagai maksud dari penulis kitab (Musa) menuliskan demikian.
Apa gelar Allah yang lain tidak mengandung arti I am who I am. Siapa yang layak disebut Maha Kuasa, El Shaddai, Siapakah yang layak disebut Maha Tinggi, El Elyon? BAHKAN DENGAN BAHASA INDONESIA SILA PERTAMA PANCASILA, TUHAN YANG MAHA ESA pun, yang berhak menyandang dan merujuk pada I am who I am (karena Dia satu2nya Allah dan tidak ada yang lain). Anda sadar atau tidak bahwa sebutan nama YHWH bukan keharusan harus disebut? Buktinya Abraham, Ishak, dan Yakub yang merupakan nenek moyang bangsa Israel tidak pernah diberitahu YHWH perihal nama-Nya dan keharusan mereka menyebut nama YHWH! Bahkan kalau dibaca secara cermat tentang pemakaian nama YHWH ini, sebenarnya pemakaiannya dibuat terbatas karena:
1. Perintah menguduskan nama ini.
2. Ada aturan2 dalam pemakaian nama YHWH ini.
Mengenai Theos, saya menjelaskan bukan karena Anda mempersoalkan pemakaiannya di kitab PB! Saya menjelaskan bahwa dengan pemakaian kata Theos di PB berarti:
Tidak ada keharusan memakai sebutan nama dengan bahasa aslinya Ibrani! Artinya nama boleh diterjemahkan dengan istilah bahasa lokal dengan arti yang sepadan!
JIKA ABRAHAM, ISHAK, DAN YAKUB TIDAK MENYEBUT NAMA YHWH DAN TIDAK ADA KEHARUSAN MEMAKAI SEBUTAN NAMA DENGAN BAHASA ASLI IBRANI, APA SIH YANG ANDA RIBUTKAN TENTANG ISTILAH TUHAN DAN ALLAH?
Anda ingin mengatakan terjemahan theos untuk El, Eloah, Elohim benar, tapi terjemahan Allah untuk El, Eloah, Elohim salah? Apakah Anda ada penyelesaian masalahnya? Kata apa dalam bahasa Indonesia yang dapat menggantikan istilah Allah, yang mempunyai arti seperti El, Eloah, dan Elohim (YHWH, dewa, patung, serta manusia)?
Santo | Apr 14, 2010 | Reply
Santo : Yang pasti adalah, Abraham, Ishak, dan Yakub TIDAK MENYEBUT NAMA YHWH!
TID : John Gill’s Expositior menyatakan bahwa para patriakh yaitu Abraham, Ishak dan Yakub mengetahui Nama YHWH dan itu dapat dibuktikan dg nas-nas Kitab Suci YANG TELAH TERTULIS. Sedangkan Anda berasumsi bahwa itu adalah gaya bahasa Musa, apakah Anda secara tidak langsung menyangkal bahwa Musa menulis Kitab Kejadian dibawah inspirasi Roh Kudus sebagaimana yang dipercaya oleh sebagian besar pihak Injili dan Fundamental?
Apapun asumsi Anda, saya lebih berpegang dengan YANG TELAH TERTULIS.
TID | Apr 14, 2010 | Reply
Santo : JIKA ABRAHAM, ISHAK, DAN YAKUB TIDAK MENYEBUT NAMA YHWH DAN TIDAK ADA KEHARUSAN MEMAKAI SEBUTAN NAMA DENGAN BAHASA ASLI IBRANI, APA SIH YANG ANDA RIBUTKAN TENTANG ISTILAH TUHAN DAN ALLAH?
TID : Nas-nas Kitab Suci membuktikan bahwa Abraham, Ishak dan Yakub menyebut Nama YHWH, hanya saja Anda tidak mau mengakuinya.
Dan sudah begitu banyak saya menjelaskan apa Anda masih belum paham kenapa saya mempermasalahkan penyalinan YHWH menjadi TUHAN? Apa mungkin Anda tidak memperhatikan tulisan2 saya?
YHWH itu Nama Diri, TUHAN itu Gelar. Pantaskah Nama Diri disalin menjadi Gelar dan tidak mensosialisasikannya kepada umat Kristen di Indonesia sehingga menyebabkan sebagian besar umat Kristen di Indonesia tidak tahu bahwa YHWH adalah Nama Tuhan dalam PL yang menurut kesaksian YESUS di Yohanes 6:32 adalah Bapa Surgawi? (Mohon dibedakan antara TUHAN dan Tuhan)
Apalagi tentang kata “allah” yang asal usulnya mencurigakan dan menurut bukti-bukti sejarah merupakan nama diri salah satu dewa pra-islam dan kemudian dipakai pula menjadi nama diri tuhannya islam.
El, Eloah, Elohim, Adonai, Theos, dan Kurios pernah dipakai oleh para penulis PL dan PB, hal tersebut membuktikan bahwa istilah2 tersebut aman untuk dipakai, berbeda dengan allah yang belum pernah dipakai para penulis PL dan PB. Sehingga tidak ada jaminan bahwa kata allah aman dipakai.
Santo: Anda ingin mengatakan terjemahan theos untuk El, Eloah, Elohim benar, tapi terjemahan Allah untuk El, Eloah, Elohim salah?
TID: Iya.
Santo : Apakah Anda ada penyelesaian masalahnya? Kata apa dalam bahasa Indonesia yang dapat menggantikan istilah Allah, yang mempunyai arti seperti El, Eloah, dan Elohim (YHWH, dewa, patung, serta manusia)?
TID: Apa Anda kurang menyimak perkembangan Gerakan Pemulihan Nama YHWH dalam penterjemahan Kitab Suci bahasa Indonesia ? Bila Anda menyimak, tentu Anda sudah tahu bahwa telah diterbitkan Kitab Suci Indonesian Literal Translation, mereka telah memberikan solusi. Silakan Anda browsing sendiri ke http://yalensa.org/kitab-suci/ dan kalau Anda ingin tahu bagaimana KS ILT Edisi 1 itu silakan download dari http://www.alfa-omega.or.id/index.php?option=com_content&view=article&id=73&Itemid=86
TID | Apr 14, 2010 | Reply
@Santo;
Sepertinya Anda kurang mengerti, di bolak-balik pun ayat itu menyatakan bahwa sebelum diperkenalkan nama YHWH kepada Musa, Allah belum bahkan tidak memperkenalkan dirinya dengan nama YHWH.
Justru persoalannya di kata “Allah” itu.
tidak akan “membingungkan” jika kalimat anda itu diganti:
Sepertinya Anda kurang mengerti, di bolak-balik pun ayat itu menyatakan bahwa sebelum diperkenalkan nama YHWH kepada Musa, Tuhan belum bahkan tidak memperkenalkan dirinya dengan nama YHWH.
Sampai sekarang khan masih ada beda pendapat, apakah “Allah” itu NAMA DIRI (personal name/proper name) atau sebutan (predicate name/general name).
Silakan anda cari-cari informasi, ada kalangan Kristen yang menganggap itu proper name, ada kalangan yang menganggap itu general name. Masing-masing bertahan dengan argumentasinya. Nah, artinya tidak ada kesimpulan apakah Allah itu proper atau general name, artinya kebenaran soal kata “allah” itu relatif. Itulah masalahnya, jadi mengapa tidak meninggalkan kata “Allah” itu? ganti saja dengan “Tuhan” (yang lebih umum) atau tetap pakai kata “Elohim”.
Selama anda masih pakai kata “Allah” sebenarnya pandangan anda jelas, menganggap Allah itu sebagai “general name”, padahal oleh kalangan muslim, “Allah” itu personal name. Orang Muslim Amerika akan tetap menyatakan, “Allah is my lord”.
Atau anda akan “tidak peduli” pada penggunaan kata “Allah” di kalangan Muslim, dan akan bertahan dengan “kebenaran” anda sendiri?
Bagi saya, sederhana saja, karena Allah itu masih kontroversial, ya tinggalkan saja kata itu, toh masih banyak kata yang lain.
ketika anda menyebut “Allah”, maksud anda itu Allah yang mana? apakah sama dengan maksud orang lain ketika menyebut Allah?
lihat http://gkmin.net/?p=85
Oh ya,
Bagaimana membedakan allah, Allah dan ALLAH dalam doa dan nyanyian?
GKmin | Apr 14, 2010 | Reply
Saya juga tidak ingin berdebat terlalu panjang, terlalu banyak yang telah saya bahas bahkan pertanyaan2 tersebut banyak yang diulang2, dan saya juga tidak ingin menjelaskan berkali-kali seakan-akan saya memaksakan kebenaran yang saya yakini. Anggap saja, kalau saya menteloransi kebenaran yang Anda yakini, dan Anda ingin meyakinkan saya, dapatkah Anda menjawab beberapa pertanyaan saya?
Jika nama YHWH merupakan nama yang telah dikenal dan dipakai oleh Abraham, Ishak, dan Yakub, bahkan sejak jaman Set dan Enos:
1. Mengapa pada Kitab Kejadian, kata El dan Elohim lebih banyak dinyatakan kepada pribadi Tuhan dibandingkan penyebutan nama YHWH? Seharusnya nama YHWH sudah menjadi nama identitas Tuhan yang umum, tidak perlu lagi sebutan nama gelar lainnya untuk menyebut Tuhan?
2. Dalam konteks itu, Musa menuntut Tuhan menyebutkan nama-Nya, apakah masuk akal Musa tidak mengenali nama Tuhan leluhurnya (ayahnya, Abraham, Ishak, dan Yakub)? Mengapa Musa tidak mengenali nama YHWH, Tuhannya?
Mengenai nama Bapa adalah YHWH:
1. Bagaimana Anda menjelaskan tentang Allah Tritunggal? Siapakah YHWH? Apakah Anak (Yehushua) dan Roh Kudus adalah YHWH?
Mengenai istilah Elohim:
1. Bagaimana Anda membedakan tulisan pada kitab suci, yang membedakan Elohim adalah YHWH, dewa2/illah2 asing, patung, dan manusia?
2. Bagaimana Anda membedakan penyebutan Elohim yang ditujukan pada YHWH? dewa2/illah2 asing? patung? dan manusia?
Sementara demikian pertanyaan yang saya ajukan, saya harap teman2 dapat menjawabnya.
Santo | Apr 14, 2010 | Reply
@Santo,beberapa pertanyaan Anda tidak saya jawab, sebagian karena saya kira tidak perlu dijawab, sebagian sudah saya jawab hanya mungkin Anda tidak menyimak, sebagian mungkin karena terlewatkan oleh saya, sebagian karena saya tidak tahu menjawab,hehe
Santo: Jika nama YHWH merupakan nama yang telah dikenal dan dipakai oleh Abraham, Ishak, dan Yakub, bahkan sejak jaman Set dan Enos:
1. Mengapa pada Kitab Kejadian, kata El dan Elohim lebih banyak dinyatakan kepada pribadi Tuhan dibandingkan penyebutan nama YHWH? Seharusnya nama YHWH sudah menjadi nama identitas Tuhan yang umum, tidak perlu lagi sebutan nama gelar lainnya untuk menyebut Tuhan?
TID: Anda menanyakan hal yang sukar…soalnya yang menyuruh Musa menulis seperti itu kan Roh Kudus. Coba Anda tanyakan kepada mereka yang lebih mendalami teologia atau tanyakan langsung kepada Roh Kudus, kenapa Dia berbuat seperti itu.
Santo : 2. Dalam konteks itu, Musa menuntut Tuhan menyebutkan nama-Nya, apakah masuk akal Musa tidak mengenali nama Tuhan leluhurnya (ayahnya, Abraham, Ishak, dan Yakub)? Mengapa Musa tidak mengenali nama YHWH, Tuhannya?
TID : Seingat saya ada orang lain yang pernah menjawab pertanyaan yang satu ini, kalau tidak salah pak Kristian Sugiyarto, coba Anda cari artikel2 yang pernah ditulisnya di http://ksugiyarto.multiply.com/journal/item/11/NAMA_YAHWEH_Tanggapan_atas_Tulisan_Bambang_Noorsena
Terima kasih
TID | Apr 14, 2010 | Reply
Saudaraku, sayang saya tidak menemukan apa yang saya tanyakan dalam tulisan Pak Kristian Sugiarto. Mungkin karena belum ada orang yang bertanya mengenai hal tersebut.
Salah satu perhatian saya adalah tentang doktrin Trinitas umat Kristiani, doktrin tersebut tidak dapat ditawar, sebagai suatu acuan yang tegas memisahkan diri dari bidat/ajaran2 yang sesat. Dalam diskusi ini, juga melihat referensi2 yang teman2 berikan, saya dapat meyakini bahwa teman2 merupakan saudara yang seiman (iman kita tidak berbeda, kecuali masalah essensi penyebutan nama, masalah2 terjemahan yang lebih akurat, serta interpretasi ayat2 Firman Tuhan). Saya pernah mengatakan bahwa Saudara GKmin bukanlah seorang Saksi Yehovah seperti yang dituduhkan beberapa orang, demikian pula tampaknya teman2 yang lain.
Dalam beberapa pertanyaan saya, memang saya akui sukar untuk saudara jawab. Saya mengajukan pertanyaan sukar untuk kita bersikap kritis dalam diskusi ini agar ada sesuatu makna yang kita peroleh bersama. Dalam beberapa hal saya memahami alasan2 yang saudara ajukan. Tetapi saya harapkan bahwa teman2 juga bersikap bijak terhadap saudara2 yang seiman yang menggunakan sebutan Allah dan Tuhan yang merujuk pada YHWH. Kita tidak mau karena persoalan nama, tata ibadah, perayaan2 keagamaan membuat umat Kristen terpecah-belah, membuat malu Tuhan kita dan setan akan tertawa terbahak-bahak karena persoalan2 ini. Mengenai apakah ini kehendak Tuhan, biarkanlah waktu dan sejarah yang membuktikan.
Salam Kasih.
Santo | Apr 15, 2010 | Reply
Saudara-saudaraku umat kristiani pembaca website ini.
Bahwa :
Allah = 666
Silakan baca di blogroll website ini pada judul :
“ISLAM, QUR’AN DAN 666 (?)”
Dan sudara kita muslim juga membenarkan dan menguatkan lagi hal ini, silakan baca di judul :
“666 hanya trik setan (?)”
Nah saudara saya umat Kristiani anda tinggal pilih bertahan dengan penyebutan Allah atau meninggalkannya!
Salam kasih.
Yons | Apr 15, 2010 | Reply
Saya sudah membaca artikel tersebut, terus terang saya tidak dapat mempercayai isinya. Mengenai angka 666 dalam kitab Wahyu.
Janganlah kita mengikuti orang yang menafsirkan nubuatan sesuai dengan kehendak sendiri, hanya orang2 terpilih berbicara atas nama Tuhan dengan dorongan Roh Kudus yang dapat menafsirkannya.(2Petrus1:20-21)
Kita tidak boleh naif terhadap suatu tulisan2 seperti itu. Kita harus menguji terlebih dahulu melalui kebenaran Firman Tuhan dan memastikan orang yang menuliskan tersebut apakah mempunyai kredibilitas yang dapat kita percayai. Dan di atas semuanya itu, kita tidak pernah boleh mengizinkan pengalaman/asumsi orang menggantikan menggantikan Firman Tuhan sebagai dasar dari pengajaran dan keyakinan kita. Pada akhirnya, bukanlah apa yang telah dialami atau dikatakan orang, tetapi apa yang telah dikatakan Allah itu yang penting.
Salah satu penyebab tertua perpecahan gereja adalah doktrin palsu.
Kis 20:29 Aku tahu, bahwa sesudah aku pergi, serigala-serigala yang ganas akan masuk ke tengah-tengah kamu dan tidak akan menyayangkan kawanan itu.
Kis 20:30 Bahkan dari antara kamu sendiri akan muncul beberapa orang, yang dengan ajaran palsu mereka berusaha menarik murid-murid dari jalan yang benar dan supaya mengikut mereka.
Frase kunci di sini adalah “supaya mengikut mereka”. Paulus tidak sedang berbicara tentang kesalahpahaman atau kesalahan interpretasi Alkitab yang jujur oleh orang2 yang bermaksud baik (meski kesalahpahaman dan kesalahan interpretasi itu dapat menjadi masalah). Ia sedang berbicara tentang pemutarbalikan secara sengaja atas kebenaran alkitabiah oleh orang2 yang memiliki kepentingan mereka sendiri.
Jadi, kita harus dewasa dalam iman dan pengetahuan tentang Firman Tuhan sehingga tidak dibingungkan oleh pengajaran2 / tulisan2 yang seperti itu.
Santo | Apr 15, 2010 | Reply
@Santo, dalam artikel Pak Kristian tsb pertanyaan Anda yg no 2 sudah terjawab. Kemarin saya cek ada kok jawabannya. Silakan di teliti kembali.
Untuk masalah jati diri dan KEJAMAKAN Diri YHWH, mungkin Anda bisa dapatkan sedikit informasi dari http://hisnameisyahweh.org/
Dan secara pribadi, saya berpandangan bahwa YHWH itu EKHAD (ESA-SATU KESATUAN) yang terdiri dari Sang Bapa dan Sang Putra dan Sang Roh Kudus.
Namun saya temukan bahwa doktrin “kejamakan/Trinitas” ini termasuk rumit untuk dimengerti secara sepenuhnya. Mungkin ada teman2 lain yang lebih mengerti doktrin ini…
TID | Apr 15, 2010 | Reply
@Sdr. Santo,mohon maaf, setelah saya periksa ulang artikel tsb rupanya Pak Kristian tidak menjelaskan secara terperinci tentang Musa yang menanyakan Nama Tuhan, kemarin saya ada baca sebuah artikel yang membahas hal tsb…tapi saya lupa ada dimana. Saya akan cari kembali, bila ketemu kembali akan saya tampilkan. Terima kasih
TID | Apr 15, 2010 | Reply
Benar kok saya gak ketemu, memang ada pembahasan tentang Kel 6:3, tetapi gak ada yang membahas pertanyaan yang saya tanyakan.
Dari situ kesimpulan yang dikemukakan Pak Kristian tentang ayat ini adalah:
Dan Aku telah menampakkan diri kepada Abraham, kepada Ishak, dan kepada Yakub; dengan El Shaddai dan nama-Ku YAHWEH, tidakkah Aku telah menyatakan diri kepada mereka?
Kesimpulan Pak Kristian tentang penegasan bahwa YHWH telah menyatakan diri dengan nama YHWH, mempunyai beberapa masalah:
1. Jika YHWH telah menyatakan diri dengan nama YHWH bukan sekedar makna, tidak mungkin dituliskan YHWH menyatakan diri dengan nama El Shaddai.
2. Dan tidak akan bisa menjawab, pertanyaan saya tentang Musa yang tidak mengenali nama Tuhannya dan menuntut Tuhan menyebutkan nama.
Tentang Trinitas, saya yakin iman Anda sama dengan saya.
Repotnya adalah gerakan messianik ini, memakai argumen untuk menjadikan dasar pemulihan nama YHWH: Nama Bapa adalah YHWH.
Hal tersebut akan membuat stigmanisasi seperti halnya doktrin Saksi Yehovah, yang mengartikan hanya oknum Bapa yang memiliki nama YHWH, sehingga mereka menempatkat Kristus tidak setara dengan Bapa, apalagi Roh Kudus.
Saya pikir teman2 yang memang ingin memulihkan nama YHWH ini, memperbaiki stigma tersebut. Salam.
Santo | Apr 15, 2010 | Reply
Sdr Santo, saya kira saya memang salah kasih referensi, rupanya artikel yang saya baca memang tulisan pak Kristian hanya saja beda artikel, artikel yang saya baca tsb dulu juga saya download dari situs ini dengan judul Rev Tanggapan Tulisan LAI seri AB dalam format pdf, dan penjelasan Keluaran 3:13 ada di bahas secara singkat di seri B.Terima kasih
Mengenai gerakan messianik, setahu saya mereka percaya bahwa YESUS adalah YHWH yang menjadi manusia. Namun disisi lain, YESUS menyebut YHWH sebagai Bapa-Nya (Yoh 6:32).
Mungkin ini adalah salah satu keunikan KEJAMAKAN Diri YHWH yang sukar dipahami.
Salam Damai
TID | Apr 15, 2010 | Reply
Saudaraku, saya sudah lihat penjelasan tersebut, sama sekali tidak dibahas mengenai pertanyaan saya Kel 3:13, penjelasan dimulai dari Kel 3:14. Memang Kel 3:14, Tuhan menyatakan makna nama YHWH.
1. Pertanyaannya, apakah Musa dalam Kel 3:13, bertanya tentang nama atau makna?
2. Jika bertanya tentang makna, tentu tidak masuk akal, Tuhan memperkenalkan dirinya kepada Musa sebagai Elohim ayah Musa, Elohim Abraham, Elohim Ishak, dan Elohim Yakub, bukan dengan nama YHWH. (Kel 3:6)
3. Jika bertanya tentang nama, itu menjelaskan bahwa Musa tidak mengenal nama YHWH.
4. Jika nama YHWH sudah dikenal (anggap saja kecuali Musa, semua pada kenal nama YHWH), maka saat Musa bertanya tentang nama, maka jawaban Tuhan yang muncul bukanlah tentang makna nama, tapi seharusnya nama YHWH. (Kel3:14).
5. Berarti harus ada penjelasan logis, mengapa makna nama itu diungkapkan Tuhan saat itu. Apa artinya dengan pertanyaan Musa yang ingin meyakinkan orang Israel bahwa Tuhan mereka yang menyuruhnya?
Saudaraku, apakah bisa menjelaskan hal2 tersebut?
Santo | Apr 15, 2010 | Reply
Dan Aku telah menampakkan diri kepada Abraham, kepada Ishak, dan kepada Yakub; dengan El Shaddai dan nama-Ku YAHWEH, tidakkah Aku telah menyatakan diri kepada mereka?
Saya mencoba membandingkan dengan beberapa terjemahan lain, dan saya temukan bahwa kebanyakan terjemahan lain bahkan LAI memakai kata “sebagai El Shaddai”, dan KS ILT menerjemahkan nas tsb sebagai berikut:
Dan berfirmanlah Elohim kepada Musa, “Akulah YAHWEH. Dan Aku telah menampakkan diri kepada
Abraham, kepada Ishak, dan kepada Yakub, sebagai El Shadday, dan nama- Ku YAHWEH, bukankah Aku sudah dikenal oleh mereka?
Sedangkan KJV 1769 menerjemahkan nas tsb sebagai berikut:
And I appeared unto Abraham, unto Isaac, and unto Jacob, by the name of God Almighty, but by my name JEHOVAH (YHWH) was I not known to them. (Exodus 6:3 KJV 1769)
Meski saya kurang mahir gramatika bahasa Inggris, tapi saya kira frasa “by the name of” God Almighty itu berbeda maknanya dengan frasa “by my name” JEHOVAH (YHWH).
Kesimpulan saya:
Tuhan bukan menyatakan diri dengan nama El Shaddai tapi sebagai El Shaddai, yaitu Elohim Yang Mahakuasa kepada Abraham, Ishak dan Yakub.
Dan dari nas diatas juga dapat disimpulkan bahwa Abraham, Ishak dan Yakub mengenal Tuhan dengan Nama YHWH, hal ini terbukti dengan seruan Abraham : Adonai YHWH di Kejadian 15:2, Ishak berdoa kepada YHWH di Kejadian 25:18 dan berbagai kata-kata Yakub sendiri sepanjang hidupnya serta “pertemuan” Yakub dengan YHWH di Kejadian 28:13.
TID | Apr 15, 2010 | Reply
Santo : 2. Dalam konteks itu, Musa menuntut Tuhan menyebutkan nama-Nya, apakah masuk akal Musa tidak mengenali nama Tuhan leluhurnya (ayahnya, Abraham, Ishak, dan Yakub)? Mengapa Musa tidak mengenali nama YHWH, Tuhannya?
TID: Setelah membaca dan memeriksa beberapa hal , saya kira mungkin saya sudah dapat menjawab pertanyaan diatas. Demikian pandangan saya mengenai hal diatas:
Apakah masuk akal Musa tidak mengenali nama Tuhan leluhurnya? Mengapa?
-Kemungkinan pertama : Masuk akal Musa tidak mengenali nama Tuhan leluhurnya, ingat sebagian besar awal kehidupan Musa dihabiskan didalam istana Firaun, sehingga bisa jadi dia sama sekali tidak bisa bergaul dengan orang Israel dengan wajar sehingga dia tidak pernah tahu nama Tuhan leluhurnya itu, sesudah 40tahun dia mencoba bergaul kembali dengan bangsanya, tapi sayangnya dia kemudian melarikan diri ke Midian setelah membunuh seorang Mesir, mungkin karena itu dia tidak kenal Nama YHWH.
-Kemungkinan kedua : Masuk aka, apabila Musa sewaktu kecil disusui ibu kandungnya sampai dia agak besar, mungkin orang tua Musa sempat memberitahu Musa tentang Nama itu, tapi kemudian dilupakan oleh Musa sesudah tinggal di istana Firaun.
-Kemungkinan ketiga : Musa bukan menuntut Tuhan menyebutkan Nama-Nya dan dia tahu tentang Nama itu. Tapi Musa bertanya tentang kualitas/karakter di dalam Nama-Nya. Dengan kata lain, Musa ingin mengenal Pribadi dibalik Nama Tuhan para leluhurnya, bandingkan dengan permintaan Musa di Keluaran 33:18.
Terlepas apakah Musa mengenal Nama itu, saya menemukan bahwa sepertinya para tua-tua Israel mengenal atau setidaknya tahu tentang Nama YHWH, reaksi para tua-tua Israel berbeda dengan reaksi Firaun yang mempertanyakan siapa YHWH itu.
TID | Apr 15, 2010 | Reply
Saudaraku, dari jawaban yang di atas, kemungkinan kesatu dan kedua masih masuk akal, tapi kemungkinan ketiga pasti tidak masuk akal, Tuhan tidak memperkenalkan diri sebagai YHWH tapi Elohim. Jika Musa bertanya tentang makna nama, pasti itu tentang makna Elohim. Makanya tidak masuk akal, Musa bertanya tentang makna. Bagaimanapun nama (shem) bukan berarti “makna/arti” tapi “tanda”.
Ada yang saudara tidak ketahui, tuntutan Musa agar Tuhan menyebutkan nama itu, bukan hanya untuk dirinya sendiri tapi untuk orang Israel. Pastilah yang ditanya adalah sebuah nama untuk menjelaskan kepada orang2 Israel, bukan makna. Namun yang muncul, bukannya sebuah nama namun makna Aku adalah Aku.
Kel 3:13 Lalu Musa berkata kepada Allah: “Tetapi apabila aku mendapatkan orang Israel dan berkata kepada mereka: Allah nenek moyangmu telah mengutus aku kepadamu, dan mereka bertanya kepadaku: bagaimana tentang nama-Nya? –apakah yang harus kujawab kepada mereka?”
TID: Terlepas apakah Musa mengenal Nama itu, saya menemukan bahwa sepertinya para tua-tua Israel mengenal atau setidaknya tahu tentang Nama YHWH, reaksi para tua-tua Israel berbeda dengan reaksi Firaun yang mempertanyakan siapa YHWH itu.
Saudaraku, pendapat itu belum bisa dibenarkan. Tuhan telah membuat identifikasi yang jelas: Allah nenek moyangmu, Allah Abraham, Ishak dan Yakub
Kel 3:16. Pergilah, kumpulkanlah para tua-tua Israel dan katakanlah kepada mereka: TUHAN, Allah nenek moyangmu, Allah Abraham, Ishak dan Yakub, telah menampakkan diri kepadaku, serta berfirman: Aku sudah mengindahkan kamu, juga apa yang dilakukan kepadamu di Mesir.
Justru saya bertanya identifikasi itu tujuannya untuk apa, jika nama YHWH telah dikenal sebagai Tuhan yang disembah nenek moyang Israel? Tidak heran, kalau reaksi para tua2 Israel tidak seperti Firaun (terlepas mereka mengenal nama YHWH atau tidak, mereka tahu yang mengutus Musa adalah Tuhan nenek moyang mereka).
Sedangkan Firaun diperkenalkan YHWH sebagai Tuhan Israel (Kel 5:1-2). Jelas reaksi Firaun demikian karena YHWH bukan Tuhan nenek moyangnya.
Yang menarik adalah Tuhan memberikan identifikasi namaNya (YHWH, Allah Israel) kepada Firaun yang tidak mengenali nama YHWH. Apakah hal tersebut tidak berlaku sama terhadap orang Israel (YHWH, Allah nenek moyangmu, Allah Abraham, Ishak, dan Yakub)? Jika sama berarti Firaun dan orang2 Israel tidak mengenal nama YHWH.
Tambahan lagi, saat manusia pertama, Adam dan Hawa, Musa menuliskan mereka menyebut nama Tuhan dengan YHWH (Kej 4:1). Lalu bagaimana dengan Kej 4:26, yang dikatakan saat jaman Seth dan Enos, orang baru memanggil nama YHWH?
Kej 4:1. Kemudian manusia itu bersetubuh dengan Hawa, isterinya, dan mengandunglah perempuan itu, lalu melahirkan Kain; maka kata perempuan itu: “Aku telah mendapat seorang anak laki-laki dengan pertolongan TUHAN.”
Santo | Apr 15, 2010 | Reply
@ Santo :
saya tidak mau tanya banyak-banyak, dari diskusi yg panjang ini saya hanya mau tanya,
## menurut anda, allah itu nama diri atau nama sebutan/gelar?
## menurut anda, mengapa anda menolak nama YHWH/YAHWEH?
smart christian | Apr 16, 2010 | Reply
YHWH merupakan satu-satunya nama diri Tuhan sepanjang yang telah diungkapkan dalam Firman Tuhan, yang lainnya adalah nama gelar, nama sebutan, atau nama terjemahan. Tetapi Tuhan tidak melarang kita menyebut-Nya dengan nama gelar, nama sebutan, atau nama terjemahan. Kata allah merupakan nama terjemahan.
Santo | Apr 16, 2010 | Reply
@Santo;
…..Kata allah merupakan nama terjemahan.
oh ya????
terjemahan dari kata apa?
bagaimana dengan orang Muslim yang mengatakan:
“Tiada ilah selain Allah”
“My lord is Allah”
“There is no God but Allah”
terjemahan juga?
GKmin | Apr 16, 2010 | Reply
Saudara GKmin, sebenarnya saya malas melayani hal-hal seperti ini. Saya ingin diskusi yang ada bobotnya, saya dan saudara TID sudah melakukan diskusi yang berbobot artinya benar2 menggali dari Firman Tuhan. Anda pernah bertanya kepada saya bahwa bagaimana membedakan allah, Allah, dan ALLAH dalam doa. Saya sudah membalas pertanyaan itu tapi Anda belum menjawab: bagaimana Anda membedakan penyebutan Elohim untuk YHWH, dewa/illah, patung, dan manusia?
Santo | Apr 16, 2010 | Reply
@Santo;
Elohim (sebagai kata umum) jelas dapat menunjuk pada “siapapun”. Sehingga perlu ‘dijelaskan” elohim yang mana?
Bagaimana dengan kata “Allah”? Bukankah Allah bisa LANGSUNG menunjuk pada “Allah”
perhatikan Kejadian 33:20 “Allah Israel ialah Allah”
(ayat ini hanya satu contoh, apakah Allah di ayat ini sebagai kata umum atau kata khusus?)
GKmin | Apr 16, 2010 | Reply
Benar bisa menunjuk kepada siapa saja baik Elohim maupun Allah, tapi tetap ada konteksnya. Ketika orang menunjuk patung dan bilang Elohim, kita mengerti Elohim berarti patung. Ketika Elohim ditulis untuk Tuhan orang Mesir, kita tahu bahwa itu artinya illah atau dewa, ketika Abraham menyebut Elohim, kita tahu bahwa yang dimaksud YHWH. Apa yang beda dengan kata Allah, ketika orang kristen menyebut Allah sudah pasti yang dimaksud YHWH, ketika kita baca kata allah untuk tuhan orang Mesir, kita tahu bahwa itu illah/dewa, ketika orang Islam menyebut Allah, kita tahu bahwa yang dimaksud bukanlah YHWH. Bagi kita adalah illah atau dewa. Apa yang beda saudara GKmin?
Santo | Apr 16, 2010 | Reply
@Santo;
….ketika orang Islam menyebut Allah, kita tahu bahwa yang dimaksud bukanlah YHWH
’siapa’ Allah yang dimaksud orang Muslim? bukankah jelas Allah juga?
GKmin | Apr 16, 2010 | Reply
Yang perlu orang Kristen ketahui bahwa kata Allah bukan orang Islam, orang Islam tidak dapat mengklaim Allah sebagai nama diri tuhan mereka. Sampai saat ini kebenarannya seperti ini. Isu ataupun anggapan orang lain, maupun anggapan orang Islam sendiri, yah biarkan saja. Mengapa kita mengikuti kebodohan mereka? Merekalah yang mengambil istilah kita, karena kata Allah sudah digunakan oleh Kekristenan dan Yahudi di Arab, jauh sebelum Islam. Kalau orang intelektual Arab saja mengakui bahwa kata Allah merupakan bahasa umum yang digunakan secara umum. Bukankah lebih bodoh kita yang secara sengaja mengkhususkan kata Allah untuk orang Muslim? Apakah kata Elohim bebas dari kontroversial? El adalah nama Bapa Baal, dewa orang Kanaan. Sedangkan El Shaddai, Shaddai berasal dari Babylonia, dari kata Sadda’u yang artinya gunung, dan el shaddai (dewa gunung) digunakan sebagai gelar Baal di Kanaan.
Santo | Apr 16, 2010 | Reply
Kepada mas Santo.
Bahwa :
Allah = 666
Silakan baca di blogroll website ini pada judul :
ISLAM, QUR’AN DAN 666 (?)
Dan sudara kita muslim juga membenarkan dan menguatkan lagi hal ini, silakan baca di judul :
666 hanya trik setan (?)
Nah saudara Santo anda tinggal pilih bertahan dengan penyebutan Allah atau meninggalkannya!
Yons | Apr 16, 2010 | Reply
Mas Santo ini belum faham membedakan antara “SEBUTAN/JABATAN” dan “NAMA DIRI”
Jadi sampai kiamatpun ya nggak nyambung dengan yang dimaksud gkmin……!!!
Yons | Apr 16, 2010 | Reply
Dari hasil diskusi dengan mayoritas orang2 nasrani mengatakan bahwa “YHWH” = ALLAH
artinya ALLAH nya Islam = ALLAH nya Nasrani
Inilah yang menyebabkan antara umat Islam dan Nasrani timbul friksi2.
Nah saya menyatakan bahwa ALLAH nya Islam itu tidak sama dengan yg dimaksud Allah nya Nasrani karena alkitab kita ( LAI )mengambil nama Allah mengadopsi dari Al Qur’an.
Saya sudah tinggalkan penyebutan Allah untuk Tuhan Pencipta Langit dan Bumi sebab Dia itu sudah menyatakan Nama Diri NYA sebagai YAHWEH.
Yang lebih ngeri ternyata ALLAH = 666…….
Yons | Apr 16, 2010 | Reply
Saudaraku Yons, tentang Allah = 666, bukankah sudah saya komentarnya? Kalau nggak saya kopi lagi apa yang saya tulis.
Saya sudah membaca artikel tersebut, terus terang saya tidak dapat mempercayai isinya. Mengenai angka 666 dalam kitab Wahyu.
Janganlah kita mengikuti orang yang menafsirkan nubuatan sesuai dengan kehendak sendiri, hanya orang2 terpilih berbicara atas nama Tuhan dengan dorongan Roh Kudus yang dapat menafsirkannya.(2Petrus1:20-21)
Kita tidak boleh naif terhadap suatu tulisan2 seperti itu. Kita harus menguji terlebih dahulu melalui kebenaran Firman Tuhan dan memastikan orang yang menuliskan tersebut apakah mempunyai kredibilitas yang dapat kita percayai. Dan di atas semuanya itu, kita tidak pernah boleh mengizinkan pengalaman/asumsi orang menggantikan menggantikan Firman Tuhan sebagai dasar dari pengajaran dan keyakinan kita. Pada akhirnya, bukanlah apa yang telah dialami atau dikatakan orang, tetapi apa yang telah dikatakan Allah itu yang penting.
Salah satu penyebab tertua perpecahan gereja adalah doktrin palsu.
Kis 20:29 Aku tahu, bahwa sesudah aku pergi, serigala-serigala yang ganas akan masuk ke tengah-tengah kamu dan tidak akan menyayangkan kawanan itu.
Kis 20:30 Bahkan dari antara kamu sendiri akan muncul beberapa orang, yang dengan ajaran palsu mereka berusaha menarik murid-murid dari jalan yang benar dan supaya mengikut mereka.
Frase kunci di sini adalah “supaya mengikut mereka”. Paulus tidak sedang berbicara tentang kesalahpahaman atau kesalahan interpretasi Alkitab yang jujur oleh orang2 yang bermaksud baik (meski kesalahpahaman dan kesalahan interpretasi itu dapat menjadi masalah). Ia sedang berbicara tentang pemutarbalikan secara sengaja atas kebenaran alkitabiah oleh orang2 yang memiliki kepentingan mereka sendiri.
Jadi, kita harus dewasa dalam iman dan pengetahuan tentang Firman Tuhan sehingga tidak dibingungkan oleh pengajaran2 / tulisan2 yang seperti itu.
Saudaraku Yons mengenai nama diri ataupun nama gelar/sebutan, saya mengerti betul. Kalau Anda mengikuti komentar saya, setia membaca pasti tahu pendapat saya. Saya mengkopi lagi jawaban saya:
YHWH merupakan satu-satunya nama diri Tuhan sepanjang yang telah diungkapkan dalam Firman Tuhan, yang lainnya adalah nama gelar, nama sebutan, atau nama terjemahan. Tetapi Tuhan tidak melarang kita menyebut-Nya dengan nama gelar, nama sebutan, atau nama terjemahan. Kata allah merupakan nama terjemahan.
Kalau diadakan voting pada jaman Israel dulu, hasilnya begini, mas:
“YHWH” = Elohim”
“YHWH, El Shaddai” = “Baal, El Shaddai” ???
“Elohim Israel” = “Elohim Kanaan” = “Elohim Mesir” ???
Piye, toh mas, yang gak ngerti aku, atau sampean? Yang masalah jadi masalah adalah istilah Allah dan Elohim. Kata Allah bukanlah sebutan khusus melainkan umum, sama halnya dengan Elohim. Yang membuat hal ini jadi khusus adalah sampean dan teman2 toh padahal kenyataan dan kebenarannya sampai saat ini kata Allah adalah kata umum. Orang Islam tidak bisa mengklaim kata itu kata khusus agamanya dan bukan nama diri Tuhannya. Ngerti toh. Apalagi tidak ada larangan bagi kita untuk menterjemahkan nama-Nya, perintah mana harus menulis dan mengucapkan YHWH?
Santo | Apr 16, 2010 | Reply
Lagipula mas Yons, yang membuat jadi friksi itu orang2 yang berpandangan sempit. Aku kira bukan orang Islam Indonesia kok. Kalau mereka tidak ada yang ribut mengenai kata Allah, kok kita umat nasrani ribut2 meng-anti-kan istilah Allah. Tahu gak mas, gara2 ini, MUI mengirimkan surat ke PGI untuk menarik Alkitab yang memuat kata Allah. Apa mas gak kasihan ama teman2 nasrani lainnya. Apakah bisa dibilang kebenaran jika harus mengorbankan orang lain?
Santo | Apr 16, 2010 | Reply
@ Santo
coba Anda simak sejenak, video berikut ini,
http://www.youtube.com/watch?v=Zsl2A_KfHgc
ada satu statement ringan dari Daniel Alexander :
“ Bagi yang tidak mau kembali kepada nama YAHWEH, tidak apa-apa, tetapi harus konsekuen, jangan lagi memuji TUHAN dengan HALELLUYAH, tetapi ganti dengan HALELLUAL, sebab kalau tidak itu namanya munafik,…”
citta | Apr 17, 2010 | Reply
Saya tidak kenal Pendeta Daniel Alexander itu tetapi saya heran apakah beliau mengenal orang yang disebut munafik? Yesus menyebut orang Farisi dan ahli Taurat itu munafik karena mereka menganggap mereka memegang teguh hukum2 Allah dan melaksanakan hukum2 Allah tanpa memeriksa hati dan motivasi mereka sendiri. Merasa diri sendiri benar , berhak menghakimi yang lain, menerapkan ajaran yang hanya merupakan perintah manusia belaka yang tidak membawa keselamatan, dan memuliakan YHWH dengan bibirnya namun hatinya jauh.
Mat 7:1-5
7:1. “Jangan kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi.
7:2 Karena dengan penghakiman yang kamu pakai untuk menghakimi, kamu akan dihakimi dan ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu.
7:3 Mengapakah engkau melihat selumbar di mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu tidak engkau ketahui?
7:4 Bagaimanakah engkau dapat berkata kepada saudaramu: Biarlah aku mengeluarkan selumbar itu dari matamu, padahal ada balok di dalam matamu.
7:5 Hai orang munafik, keluarkanlah dahulu balok dari matamu, maka engkau akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan selumbar itu dari mata saudaramu.”
Mat 15:7-9
15:7 Hai orang-orang munafik! Benarlah nubuat Yesaya tentang kamu:
15:8 Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari pada-Ku.
15:9 Percuma mereka beribadah kepada-Ku, sedangkan ajaran yang mereka ajarkan ialah perintah manusia.”
Mat 23:13
23:13. Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, karena kamu menutup pintu-pintu Kerajaan Sorga di depan orang. Sebab kamu sendiri tidak masuk dan kamu merintangi mereka yang berusaha untuk masuk.
Apakah pengucapan kata “Halelluyah” merupakan kebenaran milik kelompok pemuja nama YHWH saja? Saya justru mengatakan bahkan orang yang mengatakan itu kekanak-kanakan. Apakah kehendak Tuhan itu demikian seperti yang dikatakan Pendeta Daniel Alexander? Jelas hikmat dari atas berdasarkan kehendak Tuhan itu murni, pendamai, peramah, penurut, penuh belas kasih, buah yang baik, tidak memihak, dan tidak munafik.
Yakobus 3
3:17 Tetapi hikmat yang dari atas adalah pertama-tama murni, selanjutnya pendamai, peramah, penurut, penuh belas kasihan dan buah-buah yang baik, tidak memihak dan tidak munafik.
Santo | Apr 17, 2010 | Reply
Amsal 11
11:2. Jikalau keangkuhan tiba, tiba juga cemooh, tetapi hikmat ada pada orang yang rendah hati.
Santo | Apr 17, 2010 | Reply
@Santo;
kalau mau tahu Pdt. Daniel Alexander, mestinya anda tonton acara Kick Andy, di Metro TV, tadi malam, atau silakan tonton siaran ulang-nya besok Minggu 18 April 2010, di Metro TV jam 15.30 WIB
atau silakan googling saja.
GKmin | Apr 17, 2010 | Reply
Santo : Lagipula mas Yons, yang membuat jadi friksi itu orang2 yang berpandangan sempit. Aku kira bukan orang Islam Indonesia kok. Kalau mereka tidak ada yang ribut mengenai kata Allah, kok kita umat nasrani ribut2 meng-anti-kan istilah Allah. Tahu gak mas, gara2 ini, MUI mengirimkan surat ke PGI untuk menarik Alkitab yang memuat kata Allah. Apa mas gak kasihan ama teman2 nasrani lainnya. Apakah bisa dibilang kebenaran jika harus mengorbankan orang lain?
TID : Mohon maaf karena baru hari ini bisa komentar lagi.
Btw,sdr Santo, saya seringkali menemukan di forum-forum diskusi apabila orang Kristen berdebat dengan orang Islam mengenai Tuhan, orang Islam sering mengutip ayat yang menyatakan bahwa allah itu tak beranak dan tak diperanakkan. Meskipun kenyataannya adalah bahwa Tuhan orang Kristen berbeda dengan tuhan orang Islam, namun karena sama-sama memakai kata allah, orang Islam Indonesia cenderung tidak mengerti bahwa mereka sedang membicarakan 2 pribadi yang berbeda sehingga orang Islam cenderung merasa tuhannya mereka sedang dihujat dengan adanya istilah putra allah, allah bapa, allah roh kudus dan bunda allah. Mau kita jelaskan bagaimanapun juga, kerapkali mereka gak ngerti dan ngotot karena kata allah itu identik dengan islam. Mengenai kaum intelektual Islam yang mengakui bahwa kata allah itu bahasa umum, saya kira itu karena mereka kan gak mau mengakui bahwa allah itu dulunya adalah nama salah satu dewa arab pra islam, dan setau saya ada juga kaum intelaktual Islam yang fair dan mengakui bahwa allah itu dulunya nama berhala.
Kebenaran itu seringkali menyakitkan dan oleh karena kebenaran banyak orang bisa terkorban. Apakah karena banyak yang terkorban, maka itu bukan kebenaran lagi? Apakah lebih baik, orang2 Kristen Indonesia terus-menerus tidak tahu ttg kebenaran ttg Nama itu? Fakta yang saya temukan dilapangan adalah kebanyakan orang Kristen Indonesia tdk tahu ttg Nama itu. Mereka tdk tahu ttg Tuhan YHWH, yang mereka tahu hanya Tuhan ALLAH,TUHAN ALLAH, Tuhan Allah,TUHAN Allah,dan sejenisnya. Mereka memang tahu tentang Tuhan YESUS, tapi mereka beranggapan bahwa Bapanya Tuhan YESUS itu Tuhan ALLAH bukan Tuhan YHWH. Sudah berapa banyak orang Kristen Indonesia mati tanpa tahu bahwa Bapanya Tuhan YESUS itu Tuhan YHWH bukan Tuhan ALLAH,Tuhan Allah,TUHAN Allah,ataupun TUHAN ALLAH?
Inikah yang disebut dengan KEBENARAN SEJATI? Saya kira ini bukan kebenaran lagi, tapi penyesatan.
TID | Apr 17, 2010 | Reply
Santo : Yang menarik adalah Tuhan memberikan identifikasi namaNya (YHWH, Allah Israel) kepada Firaun yang tidak mengenali nama YHWH. Apakah hal tersebut tidak berlaku sama terhadap orang Israel (YHWH, Allah nenek moyangmu, Allah Abraham, Ishak, dan Yakub)? Jika sama berarti Firaun dan orang2 Israel tidak mengenal nama YHWH.
TID : Saya tidak tahu kenapa seperti itu, mungkin orang2 Israel sudah melupakan Nama itu sehingga perlu Tuhan ingatkan kembali. Mengenai logis tidaknya jawaban Tuhan, bukankah Tuhan adakalanya melakukan hal2 yang tidak logis dan mengenai penyataan makna Nama Tuhan, setahu saya itu sudah banyak dibahas oleh banyak teologia, silakan saudara Santo periksa sendiri ya. Kalau belum puas juga, silakan Tanya sendiri sama yang menginspirasikan Musa menulis seperti itu.hehe
Santo : Tambahan lagi, saat manusia pertama, Adam dan Hawa, Musa menuliskan mereka menyebut nama Tuhan dengan YHWH (Kej 4:1). Lalu bagaimana dengan Kej 4:26, yang dikatakan saat jaman Seth dan Enos, orang baru memanggil nama YHWH?
TID : Memanggil Nama YHWH, mungkin ini ungkapan khusus. Coba cari tafsiran2 yang ada, salah satunya John Gill’s Expositior. Terima kasih
TID | Apr 17, 2010 | Reply
Saudaraku TID, saya senang bahwa Anda berpikir kritis, nama YHWH secara jujur memang kita tidak dapat buktikan kapan permulaan penyebutan atau kapan pertama kali Tuhan memperkenalkannya kepada manusia sebagai nama diri-Nya. Yang kedua, istilah memanggil Tuhan pada kitab kejadian bukanlah dimaknai secara hurufiah, namun lebih kepada ritual ibadah yang lebih lengkap, seperti halnya pembuatan mezbah. Jadi salah berasumsi bahwa itu istilah untuk membuktikan bahwa nama YHWH disebut atau dipanggil. Sedangkan dalam Kel6:3, masih terus banyak teori2 dan argumen2 yang ada, dan masih belum menjadi kebenaran yang mutlak, sehingga kita harus bijak untuk melihat hal tersebut.
Saya berbuat demikian untuk memancing kreatifitas berpikir saudara, dan saya harapkan kebijaksanaan saudara untuk melihat masalah ditinjau dari kehendak Tuhan. Jangan hanya semena-mena bersikap fanatis (mempunyai keyakinan tetapi tidak selaras dengan tindakan) ataupun hanya legalitas (mempunyai tindakan yang dapat dibenarkan tetapi mempunyai hati).
Apakah Anda tahu kehendak Tuhan adalah hal yang membawa damai sejahtera, ketentraman, kelemahlembutan, penguatan iman, kesabaran, pengendalian diri, kasih, dan persatuan dalam persaudaraan seiman? Kalau Anda tahu itu, Anda mengerti kehendak Tuhan sesungguhnya, menilai masalah dari bobotnya. Dari awal sekali, saya sudah mengatakan bahwa apa yang kita perdebatkan di sini, sia-sia. Menurut Anda, apakah Tuhan senang nama-Nya dipulihkan namun harus menyakiti anak2-Nya? Saya melihat di forum ini banyak kata2 kasar, ejekan, cemoohan, yang lucunya adalah ditujukan kepada saudara seiman. Jika Tuhan kita melarang kita berbuat demikian kepada orang berbeda iman dengan kita, apalagi dengan yang seiman. Sadarkah hubungan kita sangat dekat, kita sudah dipersatukan oleh Kristus, dengan status saudara: Kakak, Adik, Saudara Laki2, dan Saudara2 Perempuan, satu sama lainnya, apakah ada persoalan yang tidak dapat diselesaikan di antara yang namanya “saudara”?
Kalau saja, tiap masing2 orang tidak angkuh pada pendirian merasa diri benar, saya rasa tidak akan ada persoalan2, bahkan tidak akan ada yang namanya gereja terpecah-belah, hal tersebut bagaikan melempar lumpur ke muka Kristus, membuat aib.
Mengenai orang yang lain iman dengan kita, untuk apa Anda mendengar komentar2 yang menggoncangkan iman saudara. Karena iman kita hanya dapat dinilai secara rohani oleh kita, dan Anak yang berkenan menyatakan kepada orang yang dikasihi-Nya. Jangan gara2 komentar2 itu, Anda menjadikan komentar2 itu sebagai dasar kebenaran pemulihan nama YHWH, apakah pantas? Mengenai keselamatan, apakah nama YHWH memegang peranan penting untuk keselamatan? Saran saya, Anda harus memeriksa lagi “anggapan” saudara itu di dalam Firman Tuhan.
Salam Kasih.
Santo | Apr 17, 2010 | Reply
Untuk mas Santo,
Coba baca alkitab terbitan LAI :
Kejadian 2:4
2:9
2:15
2:18
2:19 dst, dst ,dst banyak sekali
Semua tertulis ” Tuhan Allah”
Saya bertanya apakah “Allah” sebagai nama diri atau sebutan/terjemahan????
Kalau terjemahan berarti Tuhan Allah = Tuhan-Tuhan atau Tuhan yang jamak????
BINGUNG NGGAK?
Yons | Apr 17, 2010 | Reply
Mas Yons ini gimana sih, kalau di bahasa Ibrani, tulisannya YHWH Elohim. Kalau di bahasa Indonesia, tulisannya TUHAN Allah. Jadi LAI menterjemahkan YHWH menjadi TUHAN dan Elohim menjadi Allah. Mas Yons, menurut Mas Yons YHWH, Tuhan bukan? Kalau gitu mas Yons YHWH = Tuhan. Aku kasih tahu mas Yons, Elohim juga berarti Tuhan, jadi Elohim = Tuhan. YHWH Elohim = TUHAN Allah = Tuhan-Tuhan. Piye toh, mas yons?
Santo | Apr 17, 2010 | Reply
Nggak nyambung mas Santo.
YHWH kok diterjemahkan “TUHAN” ??????
Jadi tetap nggak ngerti beda nama diri dan sebutan.
Yons | Apr 18, 2010 | Reply
Mas Yons, apakah di kitab PB, ada tulisan nama YHWH, mas? Gak ada kan, karena penulis kitab PB, menterjemahkan nama diri YHWH ini ke dalam bahasa Yunani, mas. YHWH diterjemahkan jadi Theos, apakah gak boleh YHWH diterjemahkan jadi TUHAN, sedangkan para penulis kitab PB menterjemahkan YHWH jadi Theos. Kalau penulis PB, yang sebagian besar rasul/murid2 Yesus berpandangan sama seperti mas Yons, bahwa nama diri gak boleh diterjemahkan, maka di kitab PB akan ada tulisan nama YHWH, mas Yons, bukan Theos. Nyatanya gak ada satupun tulisan YHWH, mas di kitab PB.
Santo | Apr 18, 2010 | Reply
nyasar.karena nama yesus sebenarnya tidak ada artinya,sang juru selamat sebenarnya adalah YAHSHUA Hamasiach yang artinya YHWH yang menyelamatkan,karena satu-satunya yg bisa menye lamatkan manusia hanyalah YHWH.(yesaya 43:11)
Shaloom.
ss parulian | Apr 18, 2010 | Reply
@ Santo :
Jadi LAI menterjemahkan YHWH menjadi TUHAN dan Elohim menjadi Allah.
coba cari di KAMUS Alkitab terbitan LAI, disana keterangan untuk kata TUHAN adalah Salinan dari nama Allah Israel yaitu YAHWEH (bd. Kel 3:14). jadi, apakah SALINAN = TERJEMAHAN..?
apakah NAMA DIRI dapat diterjemahkan..?? ^_^
Mas Yons, apakah di kitab PB, ada tulisan nama YHWH, mas? Gak ada kan, karena penulis kitab PB, menterjemahkan nama diri YHWH ini ke dalam bahasa Yunani, mas.
pertanyaan saya, bisakah bahasa YUNANI menuliskan kata YHWH..??
citta | Apr 18, 2010 | Reply
Saudaraku Citta, kamu cek kamus bahasa indonesia. Setahuku pengertian menyalin adalah: mengkopi, membuat duplikat, mentransfer, dan juga menterjemahkan. Sehingga “Salinan” menanggung arti “duplikat dan terjemahan”. Apakah nama diri dapat disalin “diduplikat dan diterjemahkan”, contohnya ada pada semua tulisan di dalam kitab perjanjian Baru. Apakah tulisan kata YHWH, dapat ditulis dengan bahasa Yunani? Saya justru bertanya kepada Anda apakah tulisan YHWH dapat ditulis dalam bahasa Indonesia. Perlu diketahui YHWH merupakan usaha penterjemahan yang dihuruflatinkan, bukan tulisan asli dalam bahasa Ibrani. Yang dibilang YHWH itupun sudah dilakukan usaha penterjemahan, apalagi ditambah huruf hidup agar bisa dibaca Yehuwa, Yahweh, Jehovah, dll. Saya malah tidak mengerti, kalian menuntut nama diri yang orisinil, tapi kenyataannya bukanlah orisinil, bahkan menyalahkan usaha terjemahan yang merupakan maksud Tuhan memberitakan Injilnya ke seluruh bangsa. Apa kalian tidak melihat dampaknya. Lihat komentar Saudara SS Parulian! Apa kalian tidak kasihan dan tidak sadar bahwa yang dikerjakan sekarang ini justru menjauhkan orang dari jalan keselamatan.
Santo | Apr 18, 2010 | Reply
Jujur saja, saya katakan bahwa pendeta2 atau orang2 yang berbicara tentang pemulihan nama YHWH ini, dulunya memakai Alkitab LAI yang diakui sebagai Firman Tuhan. Apa sekarang tidak lagi? Udah ganti trend? Sudah mengatakan bahwa Alkitab LAI bukan kebenaran tapi penyesatan? Saya juga percaya bahwa dulunya teman2 di sini menggunakan Alkitab LAI, apakah Anda yang bertobat didasari Firman Tuhan yang telah disesatkan? Saya sebenarnya tidak ingin keras, namun melihat bahwa usaha ini makin lama makin menjauhkan orang dari jalan keselamatan yang sebenarnya. Memang tidak ada terjemahan yang sempurna, namun tidak menjadikan hal tersebut menjadi tidak benar.
Santo | Apr 18, 2010 | Reply
Saudara SS Parulian, nama Yesus, Anak Tunggal Allah, bukanlah tidak ada artinya. Malah kaitannya erat dengan keselamatan kita.
Yoh 3:18 Barangsiapa percaya kepada-Nya, ia tidak akan dihukum; barangsiapa tidak percaya, ia telah berada di bawah hukuman, sebab ia tidak percaya dalam nama Anak Tunggal Allah.
Kis 2:38 Jawab Petrus kepada mereka: “Bertobatlah dan hendaklah kamu masing-masing memberi dirimu dibaptis dalam nama Yesus Kristus untuk pengampunan dosamu, maka kamu akan menerima karunia Roh Kudus.
Kis 10:48 Lalu ia menyuruh mereka dibaptis dalam nama Yesus Kristus. Kemudian mereka meminta Petrus, supaya ia tinggal beberapa hari lagi bersama-sama dengan mereka.
Filp 2:10 supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi
I Kor 5:5 orang itu harus kita serahkan dalam nama Tuhan Yesus kepada Iblis, sehingga binasa tubuhnya, agar rohnya diselamatkan pada hari Tuhan.
I Kor 6:11 Dan beberapa orang di antara kamu demikianlah dahulu. Tetapi kamu telah memberi dirimu disucikan, kamu telah dikuduskan, kamu telah dibenarkan dalam nama Tuhan Yesus Kristus dan dalam Roh Allah kita.
Yoh 14:13 dan apa juga yang kamu minta dalam nama-Ku, Aku akan melakukannya, supaya Bapa dipermuliakan di dalam Anak.
Yoh 14:14 Jika kamu meminta sesuatu kepada-Ku dalam nama-Ku, Aku akan melakukannya.”
Yoh 14:26 tetapi Penghibur, yaitu Roh Kudus, yang akan diutus oleh Bapa dalam nama-Ku, Dialah yang akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan akan mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu.
Yoh 15:16 Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu. Dan Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap, supaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam nama-Ku, diberikan-Nya kepadamu.
Yoh 16:23. Dan pada hari itu kamu tidak akan menanyakan apa-apa kepada-Ku. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya segala sesuatu yang kamu minta kepada Bapa, akan diberikan-Nya kepadamu dalam nama-Ku.
Yoh 16:24 Sampai sekarang kamu belum meminta sesuatupun dalam nama-Ku. Mintalah maka kamu akan menerima, supaya penuhlah sukacitamu.
Yoh 16:26 Pada hari itu kamu akan berdoa dalam nama-Ku. Dan tidak Aku katakan kepadamu, bahwa Aku meminta bagimu kepada Bapa,
Yoh 20:31 tetapi semua yang tercantum di sini telah dicatat, supaya kamu percaya, bahwa Yesuslah Mesias, Anak Allah, dan supaya kamu oleh imanmu memperoleh hidup dalam nama-Nya.
Ef 5:20 Ucaplah syukur senantiasa atas segala sesuatu dalam nama Tuhan kita Yesus Kristus kepada Allah dan Bapa kita
Kol 3:17 Dan segala sesuatu yang kamu lakukan dengan perkataan atau perbuatan, lakukanlah semuanya itu dalam nama Tuhan Yesus, sambil mengucap syukur oleh Dia kepada Allah, Bapa kita.
II Tes 3:6. Tetapi kami berpesan kepadamu, saudara-saudara, dalam nama Tuhan Yesus Kristus, supaya kamu menjauhkan diri dari setiap saudara yang tidak melakukan pekerjaannya dan yang tidak menurut ajaran yang telah kamu terima dari kami.
I Pet 4:16 Tetapi, jika ia menderita sebagai orang Kristen, maka janganlah ia malu, melainkan hendaklah ia memuliakan Allah dalam nama Kristus itu.
Santo | Apr 19, 2010 | Reply
shaloom,
Maksud saya bahwa nama yesus itu tidak mengandung arti sebenarnya adalah dikaitkan dgn perintah YHWH melalui malaikatnya utk memerintahkan maria agar menamakan putranya yg akan lahir dgn nama YAHSHUA yg artinya YHWH yg menyelamatkan.(KALAU YESUS artinya apa ya?).Dalam hal ini perlu kita renungkan,kenapa Bapa YHWH perlu memerintahkan malaikatnya memberitahukan maria utk menamakan putranya yg akan lahir dgn nama YAHSHUA?Kita tahu bahwa apa yg difirmankan oleh YHWH,bukan utk sesuatu yg sia-sia,pasti ada maksud dan tujuan tertentu utk manusia.Mari kita renungkan sesuai dgn keimanan kita, bukan utk diperdebatkan,demikian juga dgn keluaran 3:15, yg jelas YHWH menyatakan bahwa itulah nama NYA dan SEBUTAN NYA selama-lamanya,apakah YHWH mengatakan ini hanya utk bermain-main?kita yakin pasti ada maksud tertentu utk manusia ingat,yg pasti supaya manusia jangan disesatkan oleh iblis utk menyembah ilah yg lain.YHWH Eloheikem yevarek etkem ba mashiah YAHSHUA le’olam wa’ed,Amen.
ss parulian | Apr 21, 2010 | Reply
Saudaraku, dalam PB nama Yanshua diterjemahkan Iesous, sedangkan dalam bahasa Inggris diterjemahkan sebagai Jesus, dan dalam bahasa Indonesia diterjemahkan sebagai Yesus. Tentu saja arti dari terjemahan mengikuti kata dalam bahasa aslinya. Persoalannya adalah apakah nama diri dapat diterjemahkan? Saya sudah menjawab dapat, terbukti pada terjemahan semua nama diri yang ditulis penulis kitab PB dalam bahasa Yunani. Apakah nama diri mutlak harus bahasa aslinya, dan tidak seharusnya diterjemahkan? Saya katakan tidak, karena buktinya ada pada semua tulisan kitab PB. Bukan hanya Tuhan dan manusia yang punya nama diri, bahkan bumi, laut, gelap, terang, dll pada kitab Kejadian diberi nama oleh Tuhan. Tapi apa harus pengucapannya dan penulisannya memakai bahasa aslinya? Jelas tidak. Satu hal yang terpenting adalah pengenalan atas pribadi, bukan pengenalan atas nama. Beberapa hal yang berkaitan tentang ini, komentar2 saya sudah saya ungkapkan. Silahkan Anda cari saja. GBU.
Santo | Apr 21, 2010 | Reply
@ Santo
Anda menulis “Bukan hanya Tuhan dan manusia yang punya nama diri, bahkan bumi, laut, gelap, terang, dll pada kitab Kejadian diberi nama oleh Tuhan.”, Bagaimana Anda bisa bilang kalau bumi, laut, gelap, terang itu punya nama diri? Saya mau tanya, yang Anda maksud nama diri itu apa?
el | Apr 23, 2010 | Reply
Bukankah Tuhan memberikan nama spesifik pada terang yang dinamakan siang (yowm) dan gelap dinamakan malam (layil)? Bukankah Tuhan memberi nama cakrawala itu langit (shamayim)? Bukankah Tuhan memberi nama bagian kering bumi adalah daratan (erets) dan kumpulan air adalah laut (yam)?
Saya hanya bilang bahwa Tuhan dan manusia memiliki nama diri, tetapi bagian2 yang saya sebutkan diberikan nama spesifik oleh Tuhan sendiri. Kalau bagian2 di atas dapat disebut pribadi, dapat dikatakan bahwa nama yang diberikan Tuhan adalah nama diri. Menurut Anda apa nama diri, apa yang membedakan dengan nama sebutan dan nama gelar?
Salam Kasih.
Santo | Apr 24, 2010 | Reply
@ Santo
dari contoh ini :
Bapak Santo atau Tuan Santo atau Saudara Santo
mana nama gelar/sebutan, mana nama diri?
atau Bapak = Santo, Tuan = Santo, Saudara = Santo
el | Apr 24, 2010 | Reply
Anda yang tidak mengerti kalau begitu. Kata Allah = kata Bapak seperti illustrasi saudara. Tidak ada yang menganti nama YHWH dengan Allah. Allah terjemahan dari kata Elohim. Mengenai YHWH boleh tidak diterjemahkan? Dalam LAI menterjemahkan YHWH sebagai TUHAN, Anda cek sendiri apakah di tulisan kitab PB ada nama YHWH? Tentu tidak ada karena penulis PB sudah menterjemahkan sebagai Theos dan Kurios. Ini bukti bahwa nama diri YHWH boleh diterjemahkan.
Salam.
Santo | Apr 24, 2010 | Reply
@ Santo
kalau begitu,
apa bedanya TUHAN dengan tuhan dengan Tuhan?
apa bedanya TUHAN sebagai TERJEMAHAN dari YHWH dengan tuhan dan Tuhan?
bagaimana dengan frasa Tuhan Allah, Allah Tuhan, TUHAN ALLAH?
apa artinya TUHAN, tuhan, Tuhan?
apa artinya YHWH?
el | Apr 24, 2010 | Reply
Pertanyaan Anda sudah banyak yang menanyakan, lihat saja di atas, saya sudah menjawab. Yang lainnya yang bertanya sudah mengerti.
Salam.
Santo | Apr 24, 2010 | Reply
@Santo;
Tidak ada yang menganti nama YHWH dengan Allah.
tapi LAI mengganti nama YHWH dengan ALLAH (huruf besar semua).
Bagaimana membedakan Allah dan ALLAH dalam doa dan nyanyian?
GKmin | Apr 24, 2010 | Reply
Saudaraku tentang penulisan ALLAH sudah dijawab ketika menjelaskan pada saudara Citta.
Untuk membedakan kata Allah, ALLAH, allah, dalam doa, SAMA HALNYA MEMBEDAKAN kata Elohim yang ditujukan pada YHWH, dewa, patung, atau manusia, dalam doa.
Santo | Apr 25, 2010 | Reply
Santo : Apakah Anda tahu kehendak Tuhan adalah hal yang membawa damai sejahtera, ketentraman, kelemahlembutan, penguatan iman, kesabaran, pengendalian diri, kasih, dan persatuan dalam persaudaraan seiman?
TID : Saya tahu bahwa kehendak Tuhan adalah sebagian besar sebagaimana yang sdr. Santo katakan diatas. Namun kita perlu tahu juga bahwa, apabila kehendak Tuhan/kebenaran Tuhan disampaikan itu tidak selalu membawa “persatuan” dalam “persaudaraan seiman”.
Beberapa contoh :
Ketika Tuhan YESUS datang ke dunia, Dia membuat orang Yahudi (umat Tuhan) terpecah menjadi 2 kelompok.
Ketika rasul Paulus berkhotbah kepada orang-orang Yahudi (umat Tuhan), hal tersebut kerap membawa perbedaan dan pertentangan diantara mereka (orang Yahudi).
Ketika Martin Luther memulai reformasi gereja, terjadi perpecahan diantara orang-orang percaya.
Apakah setiap terjadi “perpecahan” dalam tubuh Tuhan dapat dianggap hal tersebut bukan kehendak Tuhan?
Saya berpendapat bahwa, terjadinya perpecahan dalam sebuah kelompok, tidak merupakan bukti mutlak bahwa sesuatu itu bukan kehendak Tuhan.
Dan kalau saya tidak salah ingat, sdr. Santo pernah mengutip nas berikut:
Tetapi hikmat yang dari atas adalah pertama-tama murni, selanjutnya pendamai, peramah, penurut, penuh belas kasihan dan buah-buah yang baik, tidak memihak dan tidak munafik. (James 3:17 ITB)
Yang dalam terjemahan - terjemahan lain :
But the wisdom that is from above is first pure, then peaceable, gentle, and easy to be intreated, full of mercy and good fruits, without partiality, and without hypocrisy. (James 3:17 KJV)
But the wisdom from above is first clean, then peaceable, gentle, ready to obey, filled with compassion and good fruits, without partiality and without hypocrisy. (James 3:17 The Scriptures 1998+)
Demikian pemahaman saya ttg nas diatas secara sederhana dan singkat :
Hikmat yang dari atas : hikmat dari Elohimnya sang penulis surat Yakobus, Tuhan Yang Mahatinggi, yakni Elohimnya Israel.
Pertama-tama, Murni (pure) : Sesuai dengan prinsip2 Firman Tuhan yg tertulis.
Kedua, pendamai(peaceable) : membawa damai (peacemaker;Matius5:9), bukan kompromi.
Ketiga, lemah lembut (gentle): lembut tapi bukan berarti tidak tegas.
Keempat, penurut(ready to obey): taat dan tunduk kepada Firman Tuhan yang tertulis.
Kelima , Penuh belas kasihan dan buah2 yg baik : berbelas kasihan dan membawa kebaikan.
Keenam, tidak memihak (without partiality) : tidak memandang muka dan harta.
Ketujuh, tidak munafik (without hypocrisy) : tidak pura-pura.
Dalam kesempatan ini, saya lebih membahas pada prinsip “pendamai” atau peaceable yg saya kira berkaitan erat dengan istilah peacemakers dalam Matius 5:9.
Dalam Matius 5:9, Tuhan YESUS memberitahu para pengikut-Nya bahwa salah satu tanda pengikut-Nya yang sejati adalah peacemakers, yang secara harafiah berarti para pembuat/pencipta damai.
Nah, sekarang coba kita kaitkan hal peacemakers dengan pemakaian kata “allah”. Dalam berbagai kesempatan saya temukan bahwa kata “allah” ini kerap kali menyebabkan konflik antara umat Kristen dengan umat Islam. Mayoritas umat Kristen beranggapan bahwa kata “allah” itu generic name/sebutan/gelar, sedang mayoritas umat Islam Orthodoks beranggapan bahwa allah itu nama diri. Dan umat Islam kebanyakan beranggapan pemakaian istilah allah bapa, allah anak, allah roh kudus dan bunda allah adalah suatu bentuk penghinaan kepada allah dalam Quran. Pemakaian kata allah oleh umat Kristen sering kali membuat umat Islam geram dan apabila ada kesempatan mereka akan menggunakan kekerasan terhadap umat Kristen, contoh : pembakaran gereja-gereja di Indonesia,dan konflik2 lainnya.
Nah, apa tak usah kita persoalkan masalah pemakaian kata allah dalam Alkitab terjemahan LAI dan mayoritas Kekristenan Indonesia yg telah menjadi salah satu pemicu konflik dan telah memakan banyak korban jiwa di pihak Kristen? Perhatikan: Salah satu sebab mereka terkorban karena sebuah kata yang masih bisa kita ganti dengan kata lain yang lebih “damai”.
Konflik antara Kristen dan Islam memang sudah lama dan mendarah daging, dan masalah pemakaian kata allah hanya salah satu pemicunya. Namun bukankah lebih baik bila salah satu pemicunya dihilangkan daripada berlarut-larut kita memberi mereka “hak dan kesempatan” untuk menyerang orang Kristen secara fisik maupun doktrinal?
Sdr. Santo , jika sebuah kata kerap menjadi pemicu konflik (yg tdk perlu dan bisa dihindari bila kata tsb dihindari), apakah Anda masih berani beranggapan bahwa kata tsb merupakan inspirasi Tuhan yang mencintai damai dan menghendaki para pengikut-Nya menjadi peacemakers/pencipta damai?
Orang-orang Kristen pada zaman dulu karena ketidaktahuan membuat kesalahan dan kemudian orang Kristen zaman sekarang sudah tahu akan kesalahan mereka yang terdahulu kemudian bagaimana sebaiknya? Apakah orang Kristen memilih beranggapan karena sudah lama begitu (tradisi) maka kemudian (tradisi) yg salah tsb akan berubah/diubah Tuhan menjadi kebenaran?
Mengenai cemoohan dan ejekan sebagian para pemakai Nama Bapa di situs ini atau di forum lain, apabila itu tidak sesuai dengan ajaran Tuhan anggaplah itu komentar duniawi/kedagingan dan itu saya pikir tidak mewakili seluruh para pemakai Nama Bapa.
Salam damai.
TID | Apr 28, 2010 | Reply
TID: Saya berpendapat bahwa, terjadinya perpecahan dalam sebuah kelompok, tidak merupakan bukti mutlak bahwa sesuatu itu bukan kehendak Tuhan.
Santo: Saya setuju pendapat saudara, perpecahan di atas karena Tuhan ingin mengembalikan umatnya ke rel yang benar, dan di masa tersebut ada penyelewengan rohani. Tetapi bedakan dengan perpecahan yang terjadi karena kepentingan sendiri yang ingin mencari anak2 Tuhan sebagai pengikut. Saya sudah mengatakan bahwa sebagian bahkan semua pendeta ataupun yang berbicara di sini, pernah memakai Alkitab LAI, yang diakui sebagai kebenaran. Apakah sekarang tidak lagi? Apakah ganti trend? Apakah pertobatan saudara TID sebelum mengenal nama YHWH didasarkan Firman yang telah disesatkan? Karena Anda pernah mengatakan Alkitab LAI sebagai penyesatan.
TID: Pertama-tama, Murni (pure) Sesuai dengan prinsip2 Firman Tuhan yg tertulis.
Santo: Setuju, dan Firman Tuhan telah membuktikan bahwa nama diri dapat diterjemahkan.
TID: Kedua, pendamai(peaceable) membawa damai (peacemaker;Matius5:9), bukan kompromi.
Santo: Setuju, makanya juga saya tidak kompromi terhadap hal ini. Dan berulang kali mengingatkan saudara2ku seiman.
TID: Ketiga, lemah lembut (gentle)lembut tapi bukan berarti tidak tegas.
Santo: Setuju, tentang hal2 prinsipil menyangkut keselamatan, kita harus tegas, namun bukan berarti semua hal menjadi suatu prinsip mutlak yang membabi buta, tanpa kebijaksanaan rohani.
TID: Keempat, penurut(ready to obey) taat dan tunduk kepada Firman Tuhan yang tertulis.
Santo: Setuju, tidak ada perintah melarang penterjemahan nama-Nya bahkan dikuatkan bahwa hal tersebut diperbolehkan dan menjadi rencana-Nya memberitakan Injil-Nya.
TID: Kelima , Penuh belas kasihan dan buah2 yg baik berbelas kasihan dan membawa kebaikan.
Santo: Setuju, penuh belas kasihan sehingga tidak memperkenankan sesuatu yang menjauhkan orang dari jalan keselamatan.
TID: Keenam, tidak memihak (without partiality) tidak memandang muka dan harta.
Santo: Setuju, tidak memandang manusia tetapi hanya memandang Tuhan dan memegang kebenaran Firman-Nya.
TID: Ketujuh, tidak munafik (without hypocrisy) tidak pura-pura.
Santo: Setuju, apa yang dilakukan harus dengan niat yang tulus.
TID: Nah, sekarang coba kita kaitkan hal peacemakers dengan pemakaian kata “allah”. Dalam berbagai kesempatan saya temukan bahwa kata “allah” ini kerap kali menyebabkan konflik antara umat Kristen dengan umat Islam. Mayoritas umat Kristen beranggapan bahwa kata “allah” itu generic name/sebutan/gelar, sedang mayoritas umat Islam Orthodoks beranggapan bahwa allah itu nama diri. Dan umat Islam kebanyakan beranggapan pemakaian istilah allah bapa, allah anak, allah roh kudus dan bunda allah adalah suatu bentuk penghinaan kepada allah dalam Quran. Pemakaian kata allah oleh umat Kristen sering kali membuat umat Islam geram dan apabila ada kesempatan mereka akan menggunakan kekerasan terhadap umat Kristen, contoh : pembakaran gereja-gereja di Indonesia,dan konflik2 lainnya.
Santo: Anda keliru dan merekayasa sumber masalah konflik pembakaran gereja2 di Indonesia. Dan ini dapat dikatakan “Adu Domba”. Nyatanya, sejak ada gerakan pro Yahweisme ini, PGI dikirimi surat dari MUI yang memerintahkan menarik Alkitab yang memuat kata Allah dalam 2 minggu. Bro..sadarkah Anda bahwa kelompok Anda yang membuat masalah?
TID: Orang-orang Kristen pada zaman dulu karena ketidaktahuan membuat kesalahan dan kemudian orang Kristen zaman sekarang sudah tahu akan kesalahan mereka yang terdahulu kemudian bagaimana sebaiknya? Apakah orang Kristen memilih beranggapan karena sudah lama begitu (tradisi) maka kemudian (tradisi) yg salah tsb akan berubah/diubah Tuhan menjadi kebenaran?
Santo: para rasul, penulis kitab suci PB, dan bapa2 gereja mula2 tidak diragukan lagi kebijaksanaan dan kebenaran yang mereka pegang. Mengapa Anda katakan keliru dan salah? Lebih bijak kah Anda dibandingkan mereka? Atau lebih bijak kah orang2 yang ada di balik kelompok pro-Yahweisme ini dibandingkan mereka? Anda bisa menjawab sendiri.
TID: Mengenai cemoohan dan ejekan sebagian para pemakai Nama Bapa di situs ini atau di forum lain, apabila itu tidak sesuai dengan ajaran Tuhan anggaplah itu komentar duniawi/kedagingan dan itu saya pikir tidak mewakili seluruh para pemakai Nama Bapa.
Santo: Saya tidak menghakimi demikian. Bahkan yang saya lihat banyak juga saudara seiman saya yang pro-kata Allah yang mengeluarkan ucapan tidak bijak dan tidak membawa berkat.
Salam Kasih.
Santo | Apr 28, 2010 | Reply
Siapakah Elohim bangsa Israel?
“Dengarlah hai Israel, YHWH itu Elohim kita”
Siapakah yang bernama Allah itu?
Allah itu elohimnya bangsa lain.
Firman YHWH:”segala elohim bangsa2 itu berhala”
Jadi Allah itu berhala.
Firman YHWH:”Nama elohim lain jangan kamu pang-gil, jangan kedengaran dari mulutmu.”
Awas, jangan melanggar larangan YHWH ini!!!
abigail | May 19, 2010 | Reply
Saya kutip yah!
Elohim = Allah
Abigail:
Siapakah Allah bangsa Israel?
“Dengarlah hai Israel, YHWH itu Allah kita”
Siapakah yang bernama Allah itu? Elohim
YHWH itu Allah-nya bangsa Israel.
Firman YHWH:”segala ilah2 bangsa2 itu berhala”
Jadi Allah itu dapat berarti berhala. Karena elohimpun dapat berarti berhala.
Firman YHWH:”Nama ilah2 lain jangan kamu pang-gil, jangan kedengaran dari mulutmu.”
Awas, jangan melanggar larangan YHWH ini!!!
Amin, Semoga Anda mengerti.
Salam
Santo | May 19, 2010 | Reply
Nah inilah contoh perdebatan yang tak akan berkesudahan sebagai akibat adanya perbedaan pijakan berfikir.
Mas Santo menempatkan kata/nama? “Allah” secara kurang konsisten sebagai “SEBUTAN” dan “NAMA DIRI”
Mas Abigail menempatkan kata/nama? “Allah” secara konsisten sebagai “NAMA DIRI”
Maka sampai kiamatpun tidak akan ada titik temu dan fenomena inilah yang saat ini terjadi diantara umat nasrani khususnya di Indonesia.
Dan yang lebih rancu saya kira pada alkitab terbitan LAI menempatkan kata/nama? “Allah” juga secara kurang konsisten dimana di satu ayat kata “Allah” dipakai sebagai “SEBUTAN” dan di ayat yang lain sebagai “NAMA DIRI” dengan trik pembedaan pemakaian huruf2 besar dan huruf2 kecil—> ingat Tuhan yang kita sembah adalah “Roh” dan di alam roh tidak mengenal huruf2 besar dan kecil.
Tidak ada satupun firman Tuhan dalam kitab suci /Bible yang mengatur pemakaian huruf2 dalam penulisannya!!
Coba perhatikan :
A. Mas Abigail menuliskan susunan kalimat yang secara konsisten menempatkan kata “Allah” dan “YHWH” sebagai “NAMA DIRI” dan kata “Elohim” sebagai “SEBUTAN”.
1) Siapakah Elohim bangsa Israel?
“Elohim” = “SEBUTAN” untuk Khalik Langit dan Bumi yang disembah oleh bangsa Israel.
“SEBUTAN” itu boleh diterjemahkan, boleh tidak diterjemahkan.
Dan “SEBUTAN” untuk Khalik Langit dan Bumi yang disembah bangsa Israel itu bisa bermacam-macam.
Kalau “SEBUTAN” dalam kalimat di atas diterjemahkan bisa menjadi :
—> Siapakah Tuhan bangsa Israel?
—–>”Elohim” diterjemahkan menjadi “Tuhan”
2) “Dengarlah hai Israel, YHWH itu Elohim kita”
“YHWH” = “NAMA DIRI” Khalik Langit dan Bumi yang disembah oleh bangsa Israel.
“Elohim” = “SEBUTAN” yang menunjuk salah satu karakter Khalik Langit dan Bumi yang disembah oleh bangsa Israel.
Ingat bahwa “NAMA DIRI” itu tidak untuk dieterjemahkan dan tidak perlu diterjemahkan dan seharusnya memang tidak boleh diterjemahkan dan atau diganti dengan “Nama lain” karena “NAMA DIRI” adalah merupakan ‘IDENTITAS DIRI” bagi pemilik “Nama” itu.
Untuk kalimat ke dua, kalau diterjemahkan bisa menjadi :
“Dengarlah hai Israel, YHWH itu Tuhan kita”
“YHWH” = “NAMA DIRI” ——–> tidak boleh diterjemahkan atau diganti dengan nama lain.
( Tetragramaton YHWH dalam perkembangannya ditulis dan atau diucapkan dengan berbagai “LOGAT” bangsa-bangsa menjadi “YAHWEH”, “YEHOVA”, “YEHUWAH” dll—–> INI BUKAN HASIL TERJEMAHAN )
“Elohim” —–> dapat diterjemahkan menjadi “Tuhan”.
Kalau “NAMA DIRI” diterjemahkan dan atau diganti dengan nama lain, maka hilanglah “IDENTITAS DIRI” pemilik nama itu.
Kalau “NAMA DIRI” diterjemahkan dan atau diganti menurut selera orang/golongan/budaya dll, maka akan dapat BERDAMPAK FATAL.
Coba perhatikan ini :
Suatu saat saya bermaksud kirim parcel yang sangat berharga kepada teman akrab saya melalui Biro Jasa Pengiriman Paket.
Nama diri teman saya itu adalah “TRI HUTOMO”.
Alamat : Jl. Imam Bonjol no.1234, Surabaya-60264.
Lalu saya tulis nama dan alamat pengiriman dengan menterjemahkan “NAMA DIRI” teman saya seperti ini :
Kepada :
Sdr. TIGA UTAMA
Alamat : Jl. Imam Bonjol no.1234, Surabaya-60264.
Nah pada saat petugas pengirim paket sampai di alamat yang dimaksud dan bertemu langsung dengan teman saya TRI HUTOMO,maka alangkah terkejutnya petugas paket ini karena nama yang tertulis di KTP tidak sesuai dengan “nama penerima paket”, sehingga memutuskan untuk tidak menyerahkan paket tersebut dan mengembalikan paket tsb ke alamat pengirim.
Teman saya marah-marah karena dia yakin paket tersebut ditujukan untuk dirinya karena dia sangat mengenal nama pengirim sebagai teman akrabnya.
Dia juga heran mengapa “NAMA DIRI”nya harus diterjemahkan menjadi “TIGA UTAMA”????
“TRI” diterjemahkan menjadi “TIGA”
“HUTOMO” diterjemahkan menjadi ‘UTAMA”
Nama “TRI HUTOMO” diterjemahkan menjadi “TIGA UTAMA”.
Akhirnya teman saya menjadi KECEWA BERAT karena paket tersebut tetap tidak diserahkan dan dikembalikan ke alamat pengirim karena “Nama penerima” tidak sesuai yang tertulis di KTP
——–> FATAL.
Nah sekarang bagaimana kalau “NAMA DIRI” teman saya itu saya ganti sesuai kebiasaan orang2 memanggilnya dengan nama “BENJOL” karena memang kepalanya agak benjol.
Julukan ini sangat terkenal sekali dan sudah dipakai untuk panggilan sehari-hari oleh para famili maupun sahabat-sahabat sejak ia masih baby sampai sekarang pada usia tua sehingga kebanyakan merekapun menjadi lupa bahkan tidak tahu nama diri asli teman saya itu yang adalah “TRI HUTOMO”.
(Fenomena seperti ini identik dengan argumentasi LAI dalam menggunakan kata/nama? “Allah” yang katanya sudah mendarah daging dipakai oleh bangsa-bangsa sejak jaman baehola sehingga layak untuk ditiru dan diikuti??? untuk penyebutan nama Tuhan sesembahan kita???)
Lalu saya tulis alamat pengiriman paket seperti ini :
Kepada :
Sdr. BENJOL
Alamat : Jl. Imam Bonjol no.1234, Surabaya-60264.
Saya berani menjamin bahwa paket tersebut tetap tidak akan diberikan, dan dikembalikan kepada pengirim.
———–>>> FATAL.
3) Siapakah yang bernama Allah itu?
——-> “Allah” sebagai “NAMA DIRI” —> konsisten dengan kalimat sebelumnya.
4) Allah itu elohimnya bangsa lain.
——-> “Allah” sebagai “NAMA DIRI” dan
“elohim” sebagai “SEBUTAN”.
—-> konsisten dengan kalimat sebelumnya.
Kalau diterjemahkan, kalimat no.4 bisa menjadi :
-? Allah itu Tuhannya bangsa lain.
5) Firman YHWH:”segala elohim bangsa2 itu berhala”
——-> “YHWH” sebagai “NAMA DIRI” dan “elohim” sebagai “SEBUTAN”—> konsisten dengan
kalimat sebelumnya.
6) Jadi Allah itu berhala.
———> “Allah” sebagai “NAMA DIRI” dan “berhala” sebagai “SEBUTAN”
*** Yang ditulis Mas Abigail tetap konsisten dalam penempatan “NAMA DIRI” maupun mana yang “SEBUTAN” sehingga kalimat2 termaksud dapat dimengerti dengan jelas.
B. Selanjutnya coba kita cermati tulisan mas Santo :
Saya kutip yah!
Elohim = Allah
—–> Elohim = Allah —–> ini sebagai “SEBUTAN” atau “NAMA DIRI” ????? nggak jelas!!
1) Siapakah Allah bangsa Israel?
——> “Allah” = “SEBUTAN” menggantikan/menterjemahkan?? kata “elohim”
——> “YHWH” sebagai “NAMA DIRI” dan “Allah” sebagai ‘SEBUTAN”—-> masih konsisten dengan kalimat pertama.
3) Siapakah yang bernama Allah itu? Elohim
——-> “Allah” sebagai “NAMA DIRI”
—–>> ini menjadi tidak konsisten dengan
kalimat pertama dan ke dua di atas.
——-> “YHWH” sebagai “NAMA DIRI” DAN “Allah” sebagai ‘SEBUTAN”—> tidak konsisten dengan kalimat ke tiga.
5) Firman YHWH:”segala ilah2 bangsa2 itu berhala”
——-> “elohim” diterjemahkan menjadi “ilah2″ —-> sebagai “SEBUTAN”
a) Jadi Allah itu dapat berarti berhala.
——-> dalam konteks ini “Allah” sebagai “NAMA DIRI” suatu berhala.
b) Karena elohimpun dapat berarti berhala.
—–> Kata “elohim” adalah ‘SEBUTAN” yang dapat dipakaikan kepada siapa saja yang orang kehendaki dan yakini, bisa menjadi “SEBUTAN” untuk suatu “NAMA DIRI” “berhala” atau “bukan berhala” tergantung sudut pandang masing2 orang menurut keyakinannya.
Contoh :
b.1. “elohim Allah” = TUHAN Allah —> “elohim” diterjemahkan “TUHAN” sebagai “SEBUTAN”
“Allah” sebagai “NAMA DIRI”
“elohim Allah” = BUKAN BERHALA bagi
pemuja nama Allah.
“elohim Allah” = BERHALA bagi yang sudah
meninggalkan Allah dan
kembali ke YAHWEH.
6) Firman YHWH:”Nama ilah2 lain jangan kamu pang-gil, jangan kedengaran dari mulutmu.”
Awas, jangan melanggar larangan YHWH ini!!!
——> Justru inilah yang menjadi peringatan bagi para pemuja “NAMA DIRI” selain YHWH.
YHWH dengan TEGAS dan KERAS mengingatkan bangsa Israel untuk tidak menyebut/memanggil nama-nama yang lain selain nama YHWH
(”Allah” juga termasuk nama2 yang lain bukan?)
“elohim” bukan “NAMA DIRI” melainkan suatu “SEBUTAN”
Jadi kalau orang menyebut kata “elohim” maka perlu diperjelas “elohim” yang mana?
Di Amerika ada kelompok yang menamakan diri “Brotherhood”.
Kelompok ini percaya bahwa Tuhan Khalik Langit dan Bumi adalah satan ber nama “Lucifer”.
Jadi jangan heran kalau mereka menyebut “elohim Lucifer”!!
OKEY! sampai di sini komentar saya.
Anda sependapat silakan, tidak sependapat ya silakan.
Semuanya menjadi bahan perenungan kita bersama tanpa harus menimbulkan pertengkaran dan atau permusuhan di antara kita.
Sekali lagi biarlah ini menjadi pemahaman masing2 orang, kita hanya berkewajiban saling mengingatkan.
Salam kasih.
Yons | May 22, 2010 | Reply
oooops… maaf tulisan saya kepotong-potong.
INI SAYA ULANG
Tulisan Mas Santo :
Saya kutip yah!
Elohim = Allah
—–> Elohim = Allah —–> ini sebagai “SEBUTAN” atau “NAMA DIRI” ????? nggak jelas!!
1) Siapakah Allah bangsa Israel?
——> “Allah” = “SEBUTAN” menggantikan kata
“elohim”
2) “Dengarlah hai Israel, YHWH itu Allah kita”
——> “YHWH” sebagai “NAMA DIRI” DAN “Allah”
sebagai ‘SEBUTAN”—-> masih konsisten dengan
kalimat pertama.
3) Siapakah yang bernama Allah itu? Elohim
—-> “Allah” sebagai “NAMA DIRI”—-> ini menjadi tidak konsisten dengan kalimat pertama
dan kedua diatas.
4) YHWH itu Allah-nya bangsa Israel.
——-> “YHWH” sebagai “NAMA DIRI” DAN “Allah” sebagai ‘SEBUTAN”—> tidak konsisten
dengan kalimat ke tiga diatas.
5) Firman YHWH:”segala ilah2 bangsa2 itu
berhala”
——-> “elohim” diterjemahkan menjadi “ilah2″ —-> sebagai “SEBUTAN”
a) Jadi Allah itu dapat berarti berhala.
——-> dalam konteks ini “Allah” sebagai “NAMA DIRI” suatu berhala
b) Karena elohimpun dapat berarti berhala.
—–> “elohim” adalah ‘SEBUTAN” yang dapat dipakaikan kepada siapa saja yang orang kehendaki dan yakini, bisa menjadi “SEBUTAN” untuk suatu “NAMA DIRI” “berhala” atau “bukan berhala” tergantung sudut pandang masing2 orang menurut keyakinannya.
Contoh :
b.1. “elohim Allah” = TUHAN Allah
—> “elohim” diterjemahkan “TUHAN” sebagai
“SEBUTAN”
“Allah” sebagai “NAMA DIRI”
—->”elohim Allah”= BUKAN BERHALA bagi
pemuja nama Allah.
“elohim Allah”= BERHALA bagi yang sudah
meninggalkan Allah dan
kembali ke YAHWEH.
6) Firman YHWH:”Nama ilah2 lain jangan kamu
panggil, jangan kedengaran dari mulutmu.”
Awas, jangan melanggar larangan YHWH ini!!!
——> Justru inilah yang menjadi peringatan bagi para pemuja “NAMA DIRI” selain YHWH.
YHWH dengan TEGAS dan KERAS mengingatkan bangsa Israel untuk tidak menyebut/memanggil nama-nama yang lain selain nama YHWH’
(”Allah” juga termasuk nama2 yang lain bukan?)
“elohim” bukan “NAMA DIRI” melainkan suatu “SEBUTAN”
Jadi kalau orang menyebut kata “elohim” maka dapat diperjelas “elohim” yang mana?
Di Amerika ada kelompok yang menamakan diri “Brotherhood”.
Kelompok ini percaya bahwa Tuhan Khalik Langit dan Bumi adalah satan ber nama “Lucifer”.
Jadi jangan heran kalau mereka menyebut “elohim Lucifer”!!
OKEY! sampai di sini komentar saya.
Anda sependapat silakan, tidak sependapat ya silakan.
Semuanya menjadi bahan perenungan kita bersama tanpa harus menimbulkan pertengkaran dan atau permusuhan di antara kita.
Sekali lagi biarlah ini menjadi pemahaman masing2 orang, kita hanya berkewajiban saling mengingatkan.
Salam kasih.
Yons | May 22, 2010 | Reply
Allah tidak pernah menggantikan nama YHWH. Elohim-lah terjemahan dari Allah. Saya juga heran YHWH, oleh orang Yahudi, jauh banget diganti sebutannya menjadi Adonai! YHWH oleh para rasul diganti menjadi Theos, jauh banget perbedaannya.
Jadi jangan samakan yah dengan terjemahan nama Anda yang dikirim parcel tidak sampai. Karena nama YHWH yang diganti oleh orang Yahudi dan para rasul-pun membuat kiriman parcel tidak sampai ke YHWH.
Yang mana, yang Anda sebutkan bahwa YHWH diterjemahkan menjadi Allah? Coba cek lagi di Alkitab LAI Anda! Saya rasa cuma ada 2-3 kasus di seluruh kata tejemahan, dimana Yah YHWH diterjemahkan menjadi TUHAN ALLAH, itupun saya sudah menjelaskan alasannya.
YHWH bukan nama terjemahan? Bung, sejarah menyatakan bahwa tidak ada yang mengetahui bagaimana tulisan YHWH itu diucapkan! YHWH ini pun diusahakan melalui penafsiran. Apakah bangsa Yahudi mengenal abjad seperti kita?
Justru Andalah yang sekarang seharusnya berpikir, kalau bentuk usaha pengucapan YHWH tersebut keliru, apalagi usaha untuk melafalkan YHWH menjadi Yahweh, Yehuwa, Jehovah, dll keliru, bukankah Anda yang tidak sampai alamat? Yons dikira2 menjadi Yins, Jins, Jeans, apakah orang sama yah bahkan mungkin bukan nama orang.
Salam.
Santo | May 22, 2010 | Reply
@Santo : Kalau YHWH tidak bisa dibaca, bagaimana dengan kata Halleluyah? Yang asal hurufnya dari HLLYH. Mengapa HLLYH bisa kita ucapkan dengan?
jack | May 23, 2010 | Reply
Halleluyah…
jack | May 23, 2010 | Reply
Karena Yohanes menterjemahkan HLLYH ke dalam bahasa Yunani: allelouia al-lay-loo’-ee-ah
Salam.
Santo | May 24, 2010 | Reply
@Santo,
kata HLLWYH, sudah muncul di Kitab “PL”,
apakah sebelum Yohanes “menterjemahkan” kata/tulisan itu tidak bisa dibaca?
GKmin | May 24, 2010 | Reply
Saya tidak bisa memastikan apakah bisa dibaca atau tidak oleh Yohanes. Bunyi kata halelluyah sekarang berasal dari allelouia al-lay-loo’-ee-ah terjemahan Yohanes. Jikalau Yohanes menterjemahkan berdasarkan bunyi pada pengucapan huruf aslinya menunjukkan bahwa penterjemahan adalah hal yang lumrah/wajar dan diperkenankan bahkan diharuskan. Demikian pula menterjemahkan nama / sebutan bagi YHWH berdasarkan arti katanya, Yohanes menuliskan “Theos”.
Salam.
Santo | May 24, 2010 | Reply
@Santo:
“Demikian pula menterjemahkan nama / sebutan…”
1. Apakah nama sama dengan sebutan?
2. Apakah nama bs diterjemahkan?
3. Lalu apa terjemahan nama anda ketika orang amerika memanggil nama anda?
Jadi menurut anda, seorang amerika bernama Rice (Mrs. Rice) ketika orang indo memanggil namanya, dapat menjadi Nasi (Ibu Nasi)? Begitukah?
jack | May 25, 2010 | Reply
Nama sebutan juga nama loh! Apakah nama bisa diterjemahkan? Iya!
Nama Mrs. Rice tentunya kalau diterjemahkan dalam bahasa Indonesia menjadi Ibu Rais.
Penerjemahan Mrs menjadi Ibu adalah penerjemahan berdasarkan “arti kata”. Penerjemahan Rice menjadi Rais adalah penerjemahan berdasarkan “bunyi lafal”.
Anda tentu mengatakan bahwa itu mustahil, sayangnya itu fakta.
Mrs dapat diibaratkan Elohim, Mrs diterjemahkan menjadi ibu, demikian pula Elohim diterjemahkan menjadi Allah.
Sayangnya Rice tidak dapat diibaratkan nama Tuhan, bahkan keyboard saya tidak ada huruf Ibrani aslinya. Apakah Anda yang mengaku-ngaku tidak menterjemahkan nama Tuhan mendapati di dalam Kitab Suci Anda, nama dalam huruf Ibrani? Demikian pula cara membaca, tidak seperti Rice yang kita tahu bahwa pengucapannya adalah Rais. Faktanya memang tidak ada yang tahu, bagaimana nama tersebut diucapkan. Yehovah. Yahweh, Yehuwa, Yahwah, Yahuwah, semuanyapun dugaan/rekayasa dalam mencoba menterjemahkan namaNya. Dalam kasus contoh di atas, anggaplah nama Tuhan adalah RC tanpa vokal karena nama Tuhan tentagramon tanpa vokal. Anda menambahkan vokal pada kata RC, kalau tepat puji Tuhan. Kalau salah, bukankah jadi ‘lelucon’ buat Tuhan, misalkan RC diterjemahkan Roce, apakah sama dengan Mrs. Rice atau Ibu Rais? Makanya LAI menterjemahkan nama Tuhan YHWH ini dengan TUHAN! Dan semua sudah tahu bukan arti kata TUHAN.
Salam.
Santo | May 25, 2010 | Reply
@Santo;
Benarkah Elohim diterjemahkan menjadi Allah,
memang ada kata Elah, juga Alaha, tapi bukan Allah (double “l”)
Lalu kalau kata “ilah” itu dari kata apa?
Israel -> Israil, bukan Israal
Gabriel -> Jibril, bukan Jibral
Ismaiel -> Ismail, bukan Ismaal
Elohim -> (patutnya) ilah, bukan allah.
Bagaimana?
GKmin | May 25, 2010 | Reply
@Santo:
Maaf…maksud saya “apakah nama Pribadi bisa diterjemahkan?”
jack | May 25, 2010 | Reply
Bro Jack udah dijelaskan diatas kan? Apakah Mrs. Rice (nama pribadi) tidak bisa diterjemahkan menurut saya?
Salam
Santo | May 26, 2010 | Reply
Untuk saudara GKmin, kan sudah pernah saya komentari untuk yang ini. Silahkan saja jika ingin menterjemahkan atau menyebut sebagai illah, toh artinya juga demikian. Saya mengabil positifnya saja sebutan Allah mempunyai makna lebih baik daripada Illah.
Salam
Santo | May 26, 2010 | Reply
@Santo;
ilah atau illah?
ada yg berpendapat Allah dari Al+ilah = the god, but which god?
Are you sure that THE GOD is always refer to YHWH, God of Israel?
Did you believe in Allah, as Muslims around the world say: “My Lord is Allah”?
GKmin | May 26, 2010 | Reply
Santo: Anda keliru dan merekayasa sumber masalah konflik pembakaran gereja2 di Indonesia. Dan ini dapat dikatakan “Adu Domba”. Nyatanya, sejak ada gerakan pro Yahweisme ini, PGI dikirimi surat dari MUI yang memerintahkan menarik Alkitab yang memuat kata Allah dalam 2 minggu. Bro..sadarkah Anda bahwa kelompok Anda yang membuat masalah?
TID : Maaf, sdr Santo..saya kira saya tidak merekayasa sumber konflik Islam-Kristen. Bukankah telah saya katakan bahwa, pemakaian kata Allah adalah SALAH SATU pemicu konflik bukan satu2nya pemicu konflik. Saya sebelum menjadi Kristen, sering bergaul dgn org2 Muslim…dlm bbrp kesempatan kadang mrk mau cerita2 di dpn sy bhw org Kristen itu kafir krn menTuhankan manusia,con: YESUS itu Allah/Anak Allah. Istilah allah bapa, allah anak, allah roh kudus,dsb..jelas2 mrk tdk suka/benci. Hny kalau di dpn org Kristen langsung, biasanya mrk kalau gak terpancing gak akan bilang2 pandangan mrk…mgk mrk anggap itu toleransi…atau mgk “bom waktu”?
Tentang PGI yg dikirimi surat oleh MUI, saya ambil positifnya yaitu Tuhan terpaksa memakai mrk utk menegur umat-Nya.
TID | May 26, 2010 | Reply
TID: Orang-orang Kristen pada zaman dulu karena ketidaktahuan membuat kesalahan dan kemudian orang Kristen zaman sekarang sudah tahu akan kesalahan mereka yang terdahulu kemudian bagaimana sebaiknya? Apakah orang Kristen memilih beranggapan karena sudah lama begitu (tradisi) maka kemudian (tradisi) yg salah tsb akan berubah/diubah Tuhan menjadi kebenaran?
Santo: para rasul, penulis kitab suci PB, dan bapa2 gereja mula2 tidak diragukan lagi kebijaksanaan dan kebenaran yang mereka pegang. Mengapa Anda katakan keliru dan salah? Lebih bijak kah Anda dibandingkan mereka? Atau lebih bijak kah orang2 yang ada di balik kelompok pro-Yahweisme ini dibandingkan mereka? Anda bisa menjawab sendiri.
TID : Mohon maaf saudaraku Santo krn saya kurang spesifik sehingga Anda salah paham, yg saya maksudkan bukan para rasul dan penulis KS PB, melainkan para pendahulu kita di Indonesia.
Salam Damai,
TID | May 26, 2010 | Reply
Untuk saudara GKmin, apa bedanya the god yang mana? YHWH pun sering disebut Elohim. Dan apa bedanya dengan allah yang mana? Karena allah pun sama seperti elohim. Rujukan “the god”, “elohim”, dan “allah” yang membedakan kita. Orang Israelpun yang mengakui YHWH belum tentu umat pilihan Tuhan karena mereka tidak menerima Yesus sebagai Mesias mereka.
Salam
Santo | May 27, 2010 | Reply
TID: Maaf, sdr Santo..saya kira saya tidak merekayasa sumber konflik Islam-Kristen. Bukankah telah saya katakan bahwa, pemakaian kata Allah adalah SALAH SATU pemicu konflik bukan satu2nya pemicu konflik. Saya sebelum menjadi Kristen, sering bergaul dgn org2 Muslim…dlm bbrp kesempatan kadang mrk mau cerita2 di dpn sy bhw org Kristen itu kafir krn menTuhankan manusia,con: YESUS itu Allah/Anak Allah. Istilah allah bapa, allah anak, allah roh kudus,dsb..jelas2 mrk tdk suka/benci. Hny kalau di dpn org Kristen langsung, biasanya mrk kalau gak terpancing gak akan bilang2 pandangan mrk…mgk mrk anggap itu toleransi…atau mgk “bom waktu”?
Santo: ini toh pendapat pribadi Anda, dan bukan dasar yang layak untuk menjadi alasan untuk melarang penerjemahan dan menggunakan sebutan Allah bagi umat Kristiani.
TID: Tentang PGI yg dikirimi surat oleh MUI, saya ambil positifnya yaitu Tuhan terpaksa memakai mrk utk menegur umat-Nya.
Santo: Yah, Tuhan masih bekerja melindungi umatnya sampai saat ini. Sehingga kebebasan menggunakan sebutan Allah masih dapat kita peroleh. Itu membuktikan bahwa usaha2 pelarangan penggunaan istilah Allah bagi umat Kristen, bukanlah kehendak dan rencana Tuhan.
TID: Orang-orang Kristen pada zaman dulu karena ketidaktahuan membuat kesalahan dan kemudian orang Kristen zaman sekarang sudah tahu akan kesalahan mereka yang terdahulu kemudian bagaimana sebaiknya? Apakah orang Kristen memilih beranggapan karena sudah lama begitu (tradisi) maka kemudian (tradisi) yg salah tsb akan berubah/diubah Tuhan menjadi kebenaran?
Santo: Tradisi yang salah? Anda jangan sembarangan yah! Apakah Anda melihat teguran Tuhan dalam Kitab Suci karena mereka menterjemahkan nama-Nya dan menggunakan nama sebutan-Nya?
TID: Mohon maaf saudaraku Santo krn saya kurang spesifik sehingga Anda salah paham, yg saya maksudkan bukan para rasul dan penulis KS PB, melainkan para pendahulu kita di Indonesia.
Santo: Andapun tidak dapat dibandingkan dengan mereka. Tanpa mereka adakah Anda dapat mempunyai iman Kristen saat ini?
Salam.
Santo | May 27, 2010 | Reply
@ Santo
wah.. wah… saya perhatikan dari awal sampai komentar yang terakhir ini, sepertinya Santo ini yang palingbenar ya, semua pendapat orang sekarang dipandang tidak benar semua, yang benar para pendahulu (mau lokal, mau bapa gereja) saja, jadi geli nih, apa bener tuhan itu hanya berbicara dan memebrikan hikmat pada orang-orang tempo doeloe saja…?? jadi yang benar yang dulu-dulu, yang sekarang kagak ada yang bener semua, jadi musti ngekor saja apa kata pendahulu gitu..??
harun | May 27, 2010 | Reply
@ Harun,
Saya tidak merasa benar sendiri kok, bahkan saya tidak menghalangi usaha kalian menterjemahkan menjadi Yahweh atau Elohim. Anda saja yang merasa benar sendiri…dan menganggap semua salah…termasuk pendahulu2 Anda. Tanyakan pada diri Anda sendiri apakah Anda layak?
Salam
Santo | May 27, 2010 | Reply
YHWH adalah bahasa yang langsung diberikan YHWH utk dihormati, bukan utk diganti kemudian dipelesetkan dalam berbagai versi nama oleh semua orang tak terkecuali umat kristiani yg semua ke-imanannya bersumber dari Torah (Perjanjian Lama & Perjanjian Baru).
hari raya natal adalah hasil imijinasi belaka yg tidak tertulis utk di “berlakukan” sebagai hari suci.
banyak umat kristiani menjadikan Torah (Perjanjian Lama & Perjanjian Baru) sebagai bahan teori spekulatif agar “gereja” mereka penuh “berkat” dari para umatnya apapun nama gerejanya.
memahami Firman Tuhan harus dengan segenap hati dan segenap akal budi (ini adalah sebuah keseimbangan yg tiada taranya yg diberikan oleh YHWH kepada manusia).
sebuah ilustrasi menarik ttg sebuah doa, doa itu seperti kita mengirim e-mail, jika kita salah titik atau garis bawah saja, e-mail tsb tdk akan sampai, nah apalagi jika nama yg kita kirimkan salah. sdh pasti, e-mail yg kita kirim tsb akan balik kpd si pengirimnya.
dibutuhkan hikmat & hati yg tulus (segenap hati dan segenap akal budi) dalam memahami YHWH sebagai Pencipta seluruh yg ada di muka bumi ini, tak terkecuali Firman Tuhan yg telah YHWH sampaikan dalam Torah (Perjanjian Lama & Perjanjian Baru).
YHWH selalu menyinari setiap langkah manusia yg memiliki Torah di dalam hatinya.
YHWH bless us always!
Raymond Barukh | Aug 15, 2010 | Reply
Santo: Andapun tidak dapat dibandingkan dengan mereka. Tanpa mereka adakah Anda dapat mempunyai iman Kristen saat ini?
TID: Setahu sy, Iman itu anugerah Tuhan bukan pemberian manusia. Dan mengenai mereka, mereka kan hny menjadi “alat” Tuhan dan itu kan tdk berarti mrk tdk dpt salah. Daud dipakai Tuhan dgn hebat, namun bgmn pun jga dia manusia biasa yg msh bisa salah.Demikian pula dgn para rasul. Apalagi hamba2 Tuhan setelah itu. Sy tdk membandingkan diri dgn mrk.
Dan apakah hny krn kita blm d pakai “sehebat” para pendahulu sehingga kesalahan mrk tdk boleh kita sebut2?
TID | Aug 23, 2010 | Reply