Surat terbuka untuk para ‘pengagung’ Yahweh
By GK on Jan 1, 2008 in Umum, Renungan, Uncategorized
Surat terbuka untuk para ‘pengagung’ Yahweh
Shalom,
Dengan berbagai argumentasi yang berdasarkan pada Kitab Suci (khususnya secara tegas dari Kitab Yesaya 42:8), saya sependapat bahwa Tuhan yang perlu kita sembah dan agungkan adalah Tuhan yang bernama Yahweh, bukan Allah, sebab secara jelas menurut Al-Quran, bahwa Allah adalah Tuhan bagi saudara-saudara kita umat Muslim. Apakah sesungguhnya Yahweh sama atau berbeda dengan Allah, sekarang saya tidak tahu, tetapi karena saya mau tunduk pada otoritas Firman Tuhan dalam Kitab Suci, maka saya menyembah Tuhan Yahweh, bukan Tuhan Allah. Kalaupun ada saudara-saudara kita yang berpendapat bahwa Yahweh = Allah, itu mungkin karena mereka merasa tahu, atau seolah-olah tahu, dan kita tetap perlu menghargai pendapat mereka.
Namun, saya selalu tidak dapat merasa nyaman, ketika dalam doa-doa bersama, dalam nyanyian-nyanyian, nama Yahweh sering disebut-sebut, bahkan saya sangat tidak nyaman ketika dalam lagu-lagu yang memuat kata ‘Allah’ langsung diganti dengan ‘Yahweh’.
Bagi saya, Yahweh sebagai nama yang sakral, kudus, agung, bukannya tidak perlu disebut, namun juga tidak perlu ‘diobral’, sebab melalui pengakuan dengan segenap hati dan jiwa bahwa Yahweh itu sesembahan kita, maka ketika kita sebut Dia dengan kata ‘Tuhan’ atau ‘Bapa’, itu sudah menunjuk pada Tuhan Yahweh. (atau dalam kesempatan khusus mungkin dapat secara jelas disebut Tuhan Yahweh atau Bapa Yahweh)
Benar bahwa menurut banyak ayat dalam Kitab Suci, kita harus memuji Tuhan, memuji nama Tuhan, mengagungkan nama-Nya, tetapi apakah pengagungan nama Yahweh harus diwujudkan dalam nyanyian-nyanyian yang melafalkan kata “Yahweh” berulang-ulang?
Ini hanya pendapat pribadi, namun mungkin perlu direnungkan kembali apakah kita sudah menempatkan nama Yahweh sebagai nama yang agung, kudus dan terhormat. Sesuai dengan petunjuk Kitab Suci, nama Yahweh memang harus dipuji, dimasyurkan, diberitakan, tetapi mungkin tidak perlu dilakukan dengan ‘mengobral’ nama Yahweh, sehingga kesakralan, keagunganNya menjadi terabaikan.
Analoginya adalah diri saya sendiri. Nama saya ‘Petrus Wijayanto’, anak saya memanggil ‘Bapak’, kadang-kadang secara bercanda memanggil saya ‘Papa’ atau ‘’Papi’, bahkan kadang kalau bercandanya agak ‘kelewatan’ dia panggil saya ‘Bapak Petrus’. Anak saya sangat jarang, bahkan hampir tidak pernah memanggil saya secara langsung ‘Petrus Wijayanto’, walaupun jika ditanya orang lain, “Siapa Bapakmu?”, dia akan menjawab ‘Petrus Wijayanto’. Anda dapat membayangkan, betapa tidak nyamannya jika anak saya memanggil saya dengan nama saya secara langsung.
Mungkin Anda bisa membayangkan lebih lanjut, jika kita menyebut secara langsung ‘Yahweh’ dalam nyanyian-nyanyian pujian, dalam pertemuan-pertemuan ibadah.
Demikian surat saya, kiranya Bapa Yahweh memberkati pelayanan kita semua.
Salatiga, 01 Januari 2008
Petrus Wijayanto


Jika anda ingin terbebas dari kuasa kegelapan (kuasa Setan), mungkin Tim dari

dikelola seorang awam, bukan aktivis
gereja.

Shalom…
Saya sependapat dgn Bapak Petrus bahwa nama Yahweh tidak boleh disebut sembarangan. Sebab menurut hukum ketiga (10 hukum taurat) dikatakan, jgn kamu menyebut nama TUHAN Allahmu dgn sembarangan karena TUHAN akan memandang bersalah orang yg menyebut nama-Nya dgn sembarangan.
Akan tetapi, tahukah kita bahwa sesungguhnya nama YHWH tdk boleh disebut secara lisan, nama itu hanya bisa ada dalam tulisan. Orang Israel sendiri sebagai bangsa yg menerima firman TUHAN , selalu memakai sebutan/memanggil dgn nama ELOHIM dan/atau ADONAI ketika mereka harus membaca atau menyebutkan nama YHWH.
Itulah sebabnya, Kejadian 1:1 berkata, “BERE’SYIT {pada mulanya} BARA’ {Dia menciptakan} ‘ELOHIM {Allah} ‘ET HASYAMAYIM {langit itu} VE’ET {dan} HA’ARETS {bumi itu}”
Jadi, kalau orang Israel sendiri yg menerima kitab suci Perjanjian Lama tidak berani menyebut nama itu, melainkan menggantinya dgn ELOHIM atau ADONAI (dlm perkataan) mengapa justru orang Indonesia “merasa lebih tahu”? dan gampang saja menyebut nama itu.
Saya pernah berbincang dgn orang Israel, dia tinggal di Tel Aviv (ibukota Israel). Saya sebut nama YHWH itu, dia marah sekali…
Bobby | Jan 4, 2008 | Reply
Justru yang menjadi pertanyaan, mengapa Israel (hingga kini) tidak ‘berani’ menyebut nama Yahweh,
padahal, menurut Kitab Keluaran 3:15
Selanjutnya berfirmanlah Tuhan kepada Musa: “Beginilah kaukatakan kepada orang Israel: YAHWEH, Tuhan nenek moyangmu, Tuhan Abraham, Tuhan Ishak dan Elohim Yakub, telah mengutus aku kepadamu: itulah nama-Ku untuk selama-lamanya dan itulah sebutan-Ku turun-temurun.
ada yang berpendapat, karena Bangsa Israel merasa sangat bersalah kepada Yahweh, dan kemudian mengalami pembuangan (peristiwa Babel), itu menjadikan Israel tidak berani memanggil Tuhan dengan Yahweh…
apapun alasannya, nampaknya perlu dikaji kembali mengapa Israel tidak menyebut Yahweh, padahal Tuhan sendiri sudah berfirman, Yahweh itulah namaNya selama-lamanya dan sebutanNya turun-temurun.
GK | Jan 5, 2008 | Reply
Adapun pengalaman saya malah selalu diajarkan oleh bapak saya Tuhan itu ya Yesus dia punya Bapa Yahweh di sorga katanya kalo mau selamat ya percaya Yesus saja. Untuk pemahaman iman level rendah saya tentu saja ini pemahaman baru ini harus memerlukan waktu Untuk mengganti Yesus dengan Yahweh sebab pengalaman hidup saya sudah manis sekali dengan nama Yesus. tapi siapa tahu, saya sapa Yahweh besuk. Hal seperti ini tentunya harus secara pelan-pelan kalo mau merubah/penggantian Nama Tuhan untuk semua umat kristiani khususnya yang sudah terbiasa dengan pangggilan Allah. Alangkah sungguh indah andai kita bisa langsung berbicara dengan Yesus, untuk menanyakan Nama apa yang paling benar.
Salam
Kage.
KG | Jan 5, 2008 | Reply
Kami mengakui Bapa Yahweh, dan tetap mengakui juga Yesus sebagai Tuhan. Tidak seperti Saksi Yehova, yang mengakui Yahweh, tetapi tidak mengakui Yesus sebagai Tuhan.
Memang ada aliran “Jesus Only”, yang “mengabaikan” bahkan ada yang menolak Yahweh.
Silakan baca Kitab Wahyu 14:1 (…nama Bapa-Nya…)
Betul, bahwa hanya melali Yesus-lah kita dapat benar-benar mengenal siapa Bapa kita, silakan tanyakan langsung, atau lewat mencermati FirmanNya. Jika kita menanyakannya, Dia akan menjawab, , tiap orang bisa mendapatkan jawaban dengan cara yang berbeda-beda…..
(Lukas 10:22)
tks…
GK | Jan 7, 2008 | Reply
Dia satu roh…
tahu kan tujuan Roh itu memanifestasikan menjadi manusia, BUKAN TUMBUHAN ATAUPUN HEWAN.
masih ingat juga tentang drama penciptaan? bahwa kita segambar / serupa dengan Penciptanya.
so.. jelas sekali kita manusia istimewa di hadapanNya. balas dong, dengan kita HARUS MENGISTIMEWAKAN NAMANYA.
saatnya budaya orang Kristen mencerminkan ajaran yang ada pada Alkitab. Sejarah banyak di pengaruhi oleh budaya kuno yang sangat sarat dan padat. Bongkar dan telanjangi itu, tanggalkan dan pakailah pakaian baru.
terpujilah YHWH dan diberkatilah kita dalam Yeshua
samber gelap tobat | Jan 12, 2008 | Reply
Yohanes 10:14 Akulah gembala yang baik dan Aku mengenal domba-domba-Ku dan domba-domba-Ku mengenal Aku
Mazmur 8:10 Ya YHWH, Tuhan kami, betapa mulianya nama-Mu di seluruh bumi
Mazmur 18:50 Sebab itu aku mau menyanyikan syukur bagi-Mu di antara bangsa-bangsa, ya YHWH, dan aku mau menyanyikan mazmur bagi nama-Mu
Keluaran 3:15 Selanjutnya berfirmanlah Tuhan kepada Musa: “Beginilah kaukatakan kepada orang Israel: YHWH, Tuhan nenek moyangmu, Tuhan Abraham, Tuhan Ishak dan Tuhan Yakub, telah mengutus aku kepadamu: itulah nama-Ku untuk selama-lamanya dan itulah sebutan-Ku turun-temurun
Wahyu 14:1 Dan aku melihat: sesungguhnya, Anak Domba berdiri di bukit Sion dan bersama-sama dengan Dia seratus empat puluh empat ribu orang dan di dahi mereka tertulis nama-Nya dan nama Bapa-Nya
yohanes 17:26 dan Aku telah memberitahukan nama-Mu kepada mereka dan Aku akan memberitahukannya, supaya kasih yang Engkau berikan kepada-Ku ada di dalam mereka dan Aku di dalam mereka.”
dan masih banyak ayat yang lain………
bukan kah namaNYA harus di masyurkan, di sembah, di agungkan,……????
zt | Jan 12, 2008 | Reply
Saya setuju untuk pemakaian nama Yahweh bagi orang Kristen,karena nama Allah adalah nama sesembahan umat Islam.Mari kita menghargai umat Islam dengan tidak menggunakan nama Tuhan mereka di dalam kekristenan.
Memang sulit untuk melepaskan,tapi jika ada kemauan, pasti bisa.
kurniady | Jan 26, 2008 | Reply
Syalom, menurut sepengetahuan saya, Sepanjang sejarah yang ada, Kitab Perjanjian Lama memang ditulis dalam bahasa Ibrani dan TUHAN yang disembah dipanggil sebagai YAHWE. Namun dalam Perjanjian Baru tidak ditulis dalam bahasa Ibrani tetapi bahasa Yunani dan tidak ada satupun tulisan dari para murid Yesus Kristus dalam kitab Perjanjian Baru yang menggunakan YAHWE. Mereka menggunakan THEOS, Parakletos, Logos, Kurios, yang sebelumnya merupakan nama-nama Dewa Yunani yang akhirnya menjadi bahasa umum Yunani untuk menunjuk kepada Sang Pencipta dan bukan lagi menunjuk kepada dewa-dewa tsb. Nah, Kalau saja para Rasul tidak bersikeras memakai kata YAHWE lalu mengapa kita harus “memaksa” memakai nama tsb dan menentang mereka (umat Kristen) yang masih memakai nama Allah ? Kalau para Rasul memandang hal penggunakan nama YAHWE suatu keharusan dan sangat penting lalu mengapa tidak ada satupun nama YAHWE dijumpai/digunakan dalam kitab Perjanjian Baru (bahasa aslinya –Yunani)? Mana yang lebih tahu, kita atau para Rasul pada waktu itu ? saya yakin dan percaya tidak ada satupun bahasa didunia yang sempurna tanpa ada unsur serapan dari bahasa lainnya. Dulu memang bisa dikatakan bahwa masuknya kata Allah dalam bahasa Indonesia adalah akibat serapan bahasa arab tetapi saat ini kata Allah itu sendiri sudah menjadi bahasa umum Indonesia yang berarti Sang Pencipta / Tuhan Yang Maha Esa dan bukan lagi menunjuk kepada suatu Nama Pribadi Sesembahan tertentu. CONTOH: semua orang beragama di indonesia pasti kalau berdoa akan menyebut “Tuhan”, demikian juga dengan orang Kristen. Tapi apakah makna dalam hati tiap orang tsb sama saat mereka menyebut kata Tuhan itu sendiri? Tentunya tidak. Kalau Hindu saat mengatakan “Tuhan” maka yang terlintas dalam benak mereka adalah Brahma, Siwa dan Wisnu atau lainnya. umat Budha juga memiliki makna sendiri. Tentunya umat Kristen saat berdoa menyebut kata “Tuhan” yang terlintas dalam benak mereka ada KRISTUS. Disini tampak bahwa ucapan dibibir sama tetapi makna dan arahnya berbeda. Demikian juga dengan kata Allah. Tidak pernah terlintas sedikitpun dalam benak dan hati saya bahwa Allah yang saya sebut dalam doa adalah Allah sesembahan umat Islam karena bagi pemahaman saya kata Allah itu merupakan cara bahasa Indonesia dalam mengungkapkan sang pencipta. Jadi, saran saya : Saya menghargai pandangan saudara yang memakai kata YAHWE karena hal itu memang ada dalam Alkitab Perjanjian Lama tapi mohon kiranya jangan memandah salah / rendah mereka yang menggunakan Kata Allah dalam menyebut Allah Bapa, Allah Putra dan Allah Roh Kudus karena para Rasul dalam Perjanjian Baru juga tidak memakainya. Bagi saya, manusia punya cara dan bahasa sendiri dalam mengungkapkan pribadi Tuhan yang ia sembah dan tidak ada satupun bahasa yang harus di KULTUS-kan dan di SAKRAL-kan karena semua bahasa itu adalah sama di hadapan TUHAN dan tidak akan mengurangi KEBERADAAN, KEMAHAKUSAAN dan KEKUDUSAN TUHAN itu sendiri. Kalau ada Allah/TUHAN yang karena ucapan umatnya bisa mengurangi KEKUDUSAN-NYA, KEMAHAKUASAAN-NYA maka IA bukan lagi TUHAN yang MAHA KUASA…!! Kalau ada bahasa yang dianggap LAYAK dan KUDUS untuk mengungkapkan PRIBADI SANG PENCIPTA, kira-kira bahasa mana yang pantas untuk itu ? Kalau kita katakan “ada” berarti kita sudah mengatakan bahwa Tuhan pilih kasih dan tidak adil karena memberikan bahasa yang tidak layak dan tidak pantas bagi bangsa lainnya. Kalau kita katakan “Tidak ada” lalu mengapa kita merasa ragu menggunakan bahasa negara kita sendiri dan beranggapan bahwa bahasa Ibrani dan Yunani lebih KULTUS dan LAYAK untuk mampu mengungkapkan pribadi Sang Pencipta tsb ? Jadi marilah kita melihat Alkitab secara Komprehensif dan INDUKTIF dengan melihat pemahamannya secara LITERAL (pemahaman biasa), GRAMATIKAL (Grammer atau tata bahasa), KONTEKSTUAL dan HISTORICAL (sejarah). Tuhan Yesus Kristus Memberkati.
Nahason P. | Apr 1, 2008 | Reply
Itu sebagian besar alasan mengapa orang Kristen tetap setia pada “ALLAH”
Mengapa orang Hindu, Budha di Indonesia tidak menggunakan “Allah”, untuk menyebut Tuhan mereka?
Mengapa orang Islam di seluruh dunia (tidak hanya Indonesia,Malaysia dan Arab saja..)menggunakan kata “ALLAH” untuk menyebut Tuhannya? >> Allah is my Lord..
Saya sebagai orang Kristen akan bilang “My Lord is YAHWEH”
Silakan jika Anda (Kristen) akan bilang “My Lord is Allah….–and I mean Allah is Yahweh–”
Silakan jika itu pilihan Anda….
Silakan baca-baca tulisan “SIAPA TUHAN YANG ANDA SEMBAH?” di http://www.gkmin.net/gk/Siapa_yang_Anda_sembah.pdf
GK | Apr 1, 2008 | Reply
kalian makin lama makin akan sesat,
gereja adalah tubuh Kristus di dunia, yang sudah punya sejarah 2000 tahun, dan ada benang merah, dan pengajaran-pengajaran pokok yang sudah teruji dan menjadi dasar dan pondasi kekristenan,
jadi lebih baik kalian berhenti dari perdebatan debat kusir, dan dicari-cari, saya usul yang banyak ngomong, studi dulu, ke Israel dan Timur Tengah, kalau sudah jadi pakar bahasa Ibrani, baru ngomong, jadi tidak ada ngomong. saya rasa kalian tidak punya kualifikasi untuk membahas hal ini. Terima kasih.
Pro Yesus | Apr 1, 2008 | Reply
kalian makin lama makin akan sesat,
eh.. Anda bukan Tuhan yang berhak menghakimi kami..
Yusuf Roni juga meninggalkan Allah, dan menyembah Yahweh, apa dia juga sesat???
Ali Mahkrus juga meninggalkan Allah, dan menyembah Yahweh, apa dia juga sesat?
Suradi ben Abraham, juga meninggalkan Allah, menjadi penyembah Yahweh, apa beliau juga sesat?
Anda mestinya tahu Pak Suradi ben Abraham belajar bahasa Ibrani di Israel, beliau mengajar bahasa Ibrani di Christian Centre - Jl Proklamasi, Jakarta (dulu, sebelum beliau difatwa mati oleh pihak tertentu)
Pak Suradi adalah “penerus” Hamran Ambrie.
pertanyaan saya buat Anda (Pro Yesus) dari mana Anda tahu bahwa Allah adalah Tuhan?
dari Israel? dari Yahudi? atau dari Arab?!
(buat yang percaya dan mengikuti Al-Quran dan mengakui Allah adalah Tuhan, saya sangat menghargai keyakinan Anda, tetapi kami percaya pada Kitab Suci Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, dan karenanya, mengakui bahwa Tuhan adalah YAHWEH yang berputra Yesus (Yeshua))
GK | Apr 1, 2008 | Reply
Syalom, trima kasih buat tanggapan dari pengasuh rubrik. Tapi maaf, mungkin ada sedikit keliru pemahaman yang anda tarik dari penyampaian saya kemarin. Saya jika menggunakan bahasa inggris maka saya tidak akan berkata : “My Lord is Allah” tetapi ” My Lord is Jesus Christ. I believe in Abba Father (YAHWE), Jesus Christ and The Holy Spirit” karena Bahasa inggris tidak mengenal kata “allah”. Jika dikatakan My Lord is Allah berarti kata Allah disana bermakna nama Pribadi yang disembah, bukan? Tentunya bukan demikian maksud saya dalam penjelasan sebelumnya itu. Kata “allah” saya masih pakai karena kata tsb masih merupakan bagian tatanan bahasa Indonesia yang memiliki arti Tuhan Yang Maha Kuasa (lihat kamus bahasa indonesia) dan bukan bermakna Nama Pribadi sesembahan umat lain.
Sebagai tambahan saja dan masukan bagi saudara-saudara mari kita melihat CONTOH dalam Luk.4:18, Yesus membaca kitab nabi Yesaya 61:1. Kitab Yesaya tsb ditulis dalam bahasa Ibrani dan disana menggunakan kata YAHWE tetapi Lukas tidak satupun memakai kata YAHWE tsb dalam menulis kitab Lukas melainkan “Pneuma Kurios”. Dalam kitab Matius 3:3 juga mengambil konteks dari kitab Yesaya 40:3 yang didalamnya terdapat kata YAHWE, namun Matius tidak menuliskan YAHWE melainkan sama seperti Lukas yaitu Kurio atau Kurios. Dalam Roma 4:3 Rasul Paulus menjelaskan kitab yang ada dalam Kejadian 15:6 yang didalam nya juga ada kata YAHWE namun Rasul Paulus tidak memakai kata YAHWE melainkan “Theo” . Dan masih banyak contoh lainnya. Nah, Apakah mereka salah ? Marilah kita melihat Alkitab (Perjanjian Lama dan Baru) sebagai satu kesatuan (komprehensif).
Seandainya bahasa indonesia suatu saat mengklarifikasi kembali dan akhirnya memutuskan bahwa kata “allah” adalah milik umat tertentu dan bukan lagi diakui sebagai bahasa Indonesia maka saya tidak akan memakai kata itu lagi. Jadi dalam hal ini saya hanya menganggap persoalan ini bukanlah suatu hal yang perlu diperdebatkusirkan karena hanya sebatas masalah bahasa saja dan menurut saya semua bahasa itu adalah NETRAL dan tidak ada satu bahasapun yang harus diKULTUSKAN dan dipandang LEBIH LAYAK untuk bisa mengungkapkan PRIBADI Tuhan itu sendiri.
Mohon maaf bila ada penyampaian saya yang kurang berkenan. Bagi saya beda pendapat adalah hal yang sehat dalam perbincangan asal kita bisa mengambil hikmah yang positip didalamnya. Tuhan Yesus Kristus Memberkati anda.
Nahason P. | Apr 2, 2008 | Reply
karena Bahasa inggris tidak mengenal kata “allah”. Jika dikatakan My Lord is Allah berarti kata Allah disana bermakna nama Pribadi yang disembah, bukan?
itu “pemahaman Kristen”…
Coba saja teliti Quran berbahasa Inggris, tetap saja memakai kata Allah, orang Muslim di Eropa dan Amerika tetap saja menggunakan kata Allah.
Nah… kalau kata itu “universal” mengapa Anda tidak mau mengatakan “My Lord is Allah?”
berarti kata “ALLAH” itu khusus khan?!
Mengapa Anda tidak mengakui kekhususan “ALLAH” dan menganggap “ALLAH” itu hanya sekedar bahasa ?
Anda boleh tetap bertahan “maksud hati saya bukan begitu” tetapi ingat:
Keluaran 23:13 Dalam segala hal yang Kufirmankan kepadamu haruslah kamu berawas-awas; >nama sesembahan lain janganlah kamu panggil, janganlah nama itu kedengaran dari mulutmu.“
itu sebabnya saya pilih tidak menggunakan kata “Allah” untuk menyebut Tuhan Yahweh.
(Sudah baca tulisan “SIAPA TUHAN YANG ANDA SEMBAH?” di http://www.gkmin.net/gk/Siapa_yang_Anda_sembah.pdf ?)
CONTOH dalam Luk.4:18, Yesus membaca kitab nabi Yesaya 61:1. Kitab Yesaya tsb ditulis dalam bahasa Ibrani dan disana menggunakan kata YAHWE tetapi Lukas tidak satupun memakai kata YAHWE tsb dalam menulis kitab Lukas melainkan “Pneuma Kurios”. Dalam kitab Matius 3:3 juga mengambil konteks dari kitab Yesaya 40:3 yang didalamnya terdapat kata YAHWE, namun Matius tidak menuliskan YAHWE melainkan sama seperti Lukas yaitu Kurio atau Kurios. Dalam Roma 4:3 Rasul Paulus menjelaskan kitab yang ada dalam Kejadian 15:6 yang didalam nya juga ada kata YAHWE namun Rasul Paulus tidak memakai kata YAHWE melainkan “Theo” . Dan masih banyak contoh lainnya. Nah, Apakah mereka salah ? Marilah kita melihat Alkitab (Perjanjian Lama dan Baru) sebagai satu kesatuan (komprehensif).
justru itu, kalau memang Yesus membaca Kitab Yesaya, apakah mungkin Yesus mengganti kata Yahweh? bukankah itu karena penterjemahan saja?
(ingat bangsa Israel “tidak berani” menyebut nama Yahweh, dan menggantikannya dengan “Adonai” — salah satu alasan yang pernah saya baca adalah karena Israel merasa sangat bersalah kepada Yahweh, setelah pembuangan ke Babil– sehingga tidak berani menyebut namaNya, karena nama itu kudus)
bukankah ini seperti persoalan LAI yang mengganti kata YHWH (dalam teks Ibrani) diganti menjadi TUHAN (huruf besar semua) atau ALLAH (huruf besar semua), lalu dikatakan “Lho di Alkitab tidak ada tulisan YHWH-nya kok…” — lha iya, karena sudah di”edit” oleh LAI.
GK | Apr 2, 2008 | Reply
Syalom,… trima kasih untuk tanggapan yang anda berikan, tapi maaf kalau saya masih dalam pandangan saya namun saya menghargai pendapat dan pandangan anda. Saya Cuma bingung dengan kalimat pernyataan anda yang menyebutkan …”itu “pemahaman Kristen”…..” Apakah anda bukan orang Kristen ? Sekali lagi maaf kalau saya tanyakan ini karena terus terang saya adalah orang Kristen dan saya sangat senang bila share ttg Alkitab dengan sesama Pengikut Kristus tapi saya kurang “sreg” bila share dengan saksi Yehova. Mohon penjelasan supaya saya tidak salah masuk rubrik. Trima kasih dan Tuhan memberkati anda.
Nahason P. | Apr 2, 2008 | Reply
Saya berharap Anda sudah membaca tulisan saya “SIAPA TUHAN YANG ANDA SEMBAH?” di http://www.gkmin.net/gk/Siapa_yang_Anda_sembah.pdf
sebab, jika sudah membaca tulisan itu, Anda akan tahu bahwa saya bukan Saksi Yehova, saya warga GKJ Salatiga
di tulisan itu (SIAPA TUHAN YANG ANDA SEMBAH?) maksud itu “pemahaman Kristen”….. juga sudah saya ungkapkan, maksudnya begini:
bagi orang Islam, kata “ALLAH” adalah khusus, tidak dapat diganti dengan kata apapun. Misal, syahadat mereka “Tidak ada Tuhan selain ALLAH”, tidak akan dapat diganti menjadi “Tidak ada Tuhan selain TUHAN”, apalagi diganti “Tidak ada Tuhan selain YAHWEH”
nah.. (sebagian besar) orang Kristen memahami Allah sebagai kata ganti Tuhan, kata ganti Yahweh, dan menganggap Allah=Tuhan=Gusti=Yahweh=Lord=Kurios=Adonai=Theos, dll.
jadi menurut saya, kata “Allah” itu pinjaman dari Arab, tetapi dimaknai sendiri oleh orang-orang Kristen, yang berbeda maknanya dengan pemaknaan oleh saudara-saudara Muslim.
Orang Islam di seluruh dunia akan menyatakan “My Lord is Allah” kenapa orang Kristen Indonesia menyebut Allah Bapa, tetapi orang Kriten di Inggris tidak menyebut Father Allah, artinya pemahaman bahwa kata “Allah” sebagai kata ganti Tuhan/Yahweh/Adonai/Lord/God/dll.., hanya monopoli orang Kristen di Indonesia / Malaysia, dan bukan pemahaman yang universal.
Tetapi jika kita (orang Kristen) dimanapun di seluruh dunia mengatakan “My Lord is YAHWEH”, itu akan dapat dipahami dengan baik, sama halnya orang Islam di negara manapun menyatakan “My Lord is Allah”
Beranikah Anda di Eropa/Amerika menyatakan “My Lord is Allah?” Nah… mengapa disini (Indonesia) Anda mengakui Tuhan Allah/Allah Bapa, tetapi tidak mengakui Lord Allah/Father Allah.
Pertanyaannya, apakah memang sudah benar orang-orang Kristen di Indonesia menyebut Allah Bapa/Tuhan Allah?
Nah…, sekarang mulai banyak yang menyadari bahwa kata-kata itu tidak tepat.
Kitab Suci yang baru terbitan Yayasan Lentera Bangsa yang cetakan pertamanya 20.000 eks, sudah habis, itu berarti “minat” orang Kristen di Indonesia untuk membaca Kitab Suci yang tidak menggunakan kata “Allah” patut diperhitungkan. Artinya “gerakan pemulihan nama Yahweh” ini mendapat respons positif dari berbagai kalangan, walaupun tentu ada juga yang menentangnya, yaitu orang-orang Kristen yang mempertahankan Allah.
Apakah selaku hamba Yahweh harus mempertahankan Allah? (kecuali mengaku sebagai hamba Allah)
Saya sebagai hamba Yahweh, sama sekali tidak keberatan meninggalkan kata Allah dari bahasa komunikasi saya (doa, nyanyian, dan iman) kepada Bapa Yahweh.
GK | Apr 2, 2008 | Reply
Oke, trima kasih buat penjelasannya.
Tuhan memberkati pelayanan anda.
Nahason P.d | Apr 2, 2008 | Reply
Sounds perfect to me. I have read this post with a great pleasure. You should write much more often.
skinnydog | Apr 7, 2008 | Reply
by GK: saya mau tunduk pada otoritas Firman Tuhan dalam Kitab Suci, maka saya menyembah Tuhan Yahweh, bukan Tuhan Allah.
Saya pikir di atas ada sedikit kekeliruan yang perlu diperbaiki. Kata Tuhan adalah sama dengan Yahweh dalam bahasa Ibraninya. jadi lebih tepat berkata “saya menyembah Elohim Yahweh” atau I do worship Yahweh Elohim/LORD God.”
Soal pemakaian kata Yahweh dalam kehidupan sehari-hari, nyanyian, doa dll:
Orang Israel pada masa Perjanjian Lama, memakai kata Yahweh dalam kehidupan sehari-hari. Daud dalam kitab Mazmur (artinya kidung pujian) dari 150 pasal terdapat 697 ayat memakai kata YAHWEH, dan 775 kata yang sama untuk seluruh kitab pujiannya, artinya dalam setiap pasal lagu-lagunya terdapat sedikitnya 4 kata YAHWEH. Mazmur 29 yg terdiri dari 11 ayat terdapat 18 kata YAWHEH.
Kata “Jangan menyebut nama Yahweh sembarangan” dimaksudkan jangan membuat sumpah palsu atas nama Yahweh. Dipengadilan orang bersumpah dengan tangan di atas Alkitab dan menyebut nama Yahweh, jika sumpahnya adalah suatu kesaksian dusta maka ia telah “menyebut nama Yahweh dengan sembarangan/sia-sia”
Jika seorang tersandung, atau sesuatu hal yang kecil terjadi tanpa sengaja/tidak diharapkan lalu menyebut nama-Nya itu bisa dikelompokan dalam “menyebut naman-Nya dengan sia-sia”
Pada kitab Nehemia pasal 8, kita bisa melihat bagaimana nabi Ezra dan imam-imam Lewi menghibur orang Israel yang menangis sedih dengan suara keras saat kitab Taurat dibacakan - mereka menangis sedih dan terharu: sedih karena betapa jauhnya mereka telah berpaling dari Elohim mereka, terharu karena karena mereka sadar bahwa hanya karena anugerah Yahweh semata mereka masih disisahkan, dan itu saat pertama kalinya mereka sama-sama membaca taurat Musa setelah kembali dari pembuangan dr Iran selama “70 tahun masa pembuangan” = 70×360 tahun.)- para pemimpin menghibur mereka dengan memakai kata YAHWEH
(7)”Lalu Ezra memuji YAHWEH”
(10)”Hari ini adalah kudus bagi YAHWEH Elohimmu. Jangan kamu berdukacita dan menangis!”, karena semua orang itu menangis ketika mendengar kalimat-kalimat Taurat itu.
(11)”YAHWEH itulah perlindunganmu!”
Singkat kata, Alkitab memberi tuntunan pada kita bahwa pemakaian nama-Nya, dipakai dalam pertemuan ibadah, puji-pujian pribadi dan kelompok, dalam persidangan (kasus rasul Paulus). Diantara saudara seiman kita bisa memakai kata yang dikuduskan ini, tentunya tetap dalam kontek hormat, dan pembicaraan kita kepada yang bukan saudara seiman, baiknya kita lebih berhati-hati di dalam pemakaian nama-Nya.
Soal orang Israel takut memakai nama-Nya:
Alkitab mencatat: mereka takut untuk YAHWEH bicara langsung kepada mereka, mereka minta Musa saja yg bicara. Mereka punya rasa takut YANG SALAH kepada Elohim. Sesungguhnya hati mereka jauh dari Elohim, kata YAHWEH melalui Yesaya dan Yeremia.
Ingatlah saat Yahshua mati di salib, dosa kita ditebus, tirai bait Elohim terkoyah. Tirai Pemisah antara kita (yang telah dibenarkan oleh kematian-Nya) dengan Bapa Surgawi telah ditiadakan! Masuklah menghadap DIA dengan penuh keberanian melalui Darah Domba Elohim!!
Di Amerika anak memanggil nama papanya tanpa merasa salah. Bapa dan anak bermain lebih akrab dibanding dengan kita yang memakai budaya timur.
Marilah kita pisahkan antara budaya dengan ajaran Firman Elohim, antara perasaan dengan kebenaran Firman-Nya. Di atas semua ini, adalah sikap hati kita terhadap DIA, Bapa Surgawi kita haruslah takut dan hormat.
Salam sejahtera dalam Yahshua Messias!
Anggur Baru | Apr 17, 2008 | Reply
@Anggur baru
Saya pikir di atas ada sedikit kekeliruan yang perlu diperbaiki. Kata Tuhan adalah sama dengan Yahweh dalam bahasa Ibraninya. jadi lebih tepat berkata “saya menyembah Elohim Yahweh” atau I do worship Yahweh Elohim/LORD God.
terima kasih atas ralat Anda. Memang lebih tepat pakai “Elohim”, tetapi karena Elohim masih belum terbiasa, sekarang masih “tidak apa-apa” pakai Tuhan. Elohim = sesembahan, Tuhan = sesembahan, jadi maknanya setara. Elohim/Tuhan sama-sama BUKAN NAMA, melainkan SEBUTAN/PREDIKAT. Di Kitab Suci KS-ILT, memang ditulis Elohim Yahweh.
Nanti, suatu saat, jika kata “ELOHIM” sudah masuk menjadi kata dalam bahasa Indonesia, mungkin kita semua akan terbiasa dengan kata “Elohim”
Sama halnya dengan nama Yahweh, kami yakin, makin banyak orang Kristen yang menerimanya.
terima kasih.
GK | Apr 18, 2008 | Reply
setelah saya menyadari bahwa nama Tuhan/Elohim kita adalah Yahweh(YHWH) yang sudah mengutus Yesus Kristus (Yahsua Hamasiah)kedalam dunia untuk menjadi juruslamat dan Tuhan, maka saya tidak lagi mau menyebut kata Allah dalam doa/nyanyian. Saya tidak menganggap orang Kristen yang masih memakai kata Allah adalah sesat, tetapi saya pikir mereka belum menyadari dan belum tahu.Doa saya semoga lebih bayak orang Kristen yang menyadari dan mengetahui siapa nama Tuhannya.
cqs | Nov 10, 2008 | Reply
Salom saudara2ku. Pembahasan ini, akan sgt merendahkan martabat ALLAH/YAHWEH. Cukup Dia sdh merendahkan dirinya sampai mati di atas kayu salib. Karena utk itulah maka Dia mau mati bagi semua bangsa,bahasa n makluk khususnya manusia. Mari skrg kita belajar sperti Yesus… Pikirkan strategi2 apa yg Roh Kudus mau berikan utk Gereja dan menjadi satu spy Jadikan semua bangsa muridNYA. Bukannya berselisih pendapat yg membawa kpd perpecahan tubuh Kristus. Sehingga meliaran jiwa bingung n jutaan jiwa mati tanpa Yesus setiap hari. Mereka sedang berteriak minta tolong, tp org Kristen ribut dgn pemahaman2 teologis dan mencari siapa yg benar dan siapa yg salah.. Apapun kata atau bahasa yg manusia pakai utk menyebut nama pencipta langit dan bumi yg punya hidup yg kekal ini, ini adalah bentuk cinta kasihNYA kpd smua ciptaanNYA. Mari kita bekerja keras karena waktu masih siang, selamatkan mereka yg terhilang ajarkan dan muridkan mereka sesuai dgn Firman Tuhan. Apakah dgn memakai Nama Yahweh atau Allah silahkan saja yg penting keselamatan hny ada di dlm Yesus. Marilah kita berlomba utk memenangkan jiwa bagi Tuhan, dan bukan utk memecahbelah bangsa, negara, umat dan secara khusus Tubuh Kristus.Biarlah segala kemuliaan hanya bagi Tuhan kita Yesus Kristus pencipta langit dan bumi, dan yang empunya surga utk anak2NYA dan yg tlh membuat neraka bagi mereka yg akan binasa. Kiranya Tuhan memberkati tapi juga membenarkan kita. Amin
Leonard Tfuakani | Feb 23, 2010 | Reply
@Leonard Tfuakani;
Kiranya Tuhan memberkati tapi juga membenarkan kita. Amin
Roma 10:10 Karena dengan hati orang percaya dan dibenarkan, dan dengan mulut orang mengaku dan diselamatkan.
siapa yang kita akui sebagai Bapa? Allah atau YHWH ?
GKmin | Feb 23, 2010 | Reply
Salam sejahtra dalam Tuhan Yesus…pada prinsipnya persoalannya bukan pd nama Yahweh dan bukan pd nama Allah. Bukan juga krn dgn memakai kata Yahweh atau Allah lalu kita merasa lebih benar,layak,kudus dsb, yg penting adalah bgm sikap hati, dan kasih kita kpd Tuhan dan sesama, kalau tdk maka kita bisa jatuh kpd penghakiman kpd orang lain, diri sendiri bahkan kpd Tuhan Allah/Yahweh. Ingat kita dibenarkan bukan krn kita yg menilai bahwa kita yang benar, tetapi Tuhanlah yg menilai apakah kita sebagai orang yang dibenarkan atau tdk, ingat tanggapan Yesus kpd org ya menganggap dirinya benar, lalu Dia berikan contoh kasus seorang Farisi dan pemungut cukai? (Lukas 18:9-14). Kita dibenarkan bukan krn siapa kita (Farisi atau penungut cukai), tetapi bgm sikap hati kita yg benar di hadapan Tuhan. Jadi semua orang,kaum, bangsa dan bahasa dapat dibenarkan Tuhan, karena Allah/Yahweh telah mengasihi kita. Oleh sebab itu sekalipun kita dpt berkata dgn smua bahasa manusi dan malaikat..tetapi kalau tdk memiliki kasih… (1 korintus 13). Setiap penyebutan kepada Sang penncipta langit dan bumi dalam bahasa apapun adalah syah..krn Tuhanlah yg punya semua bahasa dan Ia sangat mengerti semua bahasa dunia, dan Dia tahu isi hati semua orang. Manusialah yg terbatas dlm bahasa apalagi memahami hati manusia. Tuhan berkati kita. (tanggapan saya ini tdk u menghakimi siapa pun)
Leonard Tfuakani | Feb 26, 2010 | Reply
Saya sudah meninggalkan nama Allah dalam 2 tahun ini. Suatu perubahan yang luar biasa saya alami baik dalam aspek kuasa doa-doa maupun hikmat demi hikmat yang semakin menguatkan iman saya bahwa memang YAHWEH tidak sama dengan Allah.
Penyebutan nama Tuhan Khalik Langit dan Bumi secara benar sebagaimana telah dinyatakan dalam alkitab yang kita imani adalah AMAT SANGAT PENTING dan SUBSTANSIAL.
Membaca argumentasi LAI dan semua pihak yang mempertahankan penggunaan nama Allah menurut pengamatan saya adalah karena mereka tidak bisa membedakan antara apa itu “Nama Diri” dan apa itu “Sebutan atau Jabatan”.
Yons | Mar 23, 2010 | Reply