Doktor Teologi, Mantan Rektor: kini menjadi mualaf…
By GK on Nov 28, 2009 in Berita, Pemahaman Kitab Suci, Kehidupan Kristen
Pindah agama dan keyakinan adalah hak setiap orang, dan orang yang berpindah agama, berhak pula menyampaikan alasannya secara terbuka, namun orang yang tidak sepakat dengan alasan yang dikemukakan seseorang yang pindah agama itu, juga berhak memberikan ‘bantahan’nya,
Ingin tahu sedikit ‘kisah’ seorang mantan Rektor Sekolah Tinggi Teologi, yang kini menjadi mualaf?
silakan baca tulisan berikut ini. Selamat merenungkan… (Apakah Allah = YHWH?)


Jika anda ingin terbebas dari kuasa kegelapan (kuasa Setan), mungkin Tim dari

dikelola seorang awam, bukan aktivis
gereja.

Tanggapan untuk tulisan DR. Yahya Waloni sudah saya posting di www.messianic-indonesia.com kolom apologetika
Teguh Hindarto | Dec 30, 2009 | Reply
Sayang, tingginya status dan pengetahuan dalam keagamaan tidak menjamin seseorang memperoleh kebenaran Allah, juga tidak menjamin seseorang bertahan di dalam iman dan pengharapan. Orang Farisi dan Ahli Taurat, bangsa Israel waktu itu pun gagal mengenali dan menerima Yesus sebagai Mesias, Juru Selamat yang dijanjikan Allah. Sampai saat ini bangsa Israel belum menerima Juru Selamatnya, padahal bangsa2 lain telah menerima anugrah karya keselamatan yang dikerjakan Yesus 2000 tahun yang lalu.
Santo | Apr 5, 2010 | Reply
Ohh sayang bilang sayang mas Santo (?) tapi DR. Yahya Waloni sudah memperoleh kebenaran Allah (SWT).
Amin | Apr 5, 2010 | Reply
Yang saya maksud disayangkan begini Mas Amin, Anda dan saya mesti percaya bahwa nabi Isa Almasih yang akan mengadili manusia di akhirat nantinya. Kehidupan saya dan kehidupan Anda ditentukan oleh Nabi Isa. Jika seseorang yang belum mendengar Injil maka ia akan dihakimi menurut hukum hati nurani yang ada dalam dirinya masing2. Allah jauh telah memberikan hukum2Nya dalam hati manusia sebelum ajaran agama ada. Nilai2 moral, keadilan, dan kebaikan pada dasarnya setiap manusia memilikinya. Dan ia akan dihakimi menurut ukuran dari nilai2 tersebut. Namun jika seseorang telah mendengar dan mengenal Injil tapi tidak percaya dan berpaling daripadanya, tidak jalan lagi untuk memperoleh keselamatan di akhirat. Nabi Isa sendiri mengatakan siapa yang menyangkal Dia, Dia pun akan menyangkal mengenal orang tersebut di hadapan para malaikat Allah. Salam Kasih, Mas Amin.
Santo | Apr 5, 2010 | Reply
Mas Amin di dalam ajaran nabi Isa untuk memperoleh keselamatan di kehidupan akhirat, manusia harus mengakui bahwa dirinya berdosa, tidak layak, dan tidak mampu untuk memenuhi hukum2 yang Allah berikan. Pengakuan diri terhadap ketidaklayakan dan ketidakmampuan itu syarat mutlak. Lawan dari itu adalah kesombongan yang merupakan asal muasal dari dosa. Kesombongan diri, merasa diri mampu mencapai kebenaran dan keselamatan melalui usahanya sendiri, benar2 berlawanan dengan tujuan Allah menciptakan manusia. Oleh sebab itu tidak ada usaha manusia berupa amal baik ataupun jasa baik yang dapat menukar keselamatan di akhirat, karena tidak akan pernah cukup untuk memenuhi standar kebenaran dan keadilan Allah. Oleh karena Allah tahu bahwa manusia tidak dapat menyelamatkan diri dari hukuman dosa, dan karena begitu besar kasih Allah kepada manusia, maka Ia mengutus Anak-Nya yang tunggal, nabi Isa Almasih supaya setiap orang yang percaya kepadanya tidak binasa melainkan memperoleh hidup yang kekal.
Santo | Apr 5, 2010 | Reply
Ngapain tunggu lama lama untuk dapat keselamatan di akhirat mas Santo? insan manusia membutuhkan keselamatan sekarang, di dunia ini; di akhirat lain soalan so semua agama bisa bilang hal sama mas: keslamatan ada pd Budha, pd Trimurti, pd Muhamad SAW, dll. kita realistis saja Santo, di dunia nyata ini sudah berapa milyaran do’a kaummu yg dalam derita, ancaman mati, kelaparan, penyakit’ kemiskinan tapi tuhanmu sperti cuek bebek tak peduli!? kalau tuhanmu juruselamat aku akan sembah Dia, bila tuhanmu peduli aku akan layani Dia.
Amin | Apr 6, 2010 | Reply
Maaf, kalau demikian saya harus mengecewakan Anda. Bagi kami hidup di dunia ini adalah sementara, apa yang ada di dunia akan berlalu karena sifatnya yang fana. Kami mempercayai apa yang akan kami terima dalam kehidupan kekal nantinya. Sebenarnya di dalam rencana Allah, manusia memperoleh hidup kekal yang bahagia, namun karena manusia pertama Adam dan Hawa jatuh dalam dosa, maka ada yang namanya hukuman dosa, wujudnya adalah manusia harus mengalami apa yang namanya kematian, dan di dalam hidupnya manusia juga harus mengalami yang namanya penderitaan dan perjuangan hidup, akibat dari dosa. Sayang sekali, nabi Isa tidak mengajarkan menjadi pengikutnya memperoleh kesenangan di dunia ini. Ia mengajarkan bahwa sebagai murid-Nya akan banyak mengalami pencobaan, penderitaan, serta aniaya demi nama-Nya. Kami mencari bukan yang sesaat/fana tapi apa yang dijanjikan-Nya kelak dan itu jauh lebih berharga dan tak ternilai. Inilah perkataan Nabi Isa tentang harta di dunia:
“Janganlah kamu mengumpulkan harta di bumi; di bumi ngengat dan karat merusakkannya dan pencuri membongkar serta mencurinya. Tetapi kumpulkanlah bagimu harta di sorga; di sorga ngengat dan karat tidak merusakkannya dan pencuri tidak membongkar serta mencurinya. Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada. Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu. Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya? Dan apakah yang dapat diberikannya sebagai ganti nyawanya?”. Salam Kasih.
Santo | Apr 6, 2010 | Reply
Pak Amin, sekalipun saya mengecewakan Anda dalam penjelasan saya karena saya harus jujur menyatakan kebenaran kekristenan, tetapi saya mau berdoa bagi Pak Amin agar Tuhan memberi jalan keluar untuk tiap pergumulan yang Pak Amin alami. Saya percaya, jika ada orang yang sungguh2 mencari Tuhan, maka Tuhan akan memberikan jalan keluar yang terbaik bagi penyelesaian permasalahan yang ada. Jika ada hal khusus yang ingin disampaikan yang tidak ingin dipublish dalam forum ini, Anda dapat meng-email saya di gunawan.santo@yahoo.com, Tuhan memberkati.
Santo | Apr 6, 2010 | Reply
Terima kasih utk tawaran anda, mas Santo. Saya kira tak ada hal khusus yg perlu dibahas via e-mail. Saya hanya ingin minta keterusterangan dan kejujuran kalian semua, umat nasrani.
Belum lama ini seseorang telah membuatku berpikir ulang ttg agamaku dan agamamu, seseorang yg telah ‘membuka’ mataku ttg banyak hal yg selama ini mengganjal di hatiku. Orang itu biasa biasa saja, tapi yg kunilai luar biasa ada pada pengajarannya. Ia ‘bercerita’ banyak hal kepadaku ttg risalah ahli-ahli kitab dan Nabi-nabi, ttg Taurat Zabur dan Injil, mulai dari firdaus hilang sampai firdaus dipulihkan, dari buku kejadian sampai buku Wahyu.
Ada banyak yg kusimak, aku tak akan menyebut semuanya satu satu di sini.
Dia bilang, seandainya Adam taati perintah ALLAH maka Adam dan keturunannya tak akan alami akibat-akibat dari ketidaktaatannya, berupa DOSA PENYAKIT dan KEMATIAN; dan sekiranya Adam taat maka Isa Alahisalam (Nabi Yesus) tak akan turun ke bumi dan mati disiksa; sekiranya Adam taat maka kehidupan kekal itu akan ada di bumi ini juga; sekiranya Adam taat maka surga selalu dan akan selalu menjadi tempat kediaman Ilahi; sekiranya Adam taat maka bumi ini untuk manusia dan manusia untuk bumi, sekiranya Adam taat maka … sayang sekali, Adam tak taat maka jalan ceritanya jadi seperti yg kini kita insan manusia alami yaitu adanya pelanggaran melahirkan hukuman melahirkan kebebalan melahirkan kejahatan melahirkan kejahatan lagi melahirkan dosa melahirkan penderitaan melahirkan penyakit melahirkan usia tua melahirkan derita melahirkan derita lagi melahirkan air mata melahirkan duka melahirkan kesengsaraan melahirkan kematian-maut melahirkan kefanaan… Surga masih tempat kediaman Ilahi dan kediaman insan yang dimuliakan, dan bumi? bumi masih akan dimuliakan seperti surga; yang ini akan bernama bumi firdaus, ya surga ada di bumi seperti-seandainya Adam taati Tuhannya, maka do’a Isa Alahisalam menjadi kenyataan ketika “kerajaan ALLAH datang, jadi kehendak-Mu di bumi SEPERTI di surga…”
KALAU BUMI MENJADI SEPERTI SURGA MAKA “SURGA” YG KABUR DALAM PIKIRAN KAMU AKU DAN MEREKA AKAN REDUP DITELAN KEBENARAN DIA!
Amin | Apr 7, 2010 | Reply
Bagaimanapun itu merupakan masalah pilihan berdasarkan kehendak bebas manusia. Manusia diciptakan sesuai dengan citra Allah, salah satunya adalah mempunyai kehendak bebas dan dapat membuat pilihan. Sayang sekali Adam memang salah memilih, sehingga mempunyai konsekuensi kepada keturunan2nya termasuk saya dan Anda. Jika Anda sebagai Adam, bagaimana Anda memilih? Dan ketika pilihan itu datang kembali saat ini, untuk menentukan suatu keputusan mengikuti suatu kebenaran, bagaimana Anda memilih dan bagaimana Anda menggunakan kehendak bebas Anda? Janganlah mengikuti jejak Adam! Saya melihat Anda telah banyak usaha mencari kebenaran, saatnya bagi Anda untuk menentukan pilihan berdasarkan kehendak bebas Anda. Hanya perlu diketahui, pilihan dan kehendak itu mempunyai konsekuensi, demikian halnya ketika Adam dihadapkan oleh sebuah pilihan. Adam mungkin tidak mengerti dan mungkin tidak memikirkan konsekuensi dari pilihannya, namun apakah kita juga sama seperti Adam, leluhur kita? Hanya Anda yang sendiri yang dapat menentukannya. Salam Kasih.
Santo | Apr 7, 2010 | Reply
Ketika Allah menciptakan Adam dan Hawa, Allah menempatkan mereka di tempat yang nama Taman Eden, dapat dikatakan sebagai taman firdaus. Apakah taman firdaus ini adalah surga, tempat kediaman Allah? Jelas bukan, dalam kitab Musa telah dijelaskan bahwa Allah menciptakan re’shiyth (surga/langit) dan ‘erets (bumi). Jelas surga bukanlah di bumi. Lebih lanjut nabi Isa mengatakan tentang surga, tempat kediaman Allah dan tempat kediaman murid2-Nya, Yoh14:2 Di rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal. Jika tidak demikian, tentu Aku mengatakannya kepadamu. Sebab Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu. Lalu apa maksud dari nabi Isa mengatakan Matius 6:10 datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga?
“datanglah Kerajaan-Mu” berbicara tentang suatu kondisi di mana Allah yang memerintah, dan itu dalam pribadi tiap2 orang percaya. Kerajaan Allah hadir dalam pribadi tiap2 orang percaya. Ketika tiap2 orang percaya telah menjadikan Allah yang memerintah/berotoritas dalam hidupnya, maka kehendak Allah dilaksanakan oleh orang percaya di bumi sebagaimanahalnya kehendak Allah dilaksanakan oleh penghuni surga.
Itulah makna kerajaan Allah hadir di bumi dan kehendak Allah dilaksanakan seperti di surga! Jelas bukan firdaus ataupun surga yang berpindah tempat di bumi. Surga tetaplah surga, bumi tetaplah bumi, firdaus (taman eden) tetaplah taman eden. Dan nabi Isa mengatakan dengan jelas bahwa tempat kediaman orang percaya adalah surga!
Santo | Apr 7, 2010 | Reply
Terima kasih utk tanggapannmu, Santo, tapi saya kira sebagai seorang nasrani anda telah kehilangan makna sebenarnya ajaran Isa ttg ‘kerajaan langit/syurga’. Seseorang yg saya sebutkan di awal memberitahu saya kesederhanaan ajaran Isa/Yesus ttg pokok dimaksud, begini: “Berbeda dari pandangan kebanyakan nasrani bahwa ‘Kerajaan ALLAH’ ada di hati orang beriman, Kerajaan Allah yg didoakan Isa ini benar-benar nyata! Disebut ‘kerajaan Allah’ karena adalah milik Allah ta’ala, dan disebut ‘kerajaan syurga’ karena berasal dari atas yakni dari Allah. Kerajaan Allah ini adalah sebuah bentuk pemerintahan sebagaimana yg umum kita kenal dewasa ini; ada bentuk pemerintahan sosialis-komunis, liberalis-feodalism, otokratis, demokratis, dll. Bentuk pemerintahan kerajaan Allah adalah THEOCRATIS karena pemerintahan ini terpusat pada Allah. Sebuah kerajaan pd umumnya harus ada raja, ada rakyat, ada wilayah, ada undang-undang, ada sistem; kerajaan Allah pun demikian [ini amat berbeda dari pandangan bhw kerajaan Allah itu ada dalam hati orang]. Bagaimanapun juga konteks percakapan Isa ttg kerajaan Allah kala itu tidak berbicara ttg kerajaan itu ‘ada dalam hati atau dalam pribadi tiap2 orang percaya’ melainkan bahwa ‘kerajaan Allah ada di antara kamu’ (Kata Lukas 17:21); ungkapan ‘di antara kamu’ memaksudkan diri Isa itu yg akan jadi raja dari kerajaan itu sendiri sedang hadir di tengah2 pendengarnya, dan bukannya kondisi batin yg baik dari tiap2 orang percaya sementara mereka berada di antara kaum farisi yang licik dan pembuat masalah! Apa yg Isa ajarkan tentu tidak akan berlawanan dengan ramalan nabi Daniel bahwa, Kerajaan yang Allah dirikan dari syurga [kerajaan Allah-kerajaan syurga] akan menghancurkan semua kerajaan dan sistem pemerintahan buatan manusia’ (Kata Daniel 2:44). Ramalan Daniel dan ucapan Isa/Yesus akan menjadi hal yg mustahil sekiranya benar Kerajaan ALLAh itu sekadar ada dalam tiap2 pribadi orang percaya..
Amin | Apr 13, 2010 | Reply
Jika kalian pengikut Isa/Yesus yg sejati, orang2 nasrani yang benar, seharusnya kalian mengajarkan kebenaran kata2 Injil tanpa pakai baluran tradisi dan doktrinal bikinan manusia.
Amin | Apr 13, 2010 | Reply
Saudaraku Amin, sepertinya Anda sangat mengenal doktrin dari Saksi Yehovah ini. Maka saya melihat Anda paham tentang doktrin2 Kristen, maka saya akan menjelaskan dan berbicara kepada Anda layaknya seorang Kristen, saya harap Anda tidak merasa keberatan. Dalam Injil Matius, Matius menggunakan istilah Kerajaan Surga yang sama artinya dengan Kerajaan Allah.
Seperti yang saya katakan sebelumnya, surga adalah tempat tinggal Allah (Ul 26:12), Allah tidak tinggal sendirian di surga, bala tentara langit (Neh 9:6), malaikat2 (Mark 13:32), dan juga orang percaya (1 Petrus 1:4). Surga adalah tempat kediaman Allah dan malaikat2 dan menjadi tempat tujuan akhir dari pengikut2-Nya di dunia ini.
Apakah makna Kerajaan Allah pada :
Lukas 17:20. Atas pertanyaan orang-orang Farisi, apabila Kerajaan Allah akan datang, Yesus menjawab, kata-Nya: “Kerajaan Allah datang tanpa tanda-tanda lahiriah,
Lukas 17:21 juga orang tidak dapat mengatakan: Lihat, ia ada di sini atau ia ada di sana! Sebab sesungguhnya Kerajaan Allah ada di antara kamu.”
Maknanya adalah :
1. Datang tanpa ada tanda2 lahiriah/fisik, berarti datang secara rohani, tidak dapat dilihat!
Jelas keberadaan Yesus adalah secara fisik/lahiriah menjadi manusia, dapat dilihat. Dan Kerajaan Allah yang membuat kerajaan di bumi secara fisik dalam Doktrin Saksi Yehovah bertentangan dengan Luk 17:20.
2. Kerajaan Allah bukanlah tempat, atau suatu bentuk kerajaan yang dapat dilihat secara fisik sehingga dapat dikatakan di sana atau di sini!
Doktrin Saksi Yehovahpun bertentangan dengan pernyataan Luk 17:21a.
3. Perkataan Yesus ditujukan kepada orang2 yang mendengar khotbahnya, di antara orang2 tersebut adalah orang Farisi (Luk 17:20) dan juga murid2-Nya (Luk 17:22). Perkataan tentang Kerajaan Allah benar2 / sungguh dimaksudkan di dalam pribadi orang percaya, dalam hal ini adalah murid2-Nya yang akan menjadikan Allah memerintah dalam hidup-Nya, bukan orang2 Farisi.
Dalam terjemahan King James Version, Luk 17: 21 diterjemahkan “Neither shall they say Lo here or lo there for behold the kingdom of God within you” Digunakan kata within (di dalam) bukan seperti terjemahan bahasa Indonesia yang menyatakan di antara! Kata aslinya dalam bahasa Yunani en-tos’ yang berarti inside atau within (di dalam)! Jelas pengertian dari ayat tersebut bukanlah seperti yang Saksi Yehovah katakan bahwa Yesus sang Raja sudah berada di antara orang2 Yahudi. Ingat pengertian dari bahasa aslinya en-tos’ dan kerajaan Allah bukan secara fisik sehingga tidak dapat dilihat! Apakah Yesus tidak terlihat??? Yesus hadir secara fisik/lahiriah sebagai manusia! Jelas bahwa doktrin Saksi Yehovah tidak sesuai dengan Luk 17:21.
Jika Anda memang mempunyai kehausan untuk mencari kebenaran, temukan kebenaran itu karena kebenaran itu sangat berharga. Adalah hak dan pilihan Anda untuk mengikuti jalan, kebenaran, dan hidup. Anda sudah melihat bahwa dalam 1 perikop ayat ini saja, ajaran manakah yang menggunakan intreprestasi doktrin yang macam2 dan tidak sesuai dengan ayat Firman Tuhan yang sesungguhnya. Salam Kasih.
Santo | Apr 13, 2010 | Reply
Saudara Santo, saya akui saya bukan nasrani dan pengetahuan saya ttg ajaran agama anda pasti tidak sebanyak yg anda ketahui ttg agamamu namun patut dicamkan bahwa tiap2 interpretasi orang ttg sesuatu entah itu ttg keyakinan atau nas atau kitab2 tertentu sering sekali ditentukan oleh seberapa berbobot acuan yg ia gunakan; mungkin penjelasan anda ini kali sudah bagus tapi akan menjadi kehilangan bobot ketika ada sudut pandang terbaru yg lebih valid –barangkali didukung bukti2 arkeologis terbaru atau sumber sejarah terakreditasi lain–akan menunjukan kelemahan teori/keyakinan anda; tanpa jauh2 dari bahasan saya yg belum anda jelaskan adalah “pemahaman” nabi Daniel yang menganggap ‘kerajaan ALLAH’ sebagai suatu pemerintahan nyata yg akan bergegas mengakhiri dominasi kekuatan kerajaan2 manusia; akan ada “benturan” dua kutub dan bukan semata revolusi kebaikan hati yg Allah taruh dalam hati manusia2 jahat, bukan? Lagi pula untuk apa Isa menjadikan ‘kerajaan syurga/Allah’ sebagai tema utama dakwahnya kalau akhirnya kerajaan itu hanya dimengerti sebagai semacam kondisi emosi-emosi positif dalam hati/pribadi para pengikutnya, bukankah orang beragama umumnya akan menganggap Hamurabi, Krisna atau Budha jauh lebih berhasil ketimbang Isa/Yesus?
Akhirnya mari kita mengandai-andai sebagaimana kesukaan teman saya bahwa, sekiranya Adam dan siti Hawa taat apakah umat manusia masih memerlukan yg namanya ‘kerajaan Allah’? Jika masih, apakah itu bernama “kerajaan Allah” sedangkan tak ada tandingannya? Ingat, ucapan profetik Allah yg pertama adalah meramalkan nasib Adam-siti Hawa dan ular setelah pemberontakan (Kata Kejadian bab 3 ayat 15?), saya kira nada konfrontatif dalam ramalan itu ada hubungannya antara kerajaan Allah vs kerajaan setan yang didukung manusia tak sempurna dan ini bukan soal keadaan hati yg katanya diperintah Allah vs kedagingan dan dosa. Bukankah kondisi kehidupan bahagia di Eden walau singkat jauh lebih mantap dibandingkan suasana hati yg damai setelah manusia jatuh dalam dosa?
Amin | Apr 14, 2010 | Reply
Pandangan mengenai bahwa Kerajaan Allah adalah sesuatu yang bersifat fisik bukanlah hanya Anda juga orang2 lain jaman sekarang yang tidak mengerti. Ketika jaman Yesus-pun demikian. Murid-muridNya yang mengikuti Yesus sejak awal mempunyai pengertian bahwa mereka mengikuti seorang nabi atau raja yang akan membebaskan mereka dari penjajahan Romawi dan membentuk pemerintahan yang baru. Itulah ketika saat Yesus ditangkap dan disalibkan, semua murid-Nya melarikan diri, ada yang menyangkal hubungannya dengan Yesus, bahkan ada yang mengkhianatinya dengan menjualnya kepada orang2 yang menyalibkannya. Murid (Yudas Iskariot) yang menjual nabi Isa, bukanlah orang yang tamak harta (menjadi pengikut nabi Isa harus meninggalkan segala yang dimiliki dan setelah menjual nabi Isa, ia bunuh diri karena menyesal) namun dilakukannya hal tersebut karena kecewa bahwa misi “KESELAMATAN” yang diemban nabi Isa, bukanlah membentuk suatu kerajaan secara fisik di dunia! Keselamatan yang dimaksud adalah:
1. Ketidakbinasaan berdasarkan anugrah
2. Hidup kekal berdasarkan anugrah
3. Di surga
(Yoh 3:16 Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal)
(1Petrus 1:4 untuk menerima suatu bagian yang tidak dapat binasa, yang tidak dapat cemar dan yang tidak dapat layu, yang tersimpan di sorga bagi kamu)
Dalam dakwah Nabi Isa tentang Kerajaan Allah/Kerajaan Surga bukanlah menjelaskan kondisi emosi2 positif belaka. Apakah suatu pemerintahan yang nyata secara fisik menjamin ketaatan manusia pada Allah? Ketika Adam dan Hawa di Taman Eden, yang mengenal secara langsung saja, jatuh ke dalam dosa. Allah dapat memerintah, jika seseorang menjadikan Allah sebagai Raja dalam hidupnya. Itulah yang dikatakan bahwa Kerajaan Allah bukan yang terlihat secara fisik, namun dalam rohani. Apakah nabi Isa gagal bila dibandingkan pendiri2 agama lain?
Satu hal, yang hanya dapat diimani orang percaya bahwa dirinya memperoleh jaminan keselamatan yang dijanjikan oleh nabi Isa. Apakah ada pendiri2 agama yang memberikan suatu jaminan keselamatan?
Mengenai nabi Daniel, Nabi Daniel memperoleh nubuatan berupa penglihatan dari Allah (saya koreksi pernyataan pemahaman Nabi Daniel). Dalam penglihatan Daniel tsb, Allah memberikan gambaran suatu simbol2 akhir zaman yang seharusnya orang percaya tidak memaknainya secara hurufiah dari simbol2 tersebut.
Karena mengenai nubuatan, ada hukumnya:
2Petrus1:20 Yang terutama harus kamu ketahui, ialah bahwa nubuat-nubuat dalam Kitab Suci tidak boleh ditafsirkan menurut kehendak sendiri,
2Petrus1:21 sebab tidak pernah nubuat dihasilkan oleh kehendak manusia, tetapi oleh dorongan Roh Kudus orang-orang berbicara atas nama Allah.
Apa yang diungkapkan kitab Daniel sama seperti pernyataan2 nabi Isa mengenai kebangkitan setelah kematian dan penghakiman: hidup kekal bagi orang percaya dan siksaan kekal bagi orang tidak percaya.
(Dan 12:2 Dan banyak dari antara orang-orang yang telah tidur di dalam debu tanah, akan bangun, sebagian untuk mendapat hidup yang kekal, sebagian untuk mengalami kehinaan dan kengerian yang kekal)
Apakah yang dilakukan oleh Saksi Yehovah bukankah merupakan perbuatan menafsirkan nubuat berdasarkan kehendak sendiri?
Perlu diingat bahwa orang2 yang berbicara atas nama Allah adalah nabi ataupun rasul yang dipilih Tuhan!
Lagipula dalam konteks Dan 12:2, pernyataan Allah kepada Daniel bahwa ada penghakiman, dan berujung pada orang tidak percaya mendapat siksaan (kehinaan dan kengerian) kekal. Saksi Yehovah tidak mempercayai adanya penghakiman demikian!
Santo | Apr 14, 2010 | Reply
Mengenai Firman Tuhan, Alkitab bukanlah Firman Tuhan jika tidak dapat dibuktikan kebenarannya melalui sejarah.
Mengenai pernyataan Anda, yang menyatakan ketika ada sudut pandang terbaru yg lebih valid –barangkali didukung bukti2 arkeologis terbaru atau sumber sejarah terakreditasi lain–akan menunjukan kelemahan teori/keyakinan anda?
Firman Tuhan bukanlah ilmu pengetahuan yang harus disesuaikan dengan bukti2 arkeologis dan sejarah! Justru sejarah dan bukti2 itu yang membuktikan bahwa Alkitab memang benar Firman Tuhan. Firman Tuhan adalah tetap dalam kebenarannya dalam segala masa dan jaman.
Yang saya ungkapkan bukanlah teori, saya mengungkapkan secara jujur pernyataan yang ada dalam kitab suci, bukan teori / tafsiran. Ketika diungkapkan en’tos yang artinya di dalam, memang begitu pengertiannya. Ketika diungkapkan datang tanpa tanda2 lahiriah, memang begitu pengertiannya. Ketika diungkapkan tidak dapat dikatakan di sini atau sana, memang begitu pengertiannya. Ketika dikatakan nubuat tidak boleh ditafsir menurut kehendak sendiri, saya tidak menafsirkan simbol2 tersebut! Ketika dikatakan banyak yang dibangunkan, memang begitu pengertiannya. Ketika dikatakan hanya sebagian yang mendapat hidup kekal, memang begitu pengertiannya. Ketika dikatakan sebagian mendapat kehinaan dan kengerian kekal, memang demikian pengertiannya! Tidak ada yang merupakan teori atau tafsiran, karena pernyataan dalam Firman Tuhan sudah jelas, tidak perlu suatu teori yang dibuat2 dengan mengkait2-kan sejarah atau bukti2 arkeologi.
Santo | Apr 14, 2010 | Reply
Saudara Santo, karena saya awam saya ingin klarifikasimu akan ‘keberatan’ saya terhadap ucapanmu yg saya berikan tanda kurung dengan sedikit keterangan di bawahnya:
(Itulah ketika saat Yesus ditangkap dan disalibkan, semua murid-Nya melarikan diri, ada yang menyangkal hubungannya dengan Yesus, bahkan ada yang mengkhianatinya dengan menjualnya kepada orang2 yang menyalibkannya. Murid (Yudas Iskariot) yang menjual nabi Isa, bukanlah orang yang tamak harta (menjadi pengikut nabi Isa harus meninggalkan segala yang dimiliki dan setelah menjual nabi Isa, ia bunuh diri karena menyesal)
Saya kira adalah wajar dalam situasi genting dan membahayakan jiwa para murid itu melarikan diri karena tidak ingin ketangkap atau mati konyol; ini dipersulit alasan murid2 itu tak dipersenjatai kecuali Petrus, dan memang catatan Injil merekam tindakan beladiri Petrus dgn menebas cuping telinga seorang hamba imam. Selanjutnya tindakan Petrus menyangkali tuannya dan Yudas yang menjual Isa saya rasa masih sama, dan sebatas kewajaran dari perilaku orang yang terjepit masalah, dan bukan berkaitan amat dengan perasaan “kecewa” akan misi Pemimpin mereka: si Petrus bertindak karena murni rasa takut akan manusia, dan berbeda dgn anda ttg si Yudas, ia memang bertindak karena tamak sebab ttg Yudas ini injil menyebut kebiasaan dia mengambil (mencuri) apa yg dititipkan kepadanya, ia memang seorang bendaharawan korup! Patut dicamkan bahwa yang melatarbelakangi tindakan murid2 yang kabur, Petrus yg menyangkal dan Yudas yang mengkhianati Isa ini bukan karena mereka kecewa tapi karena ini sudah dikatakan atau diramalkan sebelum-sebelumnya oleh Isa sendiri maupun dalam oleh nabi2 yahudi dalam Taurat maupun Zabur; saya kira anda lebih tahu alamat bab dan ayat-ayat ttg peristiwa tersebut daripada saya…
Amin | Apr 14, 2010 | Reply
Saudara perhatikan frase kalimat yang saya tuliskan sebelumnya.
1. Tindakan murid2 yang melarikan diri, menyangkal, dan menjual nabi Isa adalah tindakan ketidakmengertian. Saya mengatakan tindakan ini adalah bentuk kekecewaan.
2. Tindakan kekecewaan akan misi nabi Isa, hanya saya maksudkan untuk Yudas Iskariot.
Saya menjelaskan tentang Yudas Iskariot, Anda mengatakan dia tamak?
1. Tapi kenyataannya dia meninggalkan segala yang dia punyai demi mengikut nabi Isa.
2. Tidak ada teks kitab suci yang menyatakan, dia adalah bendahara, apalagi mengatakan dia bendahara yang curang atau korup.
3. Tahukah Anda bahwa Yudas Iskariot ini menjual nabi Isa seharga 30 keping perak (Mat 26:15). 30 keping perak sama dengan 120 dinar, waktu itu upah kerja (UMR) orang Yahudi 1 hari adalah 1 dinar. Berarti Yudas Iskariot menjual nabi Isa seharga 4 bulan gaji (UMR) orang Yahudi. Anda dapat bayangkan jika dalam kondisi sekarang, jika UMR kita sekitar Rp 900 rb/bulan, 4 bulan gaji berarti Rp. 3,6 juta, untuk menyerahkan seseorang agar dibunuh. Polisi saja menyediakan hadiah Rp 1 milyar bagi yang memberitahukan informasi teroris DOP kelas wahid, pengikut2nya tidak ada yang berkhianat.
Apakah masuk akal, Yudas Iskariot menjual nabi Isa karena ketamakan? Terlalu murah harga yang diminta Yudas Iskariot untuk disebut tamak. Apalagi jika Yudas mempunyai pengertian bahwa nabi Isa adalah Raja dalam Kerajaan Allah secara fisik, mungkinkah dia menjual Raja dengan 30 keping perak?
4. Jika Yudas Iskariot tamak:
a. Yudas Iskariot tidak akan bunuh diri karena menyesal menyerahkan nabi Isa(Mat 27:5).
b. Yudas Iskariot tidak akan tidak menggunakan uang tersebut. Nyatanya dia bermaksud mengembalikan uang 30 keping perak itu (Mat 27:3), karena pengembaliannya tidak diterima, dia membuang semua uang tersebut ke Bait Suci (Mat 27:5).
Jelas bukan karena ketamakan Yudas Iskariot menjual nabi Isa.
Dalam beberapa hal, nabi Isa telah menjelaskan tentang misi-Nya dan apa yang terjadi pada dirinya bahwa Dia akan diserahkan untuk disalibkan (Mat 26:2) kepada murid2-Nya, bahkan kepada Yudas Iskariot, nabi Isa telah menyatakan bahwa ada yang mengkhianati-Nya dengan menjual-Nya untuk disalibkan, bahkan Yudas Iskariot masih menyangkal, bukan dia yang akan melakukannya (Mat 26:24-25).
Menganalisa psikologis Yudas Iskariot:
Ia menganggap nabi Isa sebagai raja yang akan memperjuangkan dan membentuk pemerintahan baru dalam Israel, dan membebaskan Israel dari penjajah. Ia meninggalkan segalanya demi mengikuti nabi Isa. Ada dalam harapannya bahwa ia akan memerintah bersama nabi Isa, bahkan untuk hal ini murid2 nabi Isa pernah meributkan siapa yang menjadi tangan kanan dan tangan kiri nabi Isa dalam pemerintahan yang diperjuangkan. Bayangkan betapa kecewanya Yudas Iskariot ketika nabi Isa mengatakan bahwa Ia harus mati. Sang Raja yang diikutinya dengan membuang segalanya, mengatakan bahwa Sang Raja akan mati, bagaimana dengan harapan Yudas Iskariot tentang adanya pemerintahan yang baru dan ikut memerintah. Bukankah sirna, lenyap semua, saat sang Raja mengatakan dia akan mati? Perasaan apakah yang timbul dalam diri Yudas Iskariot?
Demikian pula tindakan2 para murid yang didasarkan ketidakmengertian. Secara mudah saya jelaskan begini. Anda tahu unsur fanatisme? Menurut Anda, fanatisme terhadap pemerintah atau agama yang lebih kuat? Saya kasih, contoh:
dalam masyarakat sekarang ini tampaknya merupakan suatu yang umum menghina seorang presiden (SBY disamakan dengan Kerbau), bagaimana reaksi masyarakat umum? Ada yang tertawa, ada meniru melakukan, bahkan ada yang melakukan hal yang lebih tidak sopan lagi. Yang membela, bukan hanya segelintir, namun hampir tidak terdengar. Tetapi bagaimana kalau agama yang dihina, simbol agama yang dinistakan, atau seorang tokoh agama yang dihina seperti waktu itu kasus nabi Muhammad, dalam kasus itu saja sudah menjadi ketegangan internasional. Orang2 siap berjihad untuk membela agamanya.
Jujur saja jika saat itu murid2 tidak keliru memandang nabi Isa sebagai calon raja dalam pemerintahan secara fisik, mereka tidak akan melarikan diri dan menyangkal nabi Isa, namun mereka akan berjihad. Inilah yang saya maksud tindakan yang diakibatkan ketidakmengertian.
Santo | Apr 14, 2010 | Reply