la ilaha illa Allah –> (tulisan Bapak Herlianto - YABINA)
By GK on Jul 23, 2009 in Pemahaman Kitab Suci, Kehidupan Kristen
“Membaca atau mendengar judul diatas, tentulah kita segera akan mengatakan bahwa itu adalah bagian pertama dari Syahadat (Credo/Pengakuan Iman) agama Islam seperti tertulis dalam QS. 47:19.”
Benar! Tetapi perlu diketahui bahwa kalimat itu sudah diucapkan oleh umat Kristen Arab jauh sebelum kehadiran agama Islam dengan Al-Qurannya yang lahir pada abad VII! (yang kemudian ditulis dalam Alkitab dalam bahasa Arab), yaitu ketika mereka membaca surat rasul Paulus yang pertama kepada jemaat di Korintus yang aslinya dalam bahasa Yunani berbunyi: “oudeis theos eimee heis” dan diucapkan oleh umat Kristen Arab seperti judul diatas, dan dalam bahasa Indonesia diterjemahkan sebagai ‘tidak ada Allah lain dari pada Allah yang esa’ (1Kor. 8:4).
Berbeda dengan anggapan orang bahwa Allah itu nama Tuhannya Islam, nama dewa masa Jahiliah, atau nama dewa bulan Babilonia, penggunaan nama Allah di kalangan Yahudi keturunan Abraham dan umat Kristen sejak pertobatan orang Arab Kristen awal (Kis. 2:11) sudah ada sejak awal berkembangnya dialek Arab lisan kemudian tulisan dan ditujukan kepada El/Elohim/Eloah Ibrani.
Seperti diketahui dari sejarah, bangsa Arab diturunkan rumpun Semitik melalui nenek-moyang Yoktan (anak Eber keturunan Aram, Kej. 10:22-29), Ismail (anak Abraham-Hagar, Kej. 25:13-16), dan Keturah (isteri Abraham, Kej. 25:1-4). Juga dalam sejarah diketahui bahwa nenek-moyang orang Arab yang dikenal sebagai Hanif (jmk. hunafa) terutama suku-suku Ibrahimiyah dan Ismaelliyah tetap melestarikan ibadat kepada Allah Ibrahim (El Abraham, ingat ‘Idul Adha’).
Data arkaeologi menemukan inskripsi sekitar masa Ezra (abad VI SM) dikalangan suku Lihyan yang bertuliskan nama ‘Allah.’ Suku Lihyan adalah keturunan suku Dedan keturunan Dedan cucu Ketura isteri Abraham. Pada masa itu Kitab Ezra dan Daniel (PL) juga sebagian ditulis dalam bahasa Aram dan menulis El/Elohim/Eloah dengan Elah/Alaha (Elah Yisrael, Ezr. 5:1;6:14), dan nama Allah Lihyan berasal dari nama Aram Alaha (dialek/bahasa Arab berkembang dari Nabatea Aram). Pada masa percakapan lisan sebelum berkembang bahasa tulisan, orang tidak mempersoalkan apakah menggunakan huruf ‘l’ tunggal atau jamak atau membedakan ejaan ‘e’ atau ‘a,’ demikian juga tidak jelas pembedaan antara nama diri atau sebutan/gelar.
Alkitab mencatat orang Arab yang masuk Kristen sudah ada sejak hari Pentakosta (Kis. 2:11). Sejak itu nama Allah sudah digunakan umat Kristen Arab, bahkan dalam Konsili Efesus (431 M) ada uskup Arab Harits bernama ‘Abdullah’ (Abdi Allah). Di kalangan Kristen ditemukan inskripsi Zabad (512 M) yang diawali kalimat ‘Bism al-Ilah’ (dengan/dalam nama Allah, bandingkan dengan ‘Bismillah ‘ di Al-Quran dengan ‘Beshem Elohim ‘ (Mzm. 20:6) dan ‘Beshum Elah ‘ (bahasa Aram, Ezr. 5:1) dalam Tanakh, dan inskripsi Umm al-Jimmal (abad VI M) diawali ucapan ‘Allahu Gafran’ (Allah mengampuni).
Ibadat kepada ‘Allah’ bukan milik agama Islam, bahkan Muhammad yang oleh pengikutnya diterima sebagai ‘nabi’ dan ‘rasul Allah’ berkata bahwa dalam sinagoga Yahudi, gereja Nasrani dan di Mesjid pada masa hidupnya sudah disebut ‘Tuhan kami Allah’ (QS. 22:40), maka logisnya nama itu sudah digunakan kedua agama pendahulu Islam itu sebelum ditulis dalam Al-Quran.
Sesudah kehadiran Islam di abad VII M, Palestina dikuasai kerajaan Islam berbahasa Arab (Arab, Mesir, Turki) dimana bahasa Aram sebagai bahasa percakapan sehari-hari orang Yahudi Palestina digantikan dengan bahasa Arab (Bahasa Ibrani hanya digunakan dalam salin-menyalin Tanakh). Baik orang Yahudi berbahasa Arab yang beragama Yahudi, Kristen, maupun Islam, dalam ibadat mereka semua menyebut ‘nama Allah’. Penjajahan berlangsung selama 13 abad (VII-XX M) sampai Israel berada dibawah kekuasaan Inggeris dengan mandat Liga Bangsa-Bangsa di tahun 1917. Sejak bangkitnya Zionisme pada akhir abad XIX, bahasa Ibrani modern dihidupkan kembali sebagai bahasa tulisan dan percakapan dikalangan orang Yahudi, sekalipun begitu pengaruh budaya Arab selama 13 abad tidak hilang dan orang Yahudi sekarang masih banyak yang berbahasa Arab juga.
Dalam Al-Quran yang diterjemahkan ke bahasa Ibrani, nama ‘Allah’ diterjemahkan ‘Elohim’ (Al-Qur’an Tirgem Avrit). Sebaliknya Tanakh Ibrani, dalam Alkitab bahasa Arab, ‘El/ Elohim/Eloah Tanakh dan Theos diterjemahkan ‘Allah’ (saat ini ada 4 versi Alkitab berbahasa Arab dan semuanya menyebut ‘nama Allah’). Memang dikalangan tertentu di Malaysia ada yang menggugat penggunaan nama Allah dikalangan Kristen, pada bulan Februari 2009 pengadilan Malaysia menolak gugatan itu dengan pertimbangan ‘Nama Allah sudah digunakan oleh orang Kristen sebelum ada Islam.’
Sikap penolakan terhadap nama ‘Allah’ timbul karena ketidak tahuan dan provokasi kalangan Barat (a.l. buku Robert Morey ‘Islamic Invasion’) dan Yahudi (yang trauma terhadap 13 abad penjajahan Arab-Islam) yang cenderung menggeneralisasikan anti-Arab dan anti-Islam. Mereka mengabaikan bahwa sejak lama sudah ada orang Arab beragama Yahudi dan sesudah hari Pentakosta sudah banyak orang Arab beragama Kristen, bahkan masakini orang-orang berbahasa Arab yang menganut agama Kristen tercatat 29 juta banyaknya, dan semuanya menyebut ‘nama Allah.’
Morey menyebut ‘Allah’ adalah nama dewa bulan Babilonia seperti terlihat dalam lambang diatas mesjid dan bendera negara Islam, kenyataan sebenarnya lambang bulan sabit baru muncul di Turki pada abad XV sebagai peringatan kemenangan dalam perang Byzantium karena kemunculan bulan sabit secara tiba-tiba. Muhammad sendiri mengemukakan bahwa: “Wahai bulan sabit yang indah dan bulan sabit petunjuk, keyakinanku teguh kepada Dia yang menciptakanmu” (Ensiklopedia Islam, hlm. 64), Al-Quran juga menyebut: “Siapakah yang menciptakan langit dan bumi dan menundukkan matahari dan bulan, niscaya mereka menjawab: Allah” (QS. 29:61).
Bila dalam Tanakh tercatat nama Elah/Alaha dikitab Ezra (4:8 – 6:18; 7:12 – 26) dan Daniel (2:4 – 7:28) yang ditulis dalam bahasa Aram. Dalam Perjanjian Baru, Yesus tidak pernah menyebut nama YHWH tetapi di kayu salib Ia memanggil dalam bahasa Aram nama ‘El’ (Mat. 27:46; Mrk. 15:34) yang merupakan kependekan Elah/Alaha Aram. Saat ini orang Yahudi, Kristen dan Arab kalau berbahasa Arab menyebut ‘nama Allah,’ dan di Kairo, ada gereja ‘Al-Mu’alaqqah’ yang dipintunya ditulis ‘Allah Mahabah’ (Allah itu kasih), dan dipintu lainnya ‘Ra’isu al-Hikmata Makhaafatu Ilah’ (Permulaan Hikmat Adalah Takut kepada Allah), dan dari situ ada sinagoga ‘Ben Ezra’ dimana disebut bahwa dahulu di situ Rabbi ‘Moshe Ben Ma’imun’ menulis buku ‘Al-Mishnah’ dan ‘Dalilat el-Hairin’ dalam bahasa Ibrani dan Arab dimana ‘El/Elohim diterjemahkan Allah’.
Al-Quran dan Alkitab berbicara mengenai ‘Allah’ yang sama sebagai tujuan penyembahan dalam agama Yahudi, Kristen maupun Islam berbahasa Arab, Allah yang disembah oleh Abraham yang diceritakan dalam Tanakh dan PB atau Ibrahim dalam Al Quran. Allah (dalam bahasa Arab) sebagai sesembahan ketiga pengikut agama Semitik (Yahudi, Kristen, Islam) dapat menjadi titik pijak bersama yang baik untuk melakukan dialog dan percakapan misi dengan penganut agama Islam. Sekalipun sama sebagai nama ‘El Abraham’ (Allah Ibrahim), Nama yang sama disembah itu tidak mengandung pengajaran/aqidah (teologi) yang sama tergantung pengajaran dalam kitab suci masing-masing. Dalam pengajaran, El/Elohim/Eloah Tanakh (Yang tidak menerima Yesus) ada samanya dan tidak samanya dengan Theos PB (Yang percaya Yesus itu Tuhan), demikian juga keduanya ada sama dan tidak samanya dengan Allah Al-Quran (Yang menerima Muhammad sebagai nabi terakhir). Yang harus dibandingkan bukan ‘God’ Kristen dan ‘Allah’ Islam, tetapi ‘Allah Kristen Arab’ dibanding ‘Allah Islam Arab.’
Umat Kristen perlu dengan kasih, kesabaran dan mendoakan mereka yang dipengaruhi oleh ketidak-tahuan mereka dan dipengaruhi orang lain, sebab ‘menolak nama Allah’ secara tidak langsung sama halnya dengan ‘menolak YHWH’ yang salah satu namanya ‘El’ dalam dialek Arab ‘Allah’ yang sudah menjadi kosa-kata bahasa Indonesia ditolak/dilecehkan sebagai nama berhala.
=====
Jangan lupa, baca: Tanggapan (pertama) atas tulisan di atas


Jika anda ingin terbebas dari kuasa kegelapan (kuasa Setan), mungkin Tim dari

dikelola seorang awam, bukan aktivis
gereja.

wah…payah nih… Sebenernya yg dipengaruhi ketidak-tahuan tuh siapa ya? bapak herlianto nih mengada ngada saja,terlalu dihiperbola..hehehe…
jack | Jul 23, 2009 | Reply
Aduh,…. gw jadi geli juga,..
Pdt2 (pro Allah) sekarang yang punya gelar sepanjang rel KA, apa masih valid ya ?
Cerita punya cerita,…
Kemarin seminar Nama Tuhan ( dari Pdt yang Pro Allah )di GITS, Pdt itu memberikan satu statment bahwa Nama YHWH hanya simbolik dari PL sedang PB hanya ada Nama Yesus.Tidak lagi di sebut2.
Saya tanya ama Dia, kalo gitu, ketika Yesus bilang, Bhw Aku telah memberitahukan Nama - Mu ( BAPA ) kepada semua orang, itu Nama Siapa ?
Dgn enteng Dia menjawab, “Yesus”….
Aneh bin Ajaib Emang …. kwkwkkwkw
Andreas | Jul 24, 2009 | Reply
@Andreas,
ikut tertawa ah.. hahahaha….
minta pendeta itu baca Kitab Wahyu 1:4 (dan ayat 5-nya, biar tahu bedanya), juga Kitab Wahyu 14:1 (minta beliau baca juga dari King James Version), dan ingatkan pada pendeta itu bahwa Kitab Wahyu itu ada di Perjanjian Baru.
Tapi nggak masalah, sekarang makin banyak yang terima nama YHWH ini, banyak kesaksian sy dengar…
GKmin | Jul 24, 2009 | Reply
Ikut tertawa juga buat orang2 di atas….hahahaha…
Rudy | Aug 7, 2009 | Reply
Atas berkat rahmat “Allah Yang Maha Kuasa” dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya.
Pembukaan UUD 45 telah mencantumkan nama “Allah” bukan YHWH. Allah telah diakui sebagai sesembahan bangsa Indonesia. Jadi jangan ragu-ragu menyembah Allah SWT.
Imam | Aug 11, 2009 | Reply
Iman,
saya pernah ikut seminar, dan pembicara seminar itu menyampaikan bahwa pada waktu penyusunan Pembukaan UUD ‘45 tersebut, atas usulan orang Bali kepada Ir. Soekarno, kata ‘Allah’ itu diganti Tuhan, dan Ir. Soekarno langsung menyetujui, namun entah mengapa, waktu dicetak, masih tetap ‘Allah’ yang muncul.
Ingat, orang Hindu, orang Buddha di Indonesia tidak menggunakan kata ‘Allah’ untuk menyebut Tuhan mereka.
Oh ya, YHWH sudah ada sejak dahulu kala, JAUH sebelum bangsa Indonesia ada, apakah YHWH sekarang sudah diganti Allah?
Tamu | Aug 11, 2009 | Reply
Nah, nama ALLAH itu bisa muncul waktu dicetak karena adanya berkat ALLAH juga. Sekali lagi ALLAH adalah sesembahan bangsa Indonesia. Kalau ada yang mau nama lainpun tidak apa-apa. Sebab ALLAH sendiri punya Asmaul Husna.
imam | Aug 14, 2009 | Reply
Jadi, apa kata Muslim Cina dan Muslim Jepang tentang kata “ALLAH”??? Bagaimana cara penulisan kata’Allah’ dalam bahasa Cina dan Jepang??? Bagaimana Muslim di sana membacanya???
Yabez | Sep 7, 2009 | Reply
ach,masalah nama yang disembah kok baru sekarang diperdebatkan,aneh to? Sok benar sendiri.Jk mau jelas ya tunggu dihari kiamat. Nanti ada pengadilan yang adil.Menghujat,memfitnah, menjajah bangsa indonesia 350th,membunuh rakayat sipil, bukan krn ajaran agamanya tapi krn menusnya!oh ya nabiku Kongcu!
deva | Sep 9, 2009 | Reply
@deva,
Menurut Anda, apakah nama dapat diterjemahkan?
nama “Kongcu” (nabimu itu) itu kalau dalam bahasa Indonesia menjadi apa? tetap Kongcu atau ganti menjadi nama lain?
GKmin | Sep 9, 2009 | Reply
problem ini terjadi, dikarenakan ada proses ALIH BAHASA dari kitab suci itu sendiri, baik dialek/logat, tata bahasa dan kosakata bahasa itu sendiri. apalagi sudah menyangkut alih bahasa antar negara, bahasa cina, jepang dan lain2. setelah ada proses alih bahasa, “MUNGKIN” benar pada saat ini saudara penulis menuliskan istilah tuhan dan panggilannya, apakah ada kemungkinan pembenaran lagi diwaktu mendatang oleh penulis2 lain dengan referensi, dalil2 yang lebih tajam, padahala intinya, ADA PERUBAHAN ALIH BAHASA.
Yudha | Sep 21, 2009 | Reply
@Yudha,
benar bahwa ‘persoalan’ ini mencuat karena (kesadaran) adanya alih bahasa, pertanyaannya adalah apakah NAMA itu dapat (wajar) dialihbahasakan?
menurut ‘kami’ perubahan LOGAT (dan kemudian berimplikasi pada tulisan/huruf) sangat mungkin, tetapi menterjemahkan NAMA atau mengganti dengan NAMA LAIN, apakah wajar?
konkritnya, jika YHWH kemudian ditulis YAHWEH, YEHOVA, YEHUWA, itu mungkin karena logat, tetapi jika YHWH diganti menjadi TUHAN atau ALLAH, apakah sudah tepat?
GKmin | Sep 21, 2009 | Reply
@Gkmin
Thanks pak atas response nya
1. apakah nama wajar di alihbahasakan ?:
proses alih bahasa tidak mengenal apakah boleh dirubah nama, sifat dan zat yang terkandung dalam kitab/buku, selama itu ada proses alih bahasa, maka memungkinkan untuk berubah. apalagi proses alih bahasa ini sudah antar negara,suku, daerah. apalagi yang melakukan perubahan adalah manusia. untuk kewajarannya sendiri bisa tergantung kondisi manusia tersebut. setelah ada proses alih bahasa, mungkin kita bisa meng-claim wajar atau tidak wajar nama harus dirubah pada saat ini, apakah dilain waktu nanti ada yang meng-claim lagi soal kewajaran ? (dengan asumsi ayat/dalil yang lebih tajam)
2. Maaf, Quote: tetapi jika YHWH diganti menjadi TUHAN atau ALLAH, apakah sudah tepat?
selama ada proses alih bahasa, sangat memungkinkan untuk dibilang tepat dan tidak tepat. kecuali kita sudah ada koridor dari awal, bahwa: “ketika kita meng-alih bahasakan kitab/buku ini, jangan merubah kata2 seperti yang saya cantumkan”, itu misalkan. tapi apakah itu ada?
jadi, menurut saya, selama itu ada proses alih bahasa, dan proses ini sudah antar negara, daerah, suku, bisa sangat memungkinkan dan “tepat” bagi orang yang melakukan alih bahasa tersebut. kecuali, kitab/buku tersebut hanya ditulis dalam satu bahasa dengan context, alur dan tata bahasa yang sesuai dengan penulis dan sumber nya.
(Maaf kalau ada salah kata..)
Terima Kasih
Yudha
Yudha | Sep 22, 2009 | Reply
Punten….
Weleh..weleh…maslah bahasa dipermaslahkan?
Sebutan apapun yang keluar dari MULUT.. tidak MEWAKILI “MAKSUD HATI” Suara cuma bentuk “FREKWENSI” Gelombang. bagaimana kalo Orang yang cacat”maaf” GAGU Sebutan apa yang mereka harus Ucapkan? apakan salah jika mereka memanggil. UUUU….AAA.? pada nama yang dimaksud Munkin Nama YHWH sudah dilihat.. ga masalah jika tidak ada yang menyebutnya. memang Sebutan namaNYA TIDAK untuk disebutkan dgn sembarangan “diMulikanlah NamaMU…… maaf “SANG PENCIPTA” mengerti apapun bahasa manusia yang diucapkan “PENCIPTA” “TRANBAHASA Multilingual” lalu apakah Mahluk hidup lain seperti hewan tidak memanggil namaNYA…? apakah hewan dan segala yang bernapas tidak mengagungkan namaNYA…? Hewan pakai bahasa apa…ya? Wahai sahabat bijaksanalah semua…
SEBAB yang bekata-kata kpd PENCIPTA hanya”ROH”
“DIA MAHA TAHU SEGALA” WALAU SAYA BERDOA dalam berbahasa Indonesia dan memanggilnya YHWH.
mohon maaf jika saya salah.
Hamba yang bodoh.
shendra | Oct 28, 2009 | Reply
Boleh nimbrung ya. Menanggapi Gambar Kaos nih mas. jika saya ditanya siapa tuhanmu Allah atau YHWH ? jawaban saya ‘Allah’, kemudian saya dihakimi penulis komentar di kaos bahwa Allah itu bukan YHWH, saya akan menjawab, saya menyembah tuhan nabi Ibrahim, nabi Ismail, nabi Ishhaq ,nabi Isa A.S dan semua nabi2 sebelumnya oleh tuhan melalui nabi terakhirnya Muhammad S.A.W, dan saya diperintahkan untuk mengenal nama tuhan itu Allah. Kemudian jika diperdebatkan bahwa nabi2 yg sebelumnya itu menyembah YHWH, jadi saya salah, jawaban saya ‘oh kalau begitu mari kita tanyakan kepada nabi Ibrahim’.Kapan ? nanti setalah kita bertemu dengannya.. di hari pengadilan, wahai baginda nabi ibrahim, ayah dari para nabi benarkah tuhan yang saya sembah sama dengan tuhan anda? tuhan yang maha esa yang saya menyebutnya Allah dan teman saya ini menyebutnya YHWH ?. sementara sebelum ketemu beliau ini ya jalankan keyakinan masing-masing saja yaa..
LittleMuslim | Nov 4, 2009 | Reply
@LittleMuslim;
hm.. gitu ya..
masalahnya Kitab TAURAT (Torah) dan Kitab Nabi-nabi yang sudah ada JAUH SEBELUM Quran, mengajarkan bahwa Tuhan yg disembah Abraham, Iskhak dan Yakub itu bernama YHWH (orang Yahudi sekarang menyebutnya “Adonai” (Tuhanku).
Nah.. saya tidak tahu mengapa (Nabi) Mohammad mengajarkan (via Quran) bahwa Tuhan itu Allah.
Kapan YHWH berubah jadi Allah (padahal sampai sekarang-pun Israel(Yahudi) masih menyembah YHWH. Atau memang Allah itu bukan YHWH?
Jadi.., ya silakan kalau Anda memilih Allah (karena ngikut Quran), tetapi karena saya percaya pada Taurat, Zabur dan Injil yg mengajarkan YHWH (bukan Allah).
GKmin | Nov 4, 2009 | Reply
@little_muslim, anda baca http://old.nabble.com/Tuhan-Berkelamin-to26071469.html#a26071469 deh..
spiritual_indonesia | Nov 5, 2009 | Reply
Saya merasa kita keliru jika meng-anti-kan istilah Allah.
Allah (Arab: Allaah) adalah kata dalam bahasa arab yang merujuk pada nama Tuhan orang Islam. Perkataan tuhan dalam bahasa arab adalah Illah sebagaiman dalam dua kalimat sahadah Islam. Kata Alloh ini lebih banyak dikenal sebagai sebutan tuhan oleh penganut agama Islam.
Kata ini sendiri dikalangan para penutur bahasa arab, adalah kata yang umum untuk menyebut tuhan[”Tuhan” dalam bahasa Arab adalah Ilah], terlepas dari agama mereka, termasuk penganut Yahudi dan Kristen Arab. Konsekuensinya, kata ini digunakan dalam terjemahan kitab suci agama Kristen dan Yahudi yang berbahasa arab, sebagaimana pula terjemahan Alkitab dalam bahasa Indonesia dan Turki.
Keluaran 23:13 (Dalam segala hal yang Kufirmankan kepadamu haruslah kamu berawas-awas; nama allah lain janganlah kamu panggil, janganlah nama itu kedengaran dari mulutmu.
Yosua 23:7 (dan supaya kamu jangan bergaul dengan bangsa-bangsa yang masih tinggal di antaramu itu, serta mengakui nama allah mereka dan bersumpah demi nama itu, dan beribadah atau sujud menyembah kepada mereka)
shem acher elohiym = nama (identitas pribadi yang berimplikasi pada penghormatan, otoritas, dan karakter) allah/tuhan/ dewa/ilah asing /lain
Kedua ayat itu tidak meng-anti-kan istilah dewa/illah/allah, namun meng-anti-kan nama identitas diri dari dewa/illah/allah asing tersebut
Contoh :
Imamat 18:21 (Janganlah kauserahkan seorang dari anak-anakmu untuk dipersembahkan kepada Molokh, supaya jangan engkau melanggar kekudusan nama Allahmu; Akulah TUHAN)
I Raja Raja 18:24 (Kemudian biarlah kamu memanggil nama allahmu (Baal)dan akupun akan memanggil nama TUHAN. Maka allah yang menjawab dengan api, dialah Allah!” Seluruh rakyat menyahut, katanya: “Baiklah demikian!)
Walaupun orang Islam menganggap bahwa Allah adalah nama diri Tuhannya, namun sesungguhnya bukan, dijelaskan bahwa dikalangan penutur bahasa Arab, istilah ini merupakan kata baku/kata umum yang dipergunakan oleh bangsa Arab,untuk menyebut Tuhan. Bukankah ada artikel yang Anda sampaikan bahwa istilah Allah jauh lebih dulu keberadaannya sebelum munculnya agama Islam? Mengapa kita harus mengikuti kebodohan mereka yang menyetujui klaim istilah Allah adalah eksklusif bagi mereka?
Dalam Kej 14, peristiwa pertemuan Abraham dengan Melkisedek, seorang imam El Elyon (Allah yang Maha Tinggi). Nama/gelar Melkisedek ini mengacu pada Allah yang ia sembah (yang bukan Elohiym ataupun YHWH). Melkisedek memberkati Abraham dalam nama El Elyon (Pencipta Langit dan Bumi) di mana ia menunjuk El Elyon sebagai Allha Yg Maha Tinggi (ay. 19-20). Raja Sodom memberikan harta bendanya kepada Abraham dan Abraham menolak sambil mengangkat tangannya kepada YHWH, El Elyon, Pencipta Langit dan Bumi (Kej 14:22). Abraham berkata dan bermaksud bahwa Ia juga menyembah Allah Yg Maha Tinggi, Allah yang sama (karena memang hanya ada satu Allah saja), tetapi ia mengenal-Nya dengan nama YHWH.
Belajar dari kasus Abraham, kita keliru jika kita meng-anti-kan istilah Allah, bukankah istilah Allah saat ini kurang lebih sama permasalahannya seperti istilah El Elyon yang dipakai Melkisedek dan Raja Sodom?
Abraham dinyatakan sebagai Bapak Orang Beriman karena imannya. Imannya bukan didasarkan pada pengenalannya pada nama YHWH namun pengenalannya dan ketaatannya pada pribadi Allah. Baca Kel 6:3 “Aku telah menampakkan diri kepada Abraham, Ishak, dan Yakub sebagai Allah Yang Mahakuasa, tetapi dengan nama-Ku TUHAN (YHWH) Aku belum menyatakan diri”.
Manakah yang lebih penting? Mengenal Pribadi atau Nama?
Santo | Apr 7, 2010 | Reply
Aku sudah tinggalkan nama “Allah” untuk menyebut nama Khalik Langit dan Bumi sejak 2 tahun yang lalu dan beralih ke “Yahweh”
Aku sendiri dulu muslim dan setelah berpuluh tahun dalam pergumulan, justru Yesus yang menjamahku dan pada akhirnya kudapatkan hikmat bahwa “Allah” itu tidak sama dengan “Yahweh”.
Coba baca di blogroll website ini pada judul :
“666, Islam dan Qur’an”
bahwa : Allah = 666
dan ini diakui sendiri oleh saudara kita muslim pada judul “666 hanya trik setan ?”
Nah saudaraku umat nasrani anda tinggal pilih yang mana?
Yons | Apr 8, 2010 | Reply
Hikmat atau pengertian sendiri dari pengalaman pribadi, tidak bisa dijadikan dasar kebenaran yang sejati. Pengertian yang sesungguhnya adalah pengertian dan hikmat dari Kitab Suci/Firman Tuhan. Tidak masalah dengan kepercayaan Anda, selama menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat pribadi Anda. Salam Kasih.
Santo | Apr 8, 2010 | Reply
@Santo;
ya, tapi keselamatan itu juga urusan masing-masing pribadi dengan Tuhan, sehingga, seringkali pengalaman pribadi menempati porsi terbesar dalam pembentukan iman. Bukan karena KATANYA…orang banyak.
GKmin | Apr 8, 2010 | Reply
Saudaraku, saya setuju bahwa keselamatan bahkan pengenalan Tuhan adalah wilayah pribadi antara diri kita sendiri dan Tuhan. Tetapi kita juga tidak lupa bahwa pengenalan kita perlu pendewasaan. Dan pendewasaan itu didapat dari pengajaran. Itulah sebabnya jemaat mula-mula bertekun dalam pengajaran para rasul dan juga bersekutu sesama saudara seiman lainnya. Bukan hanya berdasarkan “kata orang”, tetapi kita sendiri dituntut untuk dewasa dalam rohani dan pengetahuan agar tidak terombang-ambing oleh berbagai rupa pengajaran, bahkan pengajaran yang tidak sehat. Kita tidak harus sebagai bayi rohani terus namun harus beranjak dewasa dalam rohani dan pengetahuan. Makanya orang Kristen perlu mengali Firman Tuhan lebih dalam lagi. Apa yang katakan, bukanlah apa kata orang, namun dari penghayatan, penggalian, dan renungan terhadap Firman Tuhan. Salam Kasih. NB: Saudara GKmin, namanya Petrus yah? Kalau benar, salam kenal Pak Petrus.
Santo | Apr 8, 2010 | Reply
Kenapa kita repot2 berdebat tentang Allah dan YHWH..apapun sebutannya tidak mempengaruhi KetuhananNya..
yanto nirbaya | Jul 28, 2010 | Reply
* YHWH ttlis dl Ktb Suci(KS), jadi YHWH itu Elohimnya bgsa Yahudi dan org Kristen.
* ALLAH ttlis dl Alqur’an, jadi ALLAH itu elohimnya bgsa Arab dan org Islam.
* Awas, nama elohim lain jangan kausebut dan nm itu jangan kdengaran dr mulutmu.(Kel 23:13)
Sbb sgl elohim bgsa2 itu berhala.(Mzm 96:5)
* Jadi ALLAH itu berhala. Sblm Islam ALLAH punya istri, Allata, 2 anak prpn Almana&Aluzza.
Stlh Islam istri & anak2nya dihabisin brsm brhla yg lain, yg sebanyak 360 brhl dl ka’bah baitulloh atau ka’bah rumah aulloh.
* Skg ALLAH nempel sendirian di sudut tenggara ka’bah, yg dsbt jg hajar aswad atau batu hitam.
* Jelas bukan, bahwa Allah itu adalah Berhala!
Abigail | Jul 29, 2010 | Reply