Malaysia Sita 20 Ribu Alkitab
By GK on Oct 30, 2009 in Berita, Kehidupan Kristen
Friday, 30 October 2009 10:55 (Manado Post)
PEMERINTAH Malaysia menyita lebih dari 20.000 Alkitab berbahasa Melayu dalam beberapa bulan terakhir, karena menyebut Tuhan dengan nama Allah. Peristiwa ini mendatangkan kekhawatiran di kalangan warga minoritas bahwa fundamentalisme mulai menguat di negeri multi etnis dominan Muslim itu. “Kami khawatir dengan kemungkinan itu,” ujar Reverend Hermen Shastri, Sekjen Dewan Gereja Malaysia, seperti dilansir CNN, kemarin.
Menurut pemerintah Malaysia, kata Allah hanya bisa digunakan untuk Islam. Penggunaan kata itu dalam terbitan Kristen bisa membingungkan umat Muslim, dan membuat mereka mualaf. Makanya, kata Allah tidak boleh digunakan dalam literatur Kristen.
CNN sendiri tidak bisa mendapatkan komentar terhadap persoalan ini dari pemerintah Malaysia. Seorang pejabat kementerian dalam negeri Malaysia meminta CNN menghubungi bagian penerbitan dan kontrol nas Al-Quran departemen itu. Pegawai di bagian itu lalu menghubungi seorang jubir perempuan, yang lalu meminta CNN kembali menelpon kementerian dalam negeri.
Sementara itu, menurut Bible Society of Malaysia, sebagian dari Alkitab yang disita itu berasal dari Indonesia. Sekitar 10.000 lainnya disita dari Gideons International, yang meletakkan Alkitab gratis di dalam kamar hotel dan tempat-tempat lain.(ddt)
===
Ayo.. gabung Grup KS-ILT (Kitab Suci berbahasa Indonesia yang tidak pakai kata allah/Allah/ALLAH, di FACEBOOK


Jika anda ingin terbebas dari kuasa kegelapan (kuasa Setan), mungkin Tim dari

dikelola seorang awam, bukan aktivis
gereja.

makanya.. pakai KS-ILT saja yang sudah free dari kata allah, Allah dan ALLAH.
tamu | Oct 30, 2009 | Reply
@tamu,
ya tks…
untuk pada pengguna, peminat, pemerhati dan penasaran (pada) KS-ILT, saya buatkan grup di facebook dengan alamat: http://www.facebook.com/group.php?gid=180207520512
silakan bergabung…
GKmin | Oct 30, 2009 | Reply
Bagi saya Alkitab TB-LAI jauh lebih “lembut” memaknai pesan asli pengarang kitab suci ketimbang KS-ILT. Memang saya akui “keunggulan” [satu-satunya] KS-ILT dari TB-LAI terletak pada pemunculan kembali 7000-an kali Nama YHWH [ditulis Yahweh] dalam KS-ILT, sesuatu yang tanpa sengaja terabaikan oleh LAI mengingat dalam versi LAI utk bahasa Batak atau Jawa LAI masih menggunakan bentuk2 pengucapan Nama YHWH seperti Djahoba atau Yehuwah, tetapi dalam segi-segi lain, seperti ujaran, pemaknaan dan gramatikal, KS-ILT masih perlu terus “dimurnikan” (baca: direvisi) lagi. Siapkah tim pengalih-basa KS-ILT menerima tantangan ini?
IsHeng | Nov 4, 2009 | Reply
Saya setuju, istilah atau sebutan atau nama Allah / ALLAH di Alkitab agar diganti sesuai aslinya.
Semoga Indonesia mengikuti langkah Malaysia .
murid Jesus Christ | Nov 12, 2009 | Reply
Di Malaysia,kita putar lagu Kristenpun harus hati-hati bila lagu itu berbahasa Indonesia.Banyak orang dari Malaysia membeli DVD dari Indonesia.Mereka tidak sembarangan putar lagu tersebut di rumah yang berdekatan dengan orang melayu yang beragama Islam.Kalau orang melayu tersebut terdengar lagu itu dan dia tidak suka,dia boleh lapor pada petugas departemen agama Islam.Tapi kadang di gereja masih boleh bebas menyanyi lagu berbahasa Indonesia.Kalau lagu itu berbahasa Cina atau India,Nepal,Inggris yang pokoknya bukan berbahasa melayu atau Indonesia kita bebas nyanyi atau putar lagu keras-keras,karena orang melayu tidak tahu bahasa tersebut.
Penggunaan Alkitab berbahasa Indonesia di Malaysia, karena tidak semua orang Kristen di sana tahu bahasa Inggris. mereka biasanya orang asli atau orang di daerah Sabah dan Sarawak yang masih terpencil atau jemaat yang tidak sekolah tapi tahu bahasa melayu yang sedikit sama dengan bahasa Indonesia.Mungkin penerbit di Malaysia belum tahu kalau di Indonesia sudah terjadi perubahan bagaimana menyebut nama Tuhan.
makcik Malaysia | Nov 27, 2009 | Reply
Ada-ada saja, apa yang dilakukan kuasa kegelapan untuk menghentikan penyebaran kabar baik Injil. Tetapi kita bukan seorang Kristen jika terhadap pencobaan ini, kita mundur dari iman. Di negara2 komunis, misalnya di China, jangankan kebesasan beribadah, bahkan membaca Firman, memuji, dan menyebut nama Tuhan/Allah, tidak bisa dilakukan secara terang-terangan. Ada kesaksian yang mengharukan bahwa orang2 percaya di China, tidak bisa memperoleh Kitab Suci, bahkan jika ketahuan menyimpan, orang tersebut akan dihukum. Mereka jemaat di China, tidak mundur, yang mereka lakukan adalah masing2 berbagi menulis tangan teks Kitab Suci sedikit demi sedikit dari apa yang bisa mereka dengar atau baca. Kebaktian mereka mulai pagi2 sekali, sebelum ada sinar matahari, kira2 jam 3 atau 4 pagi, hal itu dilakukan karena mereka harus beribadah secara sembunyi2. Bagaimana dengan berdoa, bernyanyi memuji, khotbah, atau membaca Firman? Anda boleh percaya atau tidak, mereka mengucapkannya tanpa mengeluarkan suara. Bisa dibayangkan ketika sang pendeta khotbah tanpa suara, yang terlihat mulut yang komat-kamit dan ekspresi wajah saja. Apa yang dialami kita dan di Malaysia, tidak seberapa miris dibandingkan pengalaman saudara2 kita di China. Apa layak di sini kita meributkan nama panggilan Tuhan dan di sana menyebutkan nama-Nya saja tidak bisa? Apakah layak di sini kita meributkan kata2 terjemahan, sedangkan di sana tidak dapat memperoleh Kitab Suci dan harus menulis ayat2 Firman Tuhan dengan tulisan tangan? Hargailah makna kebebasan yang telah Tuhan berikan pada kita di sini (entah sampai kapan kebebasan itu masih bisa kita rasakan), dan lakukan sesuatu yang lebih menyenangkan hati Tuhan kita.
Santo | Apr 6, 2010 | Reply